되돌리다 (Return) – Oneshoot

gsgsdfg

되돌리다

(Return)

Lee Donghae – Im Yoona

Romance | PG-15 |

They can’t ever return again although their heart still beating to each other.

May 2014

“…Lee Donghae.”

Lelaki itu membalikan badannya secara spontan ketika mendengar suara jernih barusan menyebut namanya. Suara yang sudah sekian lama tidak ia dengar, tidak lagi memanggil namanya, tidak lagi ada di hidupnya.

“Yoona?”

Gadis itu, Im Yoona, kini tampak berbeda dengan rambut hitam gelap dan lipstick merah terang. Ia mendengus pelan, rambutnya hitam gadis itu seakan-akan mengingatkan pertemuan pertama mereka, dimana pada saat itu ia masih seorang bocah laki-laki dari desa terpencil dan gadis itu masih seorang Im Yoona, gadis kecil yang polos dengan mata bulat besar dan rambut kering berwarna hitam. Namun, lipstick terang gadis itu kembali menyeretnya pada kenyataan, waktu tidak pernah berbohong, gadis kecil itu kini berubah menjadi seorang wanita.

“Kau mengembalikan warna rambutmu?”

Im Yoona tersenyum tipis. “Ya. Untuk album kami. Basa-basi yang buruk, Donghae.” Ia terkekeh lembut di akhir kalimatnya.

Lee Donghae tersenyum. “Pantas untukmu.”

Gadis itu hanya tersenyum menanggapi pujian barusan. “Apa latihan kalian sudah selesai?” tanya Im Yoona sembari melongokan kepalanya ke dalam ruang latihan dance dimana hanya tinggal Hyuk Jae dan Kyuhyun di dalam sana.

“Hai, Hyuk Jae. Hai, Kyuhyun,” sapa gadis itu dengan senyum khasnya, senyum lebar yang seakan-akan mencapai kedua ujung telinganya.

“Oh, Yoona? Hai! Lama tidak melihatmu.” Hyuk Jae bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati keduanya diikuti oleh Kyuhyun yang menyapa gadis itu dengan senyuman tipis.

“Ya. Lama tidak melihat kalian juga.” Gadis itu berbicara menggunakan bahasa informal dengan santai dan kenyataan itu membuat Lee Donghae tersenyum tipis. Tidak semua hal berubah, huh?

“Semenjak bulan Agustus, benar?” tegas Kyuhyun dengan senyuman tipis penuh makna miliknya. Makna yang tentu diketahui oleh keempatnya.

Bulan Agustus; bulan dimana keduanya mengakhiri semuanya.

Im Yoona mengangguk pelan dengan senyuman lemahnya sementara Lee Donghae tersenyum pahit.

Selanjutnya yang terdengar hanyalah tawa canggung Hyuk Jae. Ia kemudian memukul tengkuk Kyuhyun pelan, “Aih, apa yang baru saja Si Bodoh ini katakan? Haha.” Ia kembali tertawa canggung sebelum berdehem pelan, “Uh, kurasa kau datang kesini karena butuh sesuatu bukan, Yoona? Dan karena kau menemui Donghae, kurasa sesuatu itu berhubungan dengan dia, jadi kurasa kalian pasti butuh privasi…”

“Hyung, kau berbelit-belit. Intinya kami berdua akan menghilang sekarang juga, seperti angin. Woosh,” tegas Kyuhyun sambil mengedipkan sebelah matanya pada Yoona yang disambut gadis itu dengan tawa ringan.

“Magnae yang cerdas,” ucap gadis itu.

Kyuhyun hanya tersenyum tipis sebelum mengacak rambut gadis itu pelan dan tersenyum lembut. “Baiklah, kami berdua pergi. Jangan berbuat sesuatu yang bodoh, ruang latihan adalah tempat suci!”

Lee Donghae merasakan punggungnya ditepuk pelan oleh Hyuk Jae seiring dengan kedua lelaki itu melangkah menjauh dan dengan sudut matanya, ia dapat melihat Kyuhyun melemparkan senyuman pada Yoona sebelum menutup pintu.

Ah. Cho Kyuhyun masih menyayangi Yoona.

Dia tersenyum pahit ketika mengingat esok harinya setelah Im Yoona dan dirinya memutuskan untuk berpisah. Pada saat itu, Cho Kyuhyun hampir membunuhnya dengan memukulinya secara membabi buta. Ia dapat melihat kulit putih susu lelaki itu berubah merah karena emosi.

Aku melepasnya beberapa tahun lalu untukmu, Hyung. Karena aku menyayangi kalian berdua dan karena kau berjanji akan terus bersamanya. Tapi sekarang? Apa yang kau lakukan? Apa?

Kala itu ia hanya bisa terdiam dan menerima semua pukulan Kyuhyun. Ia tidak merasakan sakit, entah itu karena ia sudah mabuk oleh soju yang ia minum atau karena hatinya terasa jutaan kali lipat lebih sakit, ia tidak tahu.

Ya, Im Yoona adalah satu-satunya hal di dunia ini yang bisa membuat Lee Donghae, lelaki paling anti dengan alkohol, meminum soju, berbotol-botol. Im Yoona.

“Donghae?”

Suara gadis itu membuyarkan lamunannya. “Ya?”

“Bagaimana kabarmu?”

Ada dengusan geli di awal kalimatnya, “Basa-basi yang buruk, Yoona.”

“Tidak. Aku serius, Donghae. Bagaimana kabarmu?”

Buruk. “Aku baik-baik saja.”

Im Yoona tersenyum tipis. “Baguslah.”

“Bagaimana denganmu?”

Gadis itu terdiam sejenak. “Baik, tapi aku pernah lebih baik daripada saat ini.”

Lee Donghae terhenyak sejenak. “Maksudmu?”

Im Yoona hanya tersenyum penuh makna. “Kenapa kita tidak masuk ke dalam dan duduk di sofa? Kakiku mulai berteriak meminta tolong.”

Masih Yoona yang sama. Yoona yang pandai mengalihkan pembicaraan.

Lee Donghae berjalan lebih dulu masuk ke ruang latihannya dan berjalan ke arah sofa biru safir di sudut ruangan, Im Yoona mengikutinya dan mengambil tempat duduk di sebelah lelaki itu, tempat kesukaan keduanya, saling berdampingan dengan bahu yang bersentuhan.

“Bagaimana kabar Dara Unnie?”

Mendengar pertanyaan barusan, Lee Donghae merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sepersekian detik, ia terhenyak, “Apa kau pernah melihat dia tidak dalam keadaan baik?” Kata-katanya barusan seharusnya merupakan candaan yang bernada ceria, tapi ia tidak bisa membuatnya ceria dengan suara bergetarnya.

Im Yoona tersenyum tipis. “Dia pasti memperlakukanmu dengan baik bukan, Donghae? Apa dia menyuruhmu makan tepat waktu?”

Dia baik tapi aku merasa jauh lebih baik bersamamu. “Ya. Dia selalu mengingatkanku.”

“Apa dia datang ke tempatmu saat kau sakit tempo hari?”

“Dia juga memasakan bubur untukku.” Tapi dia tidak datang secepat kau, dia datang setelah jadwalnya selesai, tidak sepertimu.

“Dia tidak memberimu makanan pedas, bukan?”

“Dia selalu menyingkirkan saus dari makananku.” Tapi aku lebih menyukai saat kau mengejekku dan memaksaku memakan makanan pedas.

“Dia selalu mengingatkanmu untuk memakan vitamin dan meminum air putih, bukan?”

Tidak, Yoong. “Bahkan dia membawakannya untukku.”

“Kalau kau merindukannya, dia akan datang, bukan?”

“Selalu, meskipun dia sangat lelah.” Walaupun aku tidak pernah merindukannya melebihi rasa rinduku ketika bersamamu.

“Kau memperlakukan dia dengan baik bukan, Donghae?”

Aku berusaha, Yoong. Berusaha agar memperlakukannya sebaik aku memperlakukanmu dan jawabannya; Aku tidak bisa. Aku tidak bisa memperlakukan gadis manapun sepertimu. “Ya.”

“Tidak pernah mengatakan hal buruk atau berteriak padanya?”

“Tidak.” Dan aku menyesal untuk segala hal buruk juga teriakan untukmu ketika dulu kita bersama, Yoong.

“Kau mencintainya?”

Im Yoona tersenyum pahit. “Kau mencintainya?” ulangnya.

Tidak. “…Ya.”

Agustus 2013

“Yoong.”

“Ya, Hae?”

Im Yoona mengerutkan dahinya ketika lelaki yang duduk di sebelahnya, di sofa kesukaan mereka, tak mengatakan apapun. “Hae?”

“…Kita akhiri semua ini, Yoong.”

Gadis itu terdiam. “Hae?”

“Aku benar-benar bahagia ketika bersamamu, Yoong.”

“…Hae?”

“Tapi, aku sudah tidak bisa membohongi diriku lagi, Yoong. Tidak lagi. Aku bahagia, aku nyaman ketika bersamamu…dulu.”

Penekanan pada kata lampau di akhir kalimat lelaki itu membuat Im Yoona tercekat. “Hae, kenapa kau seperti ini? Apa ini candaan barumu? Hae?”

Donghae kemudian menatapnya dengan mata teduh itu, mata teduh yang selama ini membuatnya nyaman namun untuk pertama kalinya terlihat begitu menakutkan, begitu membebani dirinya.

“Apa ini tentang Dara Unnie?”

Untuk pertama kalinya dalam hari ini, Im Yoona melihat perubahan pada raut wajah lelaki itu. Ada sedikit kilat di dalam mata lelaki itu, seperti sebuah harapan di tengah kegelapan. Ia tahu, ia kini tahu, dia sudah bukan lagi gadis yang dapat menimbulkan kilat itu di mata seorang Lee Donghae.

“Aku…menyukai Sandara, Yoong.”

Dan, Im Yoona merasakan hatinya hancur, pecah, berserakan menjadi kepingan kala itu. Ia tanpa sadar menangis, air mata yang tak pernah mengalir di matanya selama beberapa tahun, kini mengalir dengan sendirinya.

“Maafkan aku, Yoong. Maafkan aku.” Lee Donghae menjulurkan kedua telapak tangannya, menghapus air mata gadis itu dengan lembut. “…Maaf.”

Sandara. Gadis yang akhir-akhir ini selalu menjadi pembicaraan di dorm mereka, gadis yang beberapa kali tanpa sengaja terlihat oleh kedelapan sahabatnya secara bergantian tengah bergandengan, bercanda, berbicara dengan Donghae akhir-akhir ini.

Napasnya tercekat di tengah tangisnya. Ia tidak meraung, berteriak, ia menangis dalam diam karena jauh di dalam hatinya, ia meraung, memaki, bahkan membunuh Lee Donghae di pikirannya.

Tapi tidak pada kenyataannya, hatinya berkata ia bahkan masih mencintai lelaki itu dan semua itu terbukti ketika ia merasakan dorongan yang sangat besar untuk memeluk lelaki itu di saat lelaki itu mulai ikut menangis bersamanya.

“Hae, tidak bisakah kita mencobanya lagi?” bisiknya begitu pelan. Ia mencengkram kedua pergelangan tangan lelaki itu yang masih berada di kedua sisi wajahnya.

Ia kini mulai ketakutan. Sungguh ketakutan ketika menatap mata teduh lelaki itu. Apa yang harus ia lakukan jika lelaki itu benar pergi? Bagaimana hari-harinya setalah itu? Tanpa mata teduh itu? Tanpa candaan kekanakan lelaki itu? Tanpa petikan gitar dan nyanyian lembut itu?

“Aku…aku akan berusaha lebih baik, Hae.”

Lee Donghae tampak memejamkan matanya penuh rasa sakit. Dia kemudian menarik kedua tangan Yoona dan menggenggamnya lembut seiring dengan mata teduhnya yang terbuka untuk menatap lurus ke arah gadis itu.

“Aku akan menjadi Dara Unnie. Aku akan berusaha menjadi ceria sepertinya, menjadi lebih dewasa sepertinya, aku akan berusaha, Hae. Aku akan tertawa sepertinya, tersenyum sepertinya, berjalan sepertinya, aku akan menjadi dia, Hae. Karena itu…kumohon, kumohon jangan pergi.”

Air mata gadis itu mengalir kembali dan bagi Lee Donghae, hal itu menghujam jantungnya.

“Yoong, aku…”

“Aku akan menjadi Dara Unnie, Hae.”

“Yoong, kita tidak bisa…”

Gadis itu menarik tangannya untuk menutupi kedua telinganya. “Aku tidak mau mendengarnya, Hae! Tidak!”

“Yoong…” Lee Donghae berusaha menarik lembut pergelangan tangan gadis itu. “Yoong, dengarkan aku…”

“Tidak!”

“Im Yoona!” Tanpa sadar lelaki itu menaikan nada suaranya, membentak gadis itu.

Sesaat Im Yoona tercekat dan menatap Lee Donghae dengan pandangan tidak percaya. “Hae…”

“Maafkan aku. Maafkan aku, Yoong. Kita tidak bisa meneruskan ini. Aku tidak bisa berbohohong lagi padamu juga pada perasaanku sendiri, Yoong.”

Im Yoona pada akhirnya menurunkan kedua tangannya dan menatap Lee Donghae dengan pandangan kosong.

“Maafkan aku…” Air mata Lee Donghae terlihat menetes turun. Lelaki itu juga merasa sakit, sama sepertinya.

Dan, Im Yoona terdiam. “Donghae…”

Lee Donghae tahu, ada yang hilang di dalam dirinya ketika memutuskan perpisahan ini, ia menganggap ini semua sebagai proses, karena bagaimanapun melepas gadis yang sudah ia kenal hampir separuh dari umurnya itu, pasti bukan hal yang mudah…ia tahu, ia tidak akan utuh lagi setelah ini.

“…Jangan memanggilku seperti itu, Yoong.”

“Yoona, Donghae. Yoona.”

Lelaki itu mengira semua tidak akan sesingkat ini. Ia mengira akan lebih banyak lagi air mata dan pertengkaran di antara mereka. Tapi, ia salah.

Im Yoona kini sudah duduk di depannya dengan tenang seakan-akan ia baru saja mengatakan mereka hanya akan berpisah selama beberapa hari untuk konser atau pergi ke luar negeri seperti biasanya.

“Kau boleh memukulku, memakiku, apapun itu, Yoona. Kau…”

“Aku hanya ingin kau pergi, Donghae. Aku ingin sendiri.”

“Yoong…”

“Yoona bukan Yoong, Donghae. Kumohon, pergilah.”

“Kau akan baik-baik saja? Berjanjilah kau akan baik-baik saja.”

Im Yoona hanya tersenyum tipis. “Aku Him Yoona, ingat? Kau yang memberikan panggilan itu padaku, Donghae.”

Dan malam itu diakhiri dengan Im Yoona yang menangis di ruang latihannya tanpa suara seorang diri lalu Lee Donghae yang duduk di luar, bersandar pada pintu ruangan mendengar setiap isakan gadis itu dari sana, menganggapnya sebagai hukuman yang luar biasa menyakitkan.

Ya, tangisan gadis itu adalah satu-satunya yang tidak akan pernah berubah, tangisan yang selalu membuat jantungnya teriris.

May 2014

“Kau mencintainya, Donghae?”

“…Ya.”

“Ah. Mendengarmu menyatakan cinta pada Dara Unnie masih terasa menyakitkan, kau tahu?” Im Yoona tertawa ringan di akhir kalimatnya.

Lee Donghae tetap mengatupkan bibirnya hingga membentuk sebuah garis lurus.

“Donghae, aku harus mengatakan sesuatu padamu. Kurasa meskipun hubungan kita sudah tidak ada lagi, aku merasa sebagai sebuah kewajiban untuk menceritakan ini padamu.”

Salah satu alis Donghae terangkat. “Kenapa tiba-tiba serius seperti ini? Hei, Yoona, aku sudah pernah bilang, bukan? Kau jelek saat serius, santailah.”

Im Yoona tersenyum tipis. “Lee Seung Gi memintaku menjadi kekasihnya.”

Lee Donghae merasakan sebuah panah menghantamnya. Sesuatu yang tidak tampak melukainya tepat di dadanya, terasa perih, sangat menyakitkan.

“Dan kurasa aku akan menerimanya.”

BAM.

Ah. Jadi seperti ini rasanya? Jadi seperti ini yang dirasakan Im Yoona kala itu?

“Apa dia baik padamu?”

Im Yoona terdiam sejenak. Ah, Lee Donghae sedang menirunya. Ia kemudian tersenyum tipis. “Ya.”

“Apa dia akan menelponmu untuk membangunkanmu di pagi hari di saat kau ada jadwal pagi dan tidak menyerah untuk tetap menelponmu meski kau susah dibangunkan?”

“Dia selalu melakukan itu bahkan dia mengucapkan hal-hal romantis untukku.” Meskipun aku justru lebih merindukan segala ucapan konyol dan candaan di pagi hari darimu.

“Apa dia tahu kau tidak suka memakan sayur?”

“Di saat kami makan bersama, dia akan memasankan makanan tanpa sayur untukku dan akan mengambil sayur di piringku.” Dia tidak memarahiku dan tidak mengkhawatirkanku kalau aku akan kekurangan vitamin, zat besi, atau apalah itu yang selalu kau ucapkan.

“Dia tidak akan membawamu keluar ketika udara dingin, bukan?”

“Seung Gi tahu aku lemah dengan dingin. Dia selalu membawa dua buah jaket, syal, dan mantel.” Kau tahu? Aku merindukan pelukan hangatmu di setiap udara dingin, Hae. Selalu.

“Kau mencintainya?”

Im Yoona terdiam sejenak sebelum ia tersenyum tipis. “Ya.”

Lee Donghae terdiam, ia sudah kehilangan kesempatan itu dari beberapa bulan lalu di saat ia membiarkan gadis itu menangis seorang diri, di saat ia mengatakan perpisahan.

Ia tahu ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengembalikan semuanya. Ia tidak bisa memutar waktu.

Ia kehilangan Im Yoona karena keegoisannya.

Dan ia terlambat untuk menyadari bahwa perasaan itu masih mengendap di hatinya, selalu ada di sana meskipun ia tidak menyadarinya. Cinta miliknya hanya untuk Im Yoona.

Hanya Im Yoona.

Meskipun, ia tidak akan pernah bisa kembali ke waktu dulu.

Ia tidak akan pernah bisa kembali.

*

“Kau mencintainya?” Lee Donghae bertanya padanya.

Ia terdiam.

Tidak, aku mencintaimu.

“…Ya.”

Im Yoona tahu ia berbohong.

Ia berbohong dengan sangat bodoh dan berbalik melukai hatinya karena ia tahu;

Ia tidak akan pernah bisa kembali.

Mereka tidak akan pernah bisa kembali meskipun cinta itu benar adanya.

Tidak untuk saat ini.

THE END

Oke. My YoonHae feel is hurting right now.

Bagaimana kabar kalian semua? Maaf untuk nggak pernah update. Chii sibuk menghadapi UN dan memasuki ujian masuk dan haruskah di tengah-tengah kesibukan itu ada badai menerpa (YoonGi and DaraHae).

No no no.

You can call me a delusional shipper, or something like that, I will still stay as Pyro.

YoonHae still my favorite. Mungkin mereka tidak bersama sekarang, tapi di masa depan? Who knows, kekeke.

Oh ya, kalian bisa dapat dengan jelas kan maksud terselubung FF ini? Kekeke.

My name is Chii and I’m a delusional YoonHae shipper. And, I don’t care of what other people says because I know the firework is still there, spark as bright and as loud as YoonHae.

P.S: MWL mungkin akan keluar minggu ini. Maaf untuk segala keterlambatan. Silahkan dibaca-baca ulang part sebelumnya kalau lupa, maafkan author tidak bertanggung jawab ini, chingu.

 

 

 

 

 

 

Iklan

38 pemikiran pada “되돌리다 (Return) – Oneshoot

  1. backsoundny time machine..ku rsa ckup buat ku makin nngis mlam ni,, gx ad lagi ksempatan untuk bersamakah? krena ini bukanlah ending dari ap yg terjadi.. suka ff nya..galau berat –“

  2. nyesssssss baget chii-nim~ hati ini kayak keiris-iris tipis. Sakitnya tuh kerasa banget sampe sini….. *nepok nepok jantung mode slow motion*
    Dan ini pertama kalinya gue baca ff YoonHae lagi semenjak kejadian(?) 1 Januari 2014. Ya betul sekali, dari berita Yoona-Seunggi pacaran :’) diriku ini nerima sih gue mah terima aja mereka pacaran gak apa-apa tapi dari situ jadi gak bisa baca fanfic YoonHae gak tau kenapa jadi gak bisa ngebayanginnya. /soriguemalahcurhat/

    chii-nim inget gue kan? gue lupa u/n gue dulu apa. Ini gue comment via twitter. Kapan chii-nim update MWL chap. 16? Gue nungguuuuuuuuu banget loh
    SEMANGEEEEEEEETTTT!!!!!!

  3. chii…kpn nih mwl.nya d pos…udah bolak balik di blog ini buat ngecek tu ff..tp blm d pos jga…
    d tnggu ya…

  4. Sama kayak author aku jg akan selalu jd pyro, hehehehe
    Nyesek bgt baca ff ini, aku harap MWLnya bisa happu ending 😀
    Ditunggu ff author yg lainnya, fighting!!^^

Satu Komentar = Satu Langkah Mendekati BIAS~♥♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s