Someday (Oneshoot)

Someday

Someday

Lee Donghae – Im Yoona

Angst, Romance | PG-17 | Oneshoot

*

Someday…

I’ll leave you

I’ll forget you…

*

2013

Hujan kembali turun untuk kesekian kalinya di awal bulan Oktober ini. Dan di sana, di tengah-tengah rimbunan titik air yang terjatuh dari langit, gadis itu menatap langit kelabu di atas kepalanya dengan pandangan kosong. Ia menatapnya tanpa merasakan dingin yang dapat membekukan tulang-tulangnya.

“Yoona!”

Ia bahkan tidak berbalik ketika suara berat itu memanggilnya.

…Meskipun ia menginginkannya, menginginkan untuk menatap mata teduh itu, menginginkan untuk menghampiri lelaki itu, menginginkan untuk mendapatkan senyuman itu.

Tapi, ia hanya terlalu lelah. Sangat amat lelah.

“Yoona!”

Mata rusanya terpejam untuk beberapa detik. Hujan masih menyerang puncak kepalanya dengan beringas, meninggalkan rasa sakit di kepalanya…tapi, ia hanya tidak peduli.

Karena, ada rasa sakit yang lebih dalam di tubuhnya. Rasa sakit yang jauh lebih menyakitkan dan tak mungkin bisa disembuhkan dengan obat seperti halnya sakit kepala atau flu yang mungkin akan ia dapatkan.

Ada di dalam hatinya. Rasa sakit yang panas dan mencabik tubuhnya tak keruan.

Dan, kelopak matanya kembali terbuka ketika namanya dipanggil untuk ketiga kalinya oleh lelaki itu. Dengan pandangan lemah, ia menatap bagaimana lelaki itu melebarkan payung yang dibawanya tepat di atas kepala keduanya, membelai rambutnya lembut, dan meletakan jaket milik lelaki itu yang kebesaran di pundaknya.

Ia menatap bagaimana lelaki itu tersenyum ketika menyadari dirinya tengah memperhatikan setiap inchi pergerakan lelaki itu.

…Ia pun tak sanggup untuk tak membalasnya dengan sebuah senyuman.

Lelaki itu kemudian merangkul lembut pundaknya dan membawanya berjalan menembus hujan, dengan payung di atas kepala keduanya.

Dan, ia tak pernah merasakan udara hujan sehangat ketika itu. Ia tak pernah merasakan detik-detik hidupnya yang penuh masalah berjalan dengan sangat benar dan semua selalu terasa benar ketika ia bersama dengan lelaki ini.

Cinta memang gila, huh?

…Sedikit saja. Sedikit saja. Ia pasti masih bisa bertahan sedikit lagi.

Sebentar saja. Hanya sebentar. Ia pasti bisa menahannya.

Saat itu tak ada yang tahu bagaimana air matanya telah mengalir dan dikaburkan oleh tetes hujan yang mengalir dari rambut basahnya, dia menangis—karena ia adalah satu-satunya yang paling mengetahui dengan pasti kenyataan di depannya. Kenyataan yang tak bisa dipungkiri dan diubah—meskipun dengan cinta yang ia junjung.

*

Namanya Lee Donghae. Dia tampan, dia penari yang baik, dia kaya, dia mempesona—dan, dia membuat seorang Im Yoona jatuh cinta padanya.

Tapi, dia pria yang jahat.

…Jahat dan picik.

2010

Bagaimana dengan menjadi teman lalu—sahabat, mungkin?

Tiga tahun lalu, mereka bertemu dalam sebuah kencan kelompok dan mereka berpasangan. Semua berjalan lancar hingga berakhir pada sebuah kamar hotel bintang lima di tengah kota.

Pada pagi harinya—Tidak, tidak ada teriakan histeris atau raungan atau apapun itu, semua berjalan dengan baik. Im Yoona dan Lee Donghae—keduanya baik.

…Tapi, bukan berarti mereka menjadi kekasih.

Teman tidur? Pemuas hasrat? Apapun itu, mereka adalah semuanya—kecuali kekasih.

Dalam beberapa bulan, mereka terus bertemu. Makan malam, berkeliling kota, dan berakhir di hotel menjadi rutinitas biasa bagi keduanya. Saat itu semua terasa benar, bahkan ketika Im Yoona tak sengaja bertemu Lee Donghae tengah berciuman di tengah publik dengan beberapa wanita berbeda pun bukan sebuah masalah besar, ataupun ketika Lee Donghae bertemu Im Yoona yang tengah berjalan berangkulan dengan seorang pria pun tak perlu dibesar-besarkan dan dibawa ketika mereka bertemu—lagi pula apa yang mereka harapkan? Mereka bahkan bukan kekasih.

Bagi Lee Donghae, tidur bersama dengan wanita adalah sebuah kebiasaan, lalu untuk apa memperdebatkan masalah kecil seperti itu?

Dan bagi Im Yoona, lelaki itu bukanlah siapa-siapa, hanya seorang pria asing yang sering ia temui dan habiskan malam bersama dan setelah itu? Ya, layaknya sebuah kontrak, setelah mereka berpisah di pagi atau siang harinya—maka mereka benar-benar menjadi sepasang orang asing, bukan siapa-siapa.

Interaksi mereka hanya berbeda ketika mereka bertemu. Mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan di usia dewasa mereka, sebuah perasaan polos dan suci remaja. Sebuah kebebasan yang sulit didapatkan, juga kenyamanan di antara semua tekanan yang mereka dapatkan.

Lupakan tentang malam yang selalu mereka habiskan bersama. Lupakan tentang semua nafsu yang mereka miliki. Maka mereka hanya akan mendapati sosok anak kecil di dalam diri mereka yang saling bercanda dan tertawa tanpa memikirkan umur serta sosial.

Tapi waktu berubah, manusia berubah, semua berubah dengan perlahan namun pasti.

Hingga pada akhirnya, berangsur-angsur mereka menjadi jarang bertemu, nomor keduanya di ponsel masing-masing pun berada di daftar terakhir dalam kontak, keduanya terlalu sibuk hingga saling melupakan.

Mereka menjalani hidup mereka seperti biasa, kembali seperti dahulu. Walaupun terkadang mungkin mereka merindukan sesuatu yang hanya bisa mereka dapatkan ketika mereka bersama—tentu bukan tentang menghabiskan malam bersama—saat itulah, mereka menyadari tentang betapa tipisnya tali penghubung di antara keduanya.

Apa yang harus mereka katakan?

Bisa kita bertemu?

Untuk apa mereka bertemu? Tentu saja tidak ada alasan yang dapat mereka berikan kecuali untuk satu hal yang selalu mereka dapatkan ketika mereka bertemu—sex? Benar.

Bukankah hanya itu alasan untuk mereka dapat bertemu? Demi Tuhan, mereka bahkan bukan seorang kekasih. Mereka hanya teman dan mungkin saja mereka adalah orang asing saat ini. Dan untuk menghubungi lalu mengajak bertemu? Jangan bercanda.

Semua kemudian berangsur-angsur terlupakan. Kurang lebih enam bulan mereka bersama—bukan sebagai kekasih—dan hanya butuh waktu dua bulan untuk melupakan semua itu.

Menyedihkan, huh?

Saat itulah Tuhan kembali mengikat tali tipis penghubung keduanya. Di tempat yang sama, acara yang sama—mereka kembali bertemu setelah tepat tujuh bulan keduanya kehilangan kontak. Hanya saja, ada satu hal berbeda di sini—mereka tidak berpasangan. Mereka hanya mengantarkan beberapa rekan kerja dan sedikit menghibur diri setelah penat bekerja.

Mereka memiliki pasangan masing-masing dengan jari manis keduanya yang kini sama-sama telah dilingkari oleh cincin sederhana dengan motif yang hampir sama.

Mungkin, mereka bisa mengatakan bahwa kemiripan cincin mereka adalah sebuah takdir—jika mereka tidak sedang bersama pasangan mereka masing-masing yang mengenakan cincin pasangan dari milik mereka.

Im Yoona dengan Xi Luhan, salah satu lelaki pilihan ayahnya yang dijodohkan dengannya.

…Lalu, Lee Donghae yang kini tengah merangkul seorang wanita tinggi dengan mata indah, Song Qian.

Dan—saat itulah, Im Yoona merasakan bagaimana perutnya panas dan jantungnya terasa tercabik.

Malam itu, berkat nomor ponsel yang tak pernah mereka ganti, mereka kembali bertemu, tanpa Xi Luhan atau Song Qian, tentunya. Berbagi sedikit cerita mengenai perjodohan milik si gadis dan mengenai Song Qian, teman masa kecil Lee Donghae yang dirasakan lelaki itu sebagai satu-satunya.

Im Yoona tak bisa menahan senyuman masamnya di saat Lee Donghae menatapnya dengan teduh ketika menceritakan Song Qian dan ia bahkan tak bisa mengucapkan ucapan selamat kembali kepada Lee Donghae ketika lelaki itu mengucapkan selamat padanya untuk pertunangannya.

Sedetik saja lagi, mungkin air matanya akan tumpah. Mungkin, ia akan meraung dan memohon pada Donghae untuk membawanya pergi atau apapun itu.

Pertemuan malam itu kemudian diakhiri ketika ponsel terus berbunyi dan pada akhirnya ia mengangkatnya hanya untuk mendapatkan Xi Luhan memarahinya untuk berada di luar rumah pada tengah malam.

Satu hal yang selalu ia sukai dari Luhan, lelaki itu tak pernah terlalu dalam mencampuri urusannya, Xi Luhan selalu berada di teritorinya untuk sekedar menjaganya dan melindunginya namun lelaki itu juga tahu diri untuk tidak terlalu menyerangnya dengan ribuan pertanyaan seperti dimana dirinya atau dengan siapa atau kapan ia akan pulang dan ia merasa, ia harus sangat berterima kasih untuk hal itu.

Mungkin tidak semua perjodohan buruk, mungkin ia termasuk salah satu dari sedikit yang beruntung—dan mungkin, Xi Luhan adalah satu-satunya untuknya meskipun ia tidak mencintainya? Karena baginya, cinta dan orang yang ditakdirkan adalah hal yang berbeda—seseorang yang ia cintai bukan berarti adalah takdirnya, dan pasangan hidupnya yang ditakdirkan untuknya—Xi Luhan, mungkin?—bisa saja bukan orang yang ia cintai.

…Dan mungkin hal itu memang benar—karena ia mencintai pria lain.

Aih, sudah sejauh ini dan dia baru menyadarinya?

…Ia selalu merindukan sesuatu yang ia sendiri tak tahu entah apa—dan kini ia tahu. Ia jatuh cinta—pada Lee Donghae.

“Kurasa aku harus kembali atau Lu akan mengamuk.” Ia menghabiskan sisa bir di gelasnya dan tersenyum tipis.

Lee Donghae membalas senyumannya. “Bisa kita bertemu di lain hari?”

Ia mengangkat salah satu alisnya. “Untuk apa?”

Mata teduh lelaki itu kemudian kehilangan cahayanya. “Tidak apa. Hanya saja—bagaimana dengan menjadi teman lalu—sahabat, mungkin?”

Dan, Im Yoona melukis sebuah senyuman di wajahnya. “Lalu, melupakan segala masa lalu kita?” Ia tak tahu mengapa, tapi mengucapkan kata kita di akhir kalimatnya barusan terasa begitu benar—seakan, dunia ini adalah milik mereka, seakan semua cerita indah adalah milik mereka.

“Tidak ada yang perlu dilupakan.”

“Hem?”

“Aku tidak ingin melupakannya.”

Im Yoona terdiam. “Maksudku, Song Qian—”

“Dia tidak tahu apa-apa dan tidak akan pernah tahu. Aku hanya ingin kita berdua yang tahu—sejarah kita, masa lalu kita, tanpa Song Qian, tanpa Xi Luhan, hanya kita, Yoona.”

Tuhan, betapa piciknya lelaki ini? Dan ketika ia berusaha untuk menghilangkan rasa cintanya mengapa lelaki itu harus berkata manis? Mengapa harus membuatnya semakin terjatuh lebih dalam?

“Tapi, Donghae…untuk apa—?”

Kemudian, Lee Donghae menciumnya, dengan kasar namun lembut, dengan segala kenyamanan namun juga paksaan—dan semua berakhir dengan keduanya terbangun di dalam pelukan masing-masing, berbagi ciuman manis di pagi hari sebelum kembali tertidur hingga siang setelah sarapan pagi.

Im Yoona merasakan hangat pelukan itu dan menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang Lee Donghae, merasakan aroma manis mint yang bercampur dengan kayu manis dan tersenyum tipis.

“Kita sekarang teman, bukan?” Suaranya saat itu terdengar bagaikan dengungan.

Namun, Donghae hanya membalasnya dengan anggukan sehingga dagu lelaki itu berkali-kali menabrak lembut puncak kepalanya.

Saat itu hanya ada keheningan di sana, meninggalkan Lee Donghae yang memejamkan matanya dan Im Yoona yang mengeratkan pelukannya pada lelaki itu. Hingga beberapa detik kemudian, suasana itu pecah oleh sesenggukan berat milik Im Yoona.

Tangis yang tak habis hingga satu setengah jam kemudian.

Tanpa ada penenangan dari Donghae yang tetap membisu. Lelaki itu tentu tahu alasan dibalik tangis Yoona. Ia tahu dengan benar hingga membuatnya sesak.

Ia tanpa sengaja menatap cincin di jari manisnya dan kemudian mata teduhnya menggelap. Sebuah cincin pernikahan yang kemarin ia lihat masih bersinar terang dan kini terasa begitu meredup—dan semua itu karena apa? Karena ia menemukan Im Yoona. Di saat yang tidak tepat dan di waktu yang telah terlambat.

Sedikit yang Im Yoona tahu, bahwa saat itu Lee Donghae juga menangis, meraung di dalam hatinya—mereka menangis bersama hingga sore hari datang. Tanpa menyadari bahwa puluhan pesan dan telepon telah memenuhi ponsel keduanya.

Dan—rahasia kecil mereka kembali bertambah.

March – 2013

Kini, Im Yoona berdiri di hadapannya. Dengan gaun pengantin yang menjuntai hingga lantai, rambut digelung tinggi dengan hiasan tiara di puncak rambut coklatnya, dan tudung pengantin yang berwarna putih gading senada dengan warna gaunnya.

Pengantin tercantik yang pernah ada—itulah dia bagi Lee Donghae.

Song Qian ada di sebelahnya dan melingkarkan tangannya di lengan atasnya tapi ketika ia memejamkan mata di saat Im Yoona berjalan menuju altar, ia bisa merasakan ruhnya tercabut dan seakan menggantikan posisi Xi Luhan di samping pendeta—mengucapkan janji suci dan mencium Im Yoona lembut, kemudian beputar dan membungkuk hormat pada para tamu.

“Hai.” Xi Luhan menghampirinya, tersenyum padanya dan menepuk bahunya pelan. Entah sejak kapan, namun mereka berdua menjadi dekat, untuk alasan-alasan tertentu mereka menjadi sangat cocok.

Ia hanya mengangkat gelas punch-nya dan menyeringai lembut. “Selamat.”

Xi Luhan tersenyum lebar.

Melebihi siapapun, Lee Donghae tahu, Xi Luhan adalah satu-satunya pria yang pantas untuk Im Yoona. Lelaki itu mencintai Im Yoona meskipun belum menyadarinya tapi ia tahu, itu adalah sebuah cinta paling tulus yang bisa seorang lelaki berikan—dan ia tahu, ia telah kalah dalam segalanya oleh Xi Luhan.

Di saat ia merasakan kehadiran Im Yoona di antara mereka. Ia memundurkan langkahnya sejenak sebelum berdehem ringan dan dengan senyuman yang terasa pedih, “Selamat, Yoona.”

Dan—Im Yoona hanya mengangguk tipis.

“Aku akan memberikan dansa pertama pada kalian berdua.” Xi Luhan tersenyum tipis dan merangkul pundak Im Yoona sebelum mendaratkan ciuman ringan di bibir gadis itu. “Kau dan sahabat terbaikmu, silahkan.”

Lee Donghae memejamkan matanya frustrasi ketika Xi Luhan kemudian berlalu pergi ke arah panggung utama untuk memberitahukan kepada pembawa acara mengenai dansa keduanya. “Sahabat yang selalu membantu gadisku, sahabat yang selalu menjaganya ketika aku tak di sana, seseorang yang terpenting untuk gadisku—bahkan melebihi aku, kurasa.” Sebuah tawa ringan dari para tamu kemudian terdengar. Im Yoona bisa merasakan jantungnya berdebar begitu menyakitkan, mungkin bagi orang-orang perkataan itu adalah lelucon, tapi demi Tuhan, tidak dengannya—karena itulah kenyataannya, ia mencintai Donghae hingga saat ini, di detik pernikahannya ini. 

“Lee Donghae. Terima kasih.” Xi Luhan menepuk tangannya beberapa kali sebelum suara musik lembut memenuhi aula itu.

Dia tidak punya pilihan, bukan? 

“Mari, Nona Pengantin?” Ia menjulurkan tangannya dan menyeringai lembut.

Im Yoona sejenak terdiam, hingga kemudian menyambutnya dan tersenyum masam.

…Mungkin, saat itu hanya dirinya, Tuhan, dan lelaki itu sendiri yang tahu—bahwa keduanya sudah tak pernah bertemu semenjak kejadian malam itu, malam terakhir mereka bersama hingga berakhir pada keduanya berpisah di sore hari, tanpa tangis meraung sebab air mata mereka telah habis—dan mereka tak bisa lagi meneruskan dosa-dosa mereka.

Namun hari ini, karena Xi Luhan yang masih terus berhubungan dengan Donghae (dan harus terus membuat Im Yoona berkali-kali berbohong untuk menolak ajakan lelaki itu agar ketiganya berkumpul bersama), lelaki itu mempertemukan keduanya kembali.

Dan—di saat Im Yoona menatap mata teduh itu, ia tahu, cinta itu tak pernah berkurang dan justru semakin meluap kemudian meluber perlahan ketika keduanya begitu dekat.

Kenyataan bahwa Im Yoona berdansa dengan memakai gaun pengantinnya dan Lee Donghae yang mengamit pinggangnya kini tengah mengenakan jas terbaiknya, menghangatkan perasaan gadis itu—Hei, bukankah keduanya tampak sangat berbahagia seakan ini adalah pernikahan mereka?

Ya. Semua itu mungkin saja tidak mustahil—jika mereka bertemu di waktu yang tepat dan tidak terlambat.

Saat itulah, titik balik semuanya—ketika lagu dansa berhenti dan Lee Donghae kembali menyerahkan sang pengantin wanita kepada si pemiliknya, maka saat itulah adalah saat yang tepat bagi Im Yoona untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalunya, pada Si Picik Lee Donghae yang selalu menjeratnya…

Meskipun ia tahu, rasa cinta itu tak akan pernah usang…

*

October – 2013

Dia kembali.

Mungkin, perpisahan 3 bulan bukanlah sebuah masalah besar untuk Im Yoona yang telah membiasakan dirinya selama bertahun-tahun tanpa kehadiran lelaki itu—tapi ada satu catatan kecil di sana; mungkin dia bisa bertahan tanpa Lee Donghae, tapi ia tak akan bisa menahan perasaan cintanya yang meluber ketika kembali menemukan mata teduh itu ada di hadapannya—lelaki itu selalu memegang kendali hati bodohnya.

Dan satu-satunya kata yang keluar dari bibir Lee Donghae ketika ia membuka pintu rumahnya dan menemukan lelaki itu di sana adalah;

Kabur bersamaku, Im Yoona

Saat itu, ia masih mengenakan piyama di balik celemek merah mudanya sedangkan Xi Luhan masih tertidur di lantai atas. Jadi, yang bisa ia lakukan hanyalah berkedip untuk sekian detik sebelum ia mengerutkan dahinya.

Namun, Lee Donghae selalu menang atas dirinya, bahkan hanya dengan sebuah genggaman kecil di tangannya, ia sudah hanyut dan terlarut oleh lelaki itu.

Ia kemudian tersenyum tipis, “Baiklah.”

Donghae hanya tersenyum dan menyeret tubuhnya perlahan.

“Oh. Dan, Donghae—aku bukan Im Yoona, aku Lu Yoona sekarang.” Dan—itu adalah sebuah penegasan kecil yang membuat Lee Donghae menelan ludahnya pahit.

“Aku tahu, Yoona. Aku tahu.”

Kemudian, tak ada suara apapun lagi dari bibir keduanya—mereka diam tapi sama sekali tak menikmati perjalanan di dalam mobil Donghae. Itu bukan lagi sebuah keheningan menyenangkan.

                Waktu berubah—semua berubah. Apalagi yang mereka harapkan, huh?

Mobil mereka berhenti di sebuah villa kecil di pinggir sebuah danau dan bagi Yoona, sekeliling mereka sama sekali  tak menunjukan adanya hawa perkotaan Seoul, mereka benar-benar berada di distrik kecil pinggiran kota—dia bisa menebaknya dari udara sejuk yang ia rasakan.

Gadis itu menatap jam yang selalu melekat di pergelangan tangannya dan Donghae tersenyum ketika menatap benda itu, itu pemberian darinya—hadiah darinya ketika gadis itu mendapat kenaikan pangkat beberapa tahun lalu.

12 jam penuh mereka sudah berada di dalam mobil itu dan bukan lagi sebuah hal mengejutkan jika selanjutnya Lee Donghae mengatakan pada dirinya bahwa mereka bahkan bukan lagi berada di pinggiran Seoul dan justru berada di desa kecil terpencil di Korea.

Ia menatap lingkaran hitam di bawah mata teduh lelaki itu dan menyentuhnya perlahan, seiring dengan itu Lee Donghae menangkupkan telapak tangannya di atas tangan mungilnya dan memejamkan mata.

“Kau sama sekali tidak tidur dan terus menyetir, Hae.”

Lelaki itu hanya menggumam kecil dan mengangguk.

Im Yoona kemudian menghela napasnya pelan. “Dimana kuncinya?”

Dalam sekali gerakan cepat, Lee Donghae membuka matanya dan menatap mata rusa gadis itu, secercah kilatan jahil muncul di dalam matanya, “Kunci apa? Kau kira aku mengajakmu ke villa ini?”

Salah satu alis mata Im Yoona terangkat. “Maksudmu?”

“Jangan kecewa, tapi itu bukan villaku, mungkin milik warga desa ini. Aku hanya menumpang untuk memarkirkan mobilku, agar aku bisa tidur di dalam mobil.”

Dan Im Yoona yakin, wajahnya sudah benar-benar memasang ekspresi terbodohnya. “Apa yang kau—? Lee Donghae! Kau membawaku ke sini dan hanya…Aih, Lee Donghae!”

Lee Donghae hanya menyeringai tipis dan mengikuti langkah Yoona yang telah kembali menuju ke arah mobilnya. Dengan sebuah dengusan geli, ia kemudian menggoyangkan sebuah kunci dengan gantungan tali tipis tepat di depan wajah gadis itu. “Aku hanya bercanda.”

Im Yoona kemudian berhenti bergerak. “Aku membencimu.”

Donghae pun hanya tertawa mendengarnya, ia tidak tahu bahwa Im Yoona mengatakannya tanpa ada maksud bercanda sama sekali, karena itulah kenyataannya, Im Yoona membencinya, sangat.

*

Seminggu? Atau sebulan? Atau bahkan lebih?

Baiklah. Dia tak tahu lagi.

Semua berjalan sangat cepat. Dia dan Donghae seperti membaur di dalam pedesaan ini, ia pun sama sekali tak mempermasalahkan dimana atau untuk apa dia di sini, karena ia nyaman—jadi, apalagi yang ia butuhkan?

Mungkin awalnya dia memang berpikir bahwa Donghae hanya membutuhkan tubuhnya; Tidak, itu salah. Bahkan lelaki itu tak menyentuhnya seutas rambut pun, lelaki itu lebih memilih untuk tidur di sofa keras di ruang tamu daripada berbaring dengan nyaman di sampingnya di atas tempat tidur.

Waktu-waktu mereka hanya dihabiskan dengan duduk bersampingan di sofa atau terkadang bergulung di karpet bulu ruang tamu untuk menonton televisi setelah membersihkan villa berkamar tiga yang hanya satu kamarnya yang bisa ditempati karena sisanya lebih menyerupai gudang kemudian dilanjutkan dengan sarapan; ia mulai terbiasa dengan hanya memakan sepotong roti bakar di pagi harinya setelah selama ini, Luhan selalu memasakannya nasi goreng atau pun sup di pagi hari.

“Luhan?”

Ah, sepertinya ia tanpa sengaja mengatakan pikirannya barusan. Dia hanya berdehem singkat, tak menjawab, lebih kepada karena ia tak tahu harus menjawab apa.

“Kau ingin pulang, Yoona?”

Dan keheningan tak nyaman itu kembali singgah di antara mereka. Cepat atau lambat, mereka tahu pasti, bahwa akan ada saatnya untuk kembali, ke kota besar tempat mereka bekerja dan kembali ke sisi seseorang yang memiliki cincin yang sama dengan milik mereka.

Namun, bukan sekarang. Bukan. “Tidak. Aku hanya melantur, Donghae.”

Lee Donghae kemudian mendengus geli. Dengan salah satu tangannya, ia kemudian mematikan televisi di depan mereka, “Kau tahu sudah berapa lama kita di sini?”

Setelah menghela napas pendek, Im Yoona menggeleng.

“Empat minggu—29 hari, Yoona.”

Karena tak mendapatkan reaksi apapun dari gadis di depannya, ia kembali membuka bibirnya untuk berbicara, “Kau terlalu baik, Yoona. Kau bahkan tidak bertanya kenapa aku membawamu kemari.”

Im Yoona mengerjapkan matanya. “Kenapa?” tanyanya lurus.

“Song Qian,”

Dan Im Yoona sangat yakin ia mendengar bagaimana hatinya terasa jatuh dan pecah berantakan ketika nama itu disebut. Saat itu, ia kembali teringat pada alasan mengapa ia membenci Lee Donghae.

“Kami bertengkar.”

Kemudian, Yoona hanya bisa terpaku saat untaian cerita demi cerita menyusul keluar dari bibir Donghae. Mengenai pertengkaran mereka, mengenai keputusannya untuk membawa pergi dirinya ke villa ini tepat sehari setelah ia dan Song Qian bertengkar.

Im Yoona pun hanya tersenyum miris, tak lagi mendengarkan setiap kata dari bibir lelaki itu.

Bahkan sampai saat ini pun, hanya dia dan tetap dia, benar?

Song Qian. Song Qian. Song Qian.

Gadis itu dapat mendengar setiap bisikan yang keluar dari bibir Lee Donghae ketika tertidur pulas. Ketika Donghae berbicara dalam tidur adalah kebiasaan yang menurutnya manis tapi juga miris di saat-saat tertentu; di saat lelaki itu hanya menceritakan seseorang; Song Qian.

Menceritakan bagaimana mereka menghabiskan hari sebelum lelaki itu bertemu dengannya, mengatakan seberapa besar rasa cintanya pada gadis itu, semuanya—semua yang tak ingin ia dengar.

Bahkan di hari pertama mereka bertemu pun tak lepas dari andil seorang gadis asing bernama Song Qian; Bahkan dari awal pertemuan mereka pun, Im Yoona hanyalah seorang bayangan dari Song Qian; Ketika itu, ia dapat dengan jelas mendengar cerita di dalam tidur Donghae, mengenai gadisnya yang sedang marah padanya dan membuatnya frustrasi—Song Qian, Song Qian, dan Song Qian.

Dan, ketika seorang lelaki sampai mengigaukan seorang gadis di dalam tidurnya; maka itu adalah perasaan cinta terbesar yang bisa diberikan seorang lelaki pada wanita.

Ia pun membenci Lee Donghae karena itu.

Ketika waktu semakin berubah dan tali tipis penghubung di antara mereka mulai semakin dan semakin menipis, Im Yoona tahu itu adalah saatnya ia melepaskan semuanya, berhenti menghubungi lelaki itu untuk memulai hidupnya kembali—tanpa ia sadari bahwa ia mencintai Lee Donghae.

Di saat itulah, Xi Luhan masuk ke dalam hidup kecilnya.

Tapi, ia tahu rasa benci itu masih tetap ada di dasar hatinya, ia hanya menguburnya—bukan membuangnya.

Dan, mereka kembali bertemu. Saat itulah, untuk pertama kalinya Im Yoona menatap seorang gadis asing yang terasa begitu familiar untuknya, Song Qian.

Tubuh tinggi, kulit putih bagai boneka, struktur wajah mungil dengan kedua mata bulat bening, hidung mancung, dan bibir tipis serta tulang pipi yang tinggi, suara gadis itu terdengar kekanakan ketika memperkenalkan salah satu rekan kerjanya yang akan dikenalkan dengan rekan kerja Yoona—saat itulah, Im Yoona tahu rasa bencinya pada Donghae bertambah, karena lelaki itu telah membuatnya jatuh cinta begitu dalam hingga terlalu menyesakan ketika menemukan Lee Donghae kini telah bersama dengan seseorang lain yang telah mengikat janji suci dengannya, Song Qian.

Lee Donghae adalah lelaki yang jahat dan picik. Gadis itu tahu benar bagaimana Donghae mengetahui perasaan sebenarnya dan ia pun dengan bodohnya membiarkan dirinya dipermainkan oleh lelaki itu.

*

Untuk pertama kalinya semenjak mereka meninggalkan kota, Donghae mengajaknya menuju satu pantai di sudut desa itu. Bau garam dan gemerisik pasir yang bernyanyi di sela-sela jari Im Yoona terasa menggelitik namun nyaman.

Hingga beberapa menit kemudian, langit menurunkan hujannya, membuat ombak tak lagi tenang dan seakan-akan hendak menghantam daratan. Namun, Im Yoona masih berdiri di sana, menatap langit gelap.

Memikirkan segalanya, pertemuan mereka, hari-hari yang telah mereka lalui, hal-hal yang telah mereka lewatkan, dan rasa cinta gilanya.

Ia lalu menangis di tengah rimbunan hujan, menangis dan menangis. Mengasihani dirinya sendiri.

“Yoona!”

Tapi, ia tak bergeming.

“Yoona!”

Ia masih menangis.

“…Yoona?”

Dan lelaki itu kembali masuk ke dalam pandangannya. Lelaki yang sangat ia cintai melebihi apapun yang ada di dunia ini, lelaki yang bisa membuatnya rela menjadi apapun, lelaki yang telah memiliki seluruh dirinya.

Cinta? Gila? Tidak, Yoona. Bukan, bukan cinta yang gila, dialah yang gila. Dia telah gila karena mencintai sebuah kesalahan, mencintai seorang Lee Donghae dengan segala kepicikan dan kejahatannya.

“Aku sudah menelpon Lu, dia akan datang satu jam lagi.”

Lee Donghae terdiam, tangannya seakan terbanting turun hingga menjatuhkan jaket yang memayungi keduanya. Mata teduhnya kini menatap lurus ke arah mata rusa gadis di depannya.

Seiring dengan waktu berganti, Lee Donghae, dengan lidah kelunya berkata, “Apa yang dia katakan?”

“Dia justru bertanya padaku apakah dia harus menjemputku sekarang atau tidak. Lu tahu aku bersamamu, dia selalu tahu—dia mengerti aku.”

“Yoona?”

“Aku harus kembali, Donghae.” Ia terdiam sejenak. “…Aku mencintai Luhan.” Dan, saat ia mengatakan hal itu, sama sekali ia tak bisa mengangkat kepalanya untuk menatap mata Lee Donghae.

Pembohong. Im Yoona adalah seorang pembohong.

…Sedikit saja. Sedikit saja. Ia pasti masih bisa bertahan sedikit lagi.

Sebentar saja. Hanya sebentar. Ia pasti bisa menahannya.

Saat itu, mobil putih Xi Luhan telah sampai di pelataran pantai. Lelaki itu keluar dari dalam sana setelah memarkirkan mobilnya sembarangan, tapi ia hanya berdiri di sana, tak melangkah maju sama sekali.

Im Yoona kemudian mengangsurkan senyuman tipis pada Xi Luhan. “Aku harus pergi, Donghae. Semua yang telah berlalu—harus berlalu.”

“Aku mencintaimu.” Lee Donghae mengatakan itu untuk pertama kalinya.

Dan gadis di depannya terdiam. “…Tapi semua sudah terlambat, Donghae.”

“Im Yoona, aku mencintaimu,” tekannya lagi dengan tegas.

Kemudian sebuah senyuman lemah terbentang di wajah Im Yoona, ia kemudian menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Lee Donghae, ia tahu tak ada hal lain di mata lelaki itu selain sebuah kejujuran, tapi semua hanya sudah terlambat—semua sudah terlalu terlambat.

Ia kemudian mendaratkan pelan bibirnya di atas bibir lelaki itu. Singkat namun lembut, dia mencium bibir tipis itu. “Terima kasih untuk semuanya, Lee Donghae.”

Gadis itu memutar badannya dan berjalan ke arah Xi Luhan yang menatapnya dengan seluruh pandangan berkecamuk. Ia hanya menganggukan kepalanya lemah dan menyunggingkan senyuman tipis.

Dan—air mata kembali mengalir di pipinya. Bukankah ini yang terbaik? Bukankah memang begini seharusnya?

Xi Luhan hanya menepuk pelan puncak kepalanya, “Ssh, ssh, gadis pintar. Kau melakukan semuanya dengan baik.”

Ia mengangkat kepalanya dan kembali menemukan Lee Donghae masih berdiri di sana, dengan kedua tangan di dalam saku celana dan sebuah senyuman yang tampak tak sempurna.

“Kalau kau menangis seperti ini, kenapa kau meninggalkannya? Kau bisa kembali padanya, Yoona.”

Im Yoona menggelengkan kepalanya lemah. “Tidak. Mencintainya terlalu menyakitkan, Lu. Sangat menyakitkan.”

…Dan dia hanya bisa berharap suatu hari nanti, ia akan melupakan Lee Donghae.

Ia akan melupakan rasa cintanya pada lelaki jahat seperti Donghae.

Suatu hari nanti…

Dan, ia tak tahu entah kapan…

.

.

.

THE END

Insipired by such a beautiful song; Someday – Nana

Dan, Chii ngerasa Yadong banget bikin FF ini, keke. Udah lama nggak ngepost, sekali ngepost keluar FF beginian, huwahaha, ngeri dah.

Karena selama ini, Chii nyari aman terus sih bikin FF jadi pengin keluar batas sedikit (sedikit banget malah kan ya?)

Masalah sad ending? Entah kenapa bagi Chii, sebuah sad ending itu jauh lebih realistis daripada Happy ending, jadi Chii lebih suka baca cerita yang akhirnya sad ending daripada happy ending, mungkin okelah happy ending, tapi bukan berarti harus semua bahagia sampai akhir hayat, Chii lebih suka endingnya happy tapi tetep real gitu, karena itu buat Chii, sad ending bukan sebuah kelemahan tapi sebuah senjata, kekeke.

Oke, thanks for reading and comment please!

Iklan

37 pemikiran pada “Someday (Oneshoot)

  1. menurutku ini gak sad.malah happy end deh kayaknya, karena yoona berhasil kluar dati bayang2 song qian. Kasian aja bahkan dari aeal memulai yoona udah th klo donghae udah punya song qian dan dia pelampiasan.

    Tapi yoona masih aja gak bisa lepas dari donghae.
    Betul kata yoona klo pengakuan cinta hae udh terlambat, padahal aku pikir pas mereka ketemu di pernikahan yoona itu hae suka yoona, eh ternyata enggak juga.

    udah bener keputusan yoona buat kembali ke luhan. Luhan org yg tepat buat yoona.

  2. bagus kokk hahaha 😀 keluar batasnya gak keluar batas bgt tpi aku awalnya kaget yoonhae kayak gitu wkwk=_= meskipun ngship yoonhae tpi untung berakhir yoona luhan hihi
    bikin ons-shoot lagi thor~ while I’m waiting for an update yg marriage2 itu hihi

  3. bgus,, pd akhirnya yoona kmbali dgn luhan.. suka bgt ama crtanya..
    dsini kesannya hae hanya manfaati yoong, dan yoong dgn mudahnya nrma itu.huhu..
    untung luyoong gk smpa pisah, aku benci kata perceraian….
    huwa,, sequel, luyoon boleh dong beb`^^

  4. huwaaaaaaaaa di buat jungkir balik sama ni ff…. bener” menyedihkan…

    melihat YoonHae yang sama” tersakiti begitu menyedihkan…

    ok, lah setuju sama author klo sad ending emang lebih ngena ri pada happy ending

Satu Komentar = Satu Langkah Mendekati BIAS~♥♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s