Marriage Without Love (15th) – When The Truth is Out

Marriage Without Love (2)

Marriage Without Love (15th)

– When The Truth is Out –

Cast :

Im Yoona, Jung Jessica, Hwang Tiffany,

Choi Siwon, Lee Donghae, Kim Heechul.

Series, Romance, Wedding Life, Sad, General

Poster By : Soomi Artposter

A/N :

Maaf untuk keterlambatan posting.

– When The Truth is Out –

(Marriage Without Love – 15th)

— Tafunazasso Storyline —

“Aku pulang.” Im Yoona tersenyum sambil bersandar di bingkai pintu dapur. Ia melipat tangannya di depan dada, mencoba untuk memeluk dirinya sendiri, menghibur dirinya sendiri.

Dua pasang mata itu kemudian mengarah padanya dan ia tahu, di dalam sana penuh dengan rasa bersalah. Tapi, dia tahu diri, sungguh dia tahu di posisi mana ia sedang berada, ia berada di antara kedua orang itu, dia adalah tersangka di sini dan keduanya adalah korban, ia tahu.

“Hai.” Pandangannya bertemu dengan Donghae di saat ia mengucapkan sapaan barusan. “Apa kabar, Eonni?” Kali ini ia tersenyum pada Jessica yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah.

“Jangan menatapku seperti itu. Berbuatlah sesuka kalian, tidak usah pedulikan aku. Lagipula aku lelah, aku sudah rindu dengan kasurku.” Dia yakin bagaimana intonasinya barusan terdengar bagaikan membaca sebuah kertas dialog, datar tanpa ada naik-turun, dan itu terjadi ketika ia menahan tangisnya.

Ia melambaikan tangannya singkat pada keduanya yang masih terpaku sebelum berbalik, berjalan menuju kamarnya. Setelah menutup kembali pintu kamarnya, ia jatuh bersandar pada lapisan kayu itu, memeluk lututnya dan menangis.

Bodoh. Ia bodoh. Siapapun sekarang ia rasa berhak untuk mengatainya bodoh.

Ia menangis dan menangis hingga matanya tak lagi tahan untuk terbuka. Dalam posisi bersandar di pintu seperti itu, ia tertidur, tidur tanpa memimpikan apapun, hanya dengan satu harapan agar ia bisa tetap tertidur dan tak lagi bangun untuk menghadapi kenyataan.

“Yoona.” Ia mendengar suara pintunya diketuk perlahan dan ia tahu Lee Donghae kini berada di sana, di depannya dan mereka hanya dipisahkan oleh selembar pintu kayu.

“Jessica Unnie?”

“Sudah pulang. Baru saja.”

“Kau tidak mengantarnya?”

Lee Donghae hanya berdehem. “Kau menangis? Gadis cengeng.”

Dia hanya menarik napasnya dan menggumam pelan. “Aku memang cengeng.”

Lee Donghae mendengus geli. “Aku tahu. Dari dulu kau cengeng, seorang gadis kecil yang selalu mengikutiku, kau tahu betapa menyebalkannya kau di saat pertama kali kita bertemu? Kau terus menangis karena hal-hal kecil dan aku yang selalu menjadi target kemarahan orang tua kita. Tapi lambat laun, kau bukan lagi gadis menyebalkan, meskipun kau masih cengeng.”

Im Yoona terdiam sejenak. “Padahal kau sendiri yang selalu mengejekku menyebalkan di depan teman-teman sekelas kita.” Dia masih merasa air matanya mengalir.

Kemudian, ia merasakan seakan kehangatan Donghae menembus pintu di antara mereka seiring dengan lelaki itu juga duduk dan memposisikan punggungnya bersandar di pintu. “Mereka selalu mengatakan kau cantik dan mereka menyukaimu, apalagi yang bisa kulakukan selain mengejekmu dan mengubahmu menjadi jelek di mata mereka?”

“Sebagai pengingat, kau yang selalu menyeretku kemana pun kau pergi, bukan aku yang mengikutimu lagi, Donghae.” Ia mendengus geli.

“Aku melakukan itu karena anak laki-laki di kelas mulai berniat untuk mengganggumu.” Lee Donghae mengeluarkan tawa datarnya. “Apa benar saat itu aku masih bocah sekolah dasar?” gumamnya pada dirinya sendiri.

“Bocah sekolah dasar yang menyebalkan dan selalu menyeret teman sejak kecilnya, itulah kau.”

Kali ini Lee Donghae tertawa lepas. “Tapi aku senang, karena berkat itu, kau hanya berteman denganku, setidaknya hanya aku laki-laki yang kau kenal.”

Im Yoona sejenak terdiam. Ia menimbang apakah ia harus menanyakan pertanyaannya atau tidak, hingga ia memilih pilihan pertama. “Kenapa?”

Seakan sudah menunggu pertanyaan itu, Lee Donghae tersenyum tipis—senyuman yang tak akan bisa dilihat oleh gadis di seberang pintu itu. “Mungkin karena aku dulu menyukaimu—kau cinta pertamaku, Yoona.”

Dan—Im Yoona merasa bodoh telah menanyakan pertanyaan itu. Karena kenyataannya jauh lebih pahit untuk mendengarkan pernyataan dari seseorang yang kau cintai bahwa dia juga mencintaimu namun dalam bentuk lampau, dimana waktu tak bisa diulang dan sekarang, kau hanya bisa menyesali mengapa waktu seakan mencemoohmu.

“Ingat janji pernikahan kita?” Lee Donghae memutus keheningan itu.

Im Yoona mengangguk dan hanya berdehem, menahan isakan tangisnya agar tak terdengar. Ia juga menahan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya, ia hanya tak ingin Donghae mendengar suaranya yang bergetar seakan memberitahu lelaki itu bahwa dirinya kini masih gadis cengeng yang sama.

“Kita benar-benar mewujudkannya. Kita menikah sekarang.” Lelaki itu menatap cincin di jari manis tangan kirinya dan memutarnya perlahan, memainkannya dengan sebuah senyuman lembut di bibirnya.

“Donghae,” Im Yoona berbisik pelan. “Aku lelah.” Ia menahan getaran di suaranya, menahan isakannya.

“Karena itu berhentilah. Jangan melakukan hal yang sia-sia, Yoona.” Lee Donghae menambahkan hembusan napas panjang di belakang kata-katanya.

Gadis itu tahu, kalimat itu mempunyai makna mendalam. Ia tahu makna di balik kalimat itu.

“Tidak. Aku tidak akan berhenti. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”

“Yoona.”

“Aku akan menunggu, Donghae.”

Ia mengatakan itu dengan nada bahwa pembicaraan sudah harus diakhiri. Dengan langkah ringan, ia berjalan menuju kasurnya dan menjatuhkan badannya di atas sana dengan wajah mendarat lebih dulu.

Sebelum ia benar-benar memejamkan mata, ia dapat mendengar ketukan ringan lagi di pintunya. Dan suara Donghae kembali terdengar, begitu lembut dan rendah.

“Selamat malam, Yoong.”

***

Choi Siwon bangun dari tidurnya dengan kepala berat. Ia menatap jam dinding di sudut kamarnya dan kemudian ia mendecap kesal. Ia sudah terlambat satu jam dari mata kuliah pertamanya hari itu.

“Sudah bangun?”

Ia mengerjapkan matanya untuk menemukan Tiffany Hwang sedang bersandar di bingkai pintu kamarnya, gadis itu melipat tangannya di depan dada dan mengangkat salah satu alisnya. “Pagi?”

Gadis itu memutar bola matanya dan berjalan mendekatinya, duduk di sisi kanan tempat tidurnya dan terus menatapnya tajam. “Sebagai pengingat, aku masih marah padamu dan kenapa tadi malam kau menelponku?”

Siwon tertawa singkat. “Oh ya? Kau masih marah? Aku sama sekali tak melihat kemarahanmu.”

“Ada apa tadi malam kau menelponku?” putus Tiffany.

Choi Siwon tersenyum lembut. “Jam berapa kau pulang?”

“Setelah kau mengancamku dengan mengatakan kau akan menyusulku dimana pun aku berada, secepat mungkin aku pulang dan hanya untuk menemukan kau sudah bermimpi di kasurmu.”

Ia menatap mata permen Tiffany dengan pandangan gemas. “Baiklah. Baiklah. Maafkan aku. Kurasa kau memang masih marah padaku, apa yang bisa kulakukan padamu, Nona? Agar kau tidak marah lagi padaku?”

Tiffany menghembuskan napasnya pelan dan kemudian tersenyum tipis. “Apa kau benar-benar tak mau menjadi oppa baik hatiku lagi?”

Choi Siwon terdiam sejenak. Ia kemudian tersenyum tipis. “Kecuali menyangkut satu hal, kurasa aku masih bisa menjadi oppa baik hati dan paling kau sayangi itu.”

“Siapa bilang kau oppa yang paling kusayang?”

“Tidak ada. Tapi aku tahu, itu benar.”

Gadis itu mendecih geli, ia kemudian melepaskan tawa ringannya. “Oh, aku jadi teringat! Tadi malam aku pergi bersama Im Yoona.”

Sekejap Choi Siwon mengangkat salah satu alisnya. “Aku tidak tahu kau berteman dengan Im.”

“Sekarang kau tahu.”

“Kuharap dia tidak kesusahan karena kau.”

Tiffany terkikik pelan. “Dia sangat menyukaiku dan aku sangat menyukainya. Kami teman baik sekarang.”

Choi Siwon hanya terdiam. Apa semua itu memang hanya mimpinya? Ketika Tiffany mengatakan dia memiliki perasaan padanya? Karena—bukankah para gadis-gadis senang bermusuhan satu sama lain jika menyangkut hal-hal sensitif seperti perasaan? Lalu kenapa Tiffany justru seperti ini?

“Jangan berpikir rumit. Aku memang mencintaimu tapi bukan berarti aku adalah gadis berhati sempit, aku menyukai Im Yoona sebagai temanku dan tak ada yang dapat mengubah itu.” Tiffany tersenyum, menjelaskan seakan-akan dapat membaca pikiran lelaki itu. “Dan, Choi Siwon, bersiaplah, karena mulai sekarang, aku tak akan menyembunyikan perasaanku lagi.” Ia berjalan menuju pintu, membukanya, berbalik sejenak untuk melemparkan senyuman pada lelaki yang masih terduduk di tempat tidur itu, lalu keluar dan menutup pintu dengan perlahan.

Choi Siwon mendengus geli. Ia dapat mendengar teriakan Tiffany dari luar sana, teriakan suara rendah gadis itu yang mengatakan bahwa gadis itu mencintainya dan ia kembali tersenyum tipis. “Ya. Ya. Aku tahu,” balasnya.

“Kau tidak mencintaiku?” Dalam sekejap, pintu ruangan kembali terbuka dan kepala Tiffany tampak dari celahnya, dengan senyuman indah miliknya terlukis di sana.

“Aku mencintai Im Yoona.” Choi Siwon tersenyum jahil.

“Ouch.” Gadis itu memegangi dada kirinya dan bersikap seakan-akan ada sesuatu yang menusuknya di sana. “Menyakitkan.” Ia menjulurkan lidahnya sebelum menarik kembali kepalanya dan menutup pintu.

“Gadis bodoh.”

“Aku dengar itu!” Tiffany membalasnya dari luar sana.

Siwon menatap pintu kamarnya dengan pandangan lembut. Ia kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di meja lampu tidur di sebelah kasurnya. Ada 3 panggilan tidak terjawab dan 1 pesan di sana.

Kedua sudut bibirnya lantas tertarik ketika melihat nama si pengirim. Im Yoona. Dengan pesan untuk mengajaknya makan siang hari ini. 

Dia mendengus geli sebelum meletakan ponsel itu di salah satu telinganya. “Tentu, aku tidak akan menolak.” Tanpa mengucapkan salam atau basa-basi lainnya, ia mengatakan itu dan selanjutnya, tawa ringan Im Yoona dari dalam sana terdengar.

***

Lee Donghae tersenyum tipis pada sosok gadis yang baru saja membuka pintu di depannya. “Kejutan.”

Gadis itu mengangkat salah satu alisnya dan menerima sebatang bunga mawar yang disodorkan padanya. Ia kemudian tersenyum. “Terima kasih. Masuklah.”

Ketika Lee Donghae sudah berjalan melewatinya, ia merasakan sesuatu yang aneh pada bunga di tangannya. Dulu, mungkin ia terbiasa dengan segala sikap manis lelaki itu, dulu mungkin ia tidak canggung untuk menerima bunga seperti ini, tapi sekarang—ia terbiasa pada sikap kasar seseorang, ia terbiasa pada seseorang yang menyembunyikan perasaannya di balik setiap kata-kata kasar dan sikap jahil, ia terbiasa pada lelaki lain.

Jessica Jung terbiasa dengan keberadaan Kim Heechul.

“Sica?”

Ia berbalik untuk menemukan Donghae sedang menatapnya. Mata teduh itu tampak tak bersinar kali ini. Dan dari dalam sana, Jessica tahu, Donghae pun tak lagi terbiasa dengannya.

Lee Donghae terbiasa pada gadis lain.

“Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut karena kejutanmu.” Jessica melambaikan bunga mawar di genggamannya lalu dengan senyuman lebarnya, ia berjalan pelan menuju sisiDonghae. “Bagaimana dengan Yoona?”

“Dia masih tidur. Dia memang tidur seperti orang mati.” Dapat ia dengar tawa renyah Donghae. Dia tertawa dengan mata yang bersinar bersih, dia tertawa seakan-akan mengatakan sesuatu paling menyenangkan di dunia ini.

Oh, dan sekarang ia tahu. Lee Donghae terbiasa pada gadis lain, pada Im Yoona.

“Hmm.”

“Kau cemburu?”

Jessica mengangkat salah satu alisnya. “Jangan bercanda.”

Ia terdiam ketika menunggu balasan lain dari lawan bicaranya. Namun, ia tak mendapatkan apapun selain Donghae yang masih tersenyum lembut padanya. Ia menunggu balasan sarkastis milik seseorang, ia menunggu sebuah perdebatan dari seseorang, ia menunggu dan kenyataan bahwa apa yang ia tunggu tak akan ia dapatkan lagi, membuatnya terdiam. Bodoh, Jessica. Kau bodoh.

…Ia merindukan Kim Heechul.

***

“Penuh?” Im Yoona melenguh kesal. “Bagaimana bisa?” Ia menanyakan hal itu pada pria berseragam pelayan di depannya.

Choi Siwon tertawa singkat menatap gadis itu yang terus memburu pertanyaan pada pelayan di depan mereka. “Kurasa kita bisa mencari café lain, Im.”

“Tidak. Tidak. Aku mau di sini.” Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Berikan dua orang berisik ini kursi yang kupesan.” Sebuah suara berat terdengar dari sebelah mereka. Tepat kemudian pandangan mata mereka bertemu dengan sosok yang entah mengapa terasa sedikit familiar.

“Atas nama siapa, Tuan?”

“Kim Heechul.”

“Ah! Benar! Kim Heechul-ssi! Selamat siang, Kim Heechul-ssi.” Im Yoona membungkukan badannya singkat.

Kim Heechul memutar bola matanya. “Hai.”

“Di café ini ada sistem memesan tempat. Apa ini benar-benar café?” Choi Siwon mengerutkan dahinya dan menatap plakat yang tertempel di atas café.

“Tempat ini selalu penuh. Jadi, tidak jarang ada yang memesan tempat di sini.”

“Percuma menjelaskan pada Tuan Muda yang selalu makan masakan restoran itu, Yoona.”

Im Yoona sedikit mengerutkan dahinya di saat mendengar lelaki itu sudah dengan ringannya memanggil nama panggilannya dan tanpa embel-embel apapun. Baiklah, mungkin dia memang gadis yang ramah dan tak terlalu mempedulikan pangkat atau apapun tapi bukan berarti seseorang boleh sesantai  ini.

“Oh, apa kalian sedang—berkencan?” Kim Heechul mengangkat salah satu alisnya. Ia tersenyum pahit saat mendapatkan tak ada lagi gadis yang akan menyikutnya dan memperingatkannya mengenai mulut besarnya dans sifat mencampuri urusan orang lain miliknya.

“Apa itu termasuk urusanmu?” Im Yoona memiringkan kepalanya. Ia memutuskan di dalam hatinya bahwa ia tak menyukai lelaki ini, ia tak menyukai Kim Heechul.

Kim Heechul tertawa singkat. “Perlu kuingatkan kalau kau sekarang sudah menikah dengan lelaki yang dicintai oleh gadis yang kucintai. Rumit sekali, memang.”

Im Yoona terdiam. “Apa kau baik-baik saja?”

“Dan, apa itu termasuk urusanmu?” Kim Heechul menyeringai tipis.

“Perlu kuingatkan kalau gadis yang kau cintai, mencintai pria yang menikah dengannya.” Choi Siwon tersenyum tipis pada Im Yoona yang menyeringai lebar untuknya.

Kim Heechul mendengus geli. “Kita berada di pion yang sama, Im Yoona.” Tangannya terjulur meraih puncak kepala gadis itu dan memberikan sentuhan lembut di sana.

Dan Im Yoona tersenyum lembut. Ia harus meralatnya—Kim Heechul tidak terlalu buruk untuk berada di pion yang sama dengannya.

“Oh. Kurasa aku tidak jadi memberikan mejaku pada kalian.” Kim Heechul menarik kembali tangannya dan menyeringai tipis.

“Apa?” Im Yoona mengangkat salah satu alisnya.

“Bagaimana dengan makan bersama? Aku yang akan membayar.” Lelaki itu tertawa ringkas.

Choi Siwon tersenyum tipis. “Tidak buruk.”

Kemudian, Im Yoona menganggukan kepalanya. “Ya. Tidak buruk.”

Menemukan seseorang yang berada di pion yang sama dengannya untuk kedua kalinya—Im Yoona tak lagi bisa menahan lengkungan di bibirnya.

Tiga jam penuh mereka di café itu. Bukan hanya sekali atau dua kali mereka memesan, empat kali penuh pelayan harus mengantarkan pesanan mereka, meskipun sebagian besar adalah pesanan milik Yoona dan Heechul sedangkan Siwon hanya tersenyum menghadapi keduanya, tetap duduk tenang dan merespon seperlunya pada pembicaraan kedua orang yang berada dalam satu meja dengannya itu yang hanya berbicara seputar hal-hal ringan tanpa menyinggung sedikit pun mengenai Lee Donghae maupun Jung Jessica, mereka menjaga perasaan masing-masing dan mereka nyaman akan itu.

Im Yoona yang terus bercerita, Kim Heechul yang menanggapinya selalu dengan respon sarkastis, dan Choi Siwon yang sesekali menanggapi, siang itu adalah siang yang sempurna bagi ketiganya.

“Oh.” Choi Siwon menatap ponselnya dengan mata membulat dan menghentikan perdebatan kedua orang di depannya mengenai pengalaman mereka selama di Jepang, mengenai sopan santun, nasionalisme, dan berbagai hal lainnya.

“Ada apa?” Im Yoona menyeruput kopinya.

“Tiffany. Dia memintaku menjemputnya.” Choi Siwon memasukan ponsel di sakunya. Ia kemudian mengangkat kedua alisnya. “Kurasa aku harus pergi sekarang sebelum dia mengamuk.” Dengusan gelinya terdengar begitu lembut.

Im Yoona tersenyum tipis. “Choi Siwon.”

Lelaki itu berbalik sekilas dan menatap wajah Im Yoona. “Ya?”

“Aku senang berteman denganmu,” tegas gadis itu.

Choi Siwon mendengus pelan. “Aku juga senang berteman denganmu.” Ia tersenyum lembut. “Kapanpun itu kau bebas menghubungiku, aku akan mengajak Tiffany lain kali dan Kim Heechul-ssi, kau juga harus bergabung dengan kami. Tiffany pasti senang bertemu dengan orang sepertimu, dia suka mendebatkan hal sekecil apapun itu.”

Kim Heechul mengangkat alisnya. “Dan, kaulah yang harus membayar.”

“Tentu. Oh, bisa kau antarkan Im pulang?”

“Bukan masalah.” Kim Heechul menyeringai tipis pada sosok Siwon yang melangkah menjauh setelah melambaikan tangannya.

Ada keheningan singkat di antara mereka sebelum Kim Heechul menatap gadis di sebelahnya. “Hmm. ‘Senang berteman denganmu’-kah?”

Im Yoona mendengus. “Ya. Kami berteman.”

Lelaki itu hanya tersenyum. “Kita pulang sekarang?” Ia meraih kunci mobilnya dan beranjak berdiri. “Setelah aku membayar. Aku akan bangkrut karena ini, pasti.” Matanya menatap piring dan gelas yang bertumpuk di meja mereka.

Gadis di sampingnya hanya terkikik pelan.

“Aku lupa mengatakannya padamu, Heechul-ssi. Senang berada di pion yang sama denganmu.” Ia mengatakan itu di saat keduanya sudah berada di dalam mobil Kim Heechul sementara lelaki itu terus-menerus mengumpat mengenai betapa mahal tagihan makanan yang harus ia bayar.

Kim Heechul terdiam sejenak kemudian berdehem. “Aku harus kemana setelah ini?”

“Jalan lurus, rumah kami ada di sudut jalan.”

“Rumah kami?” Lelaki itu tertawa pelan.

Im Yoona tersenyum tipis. “Apa kau tahu kalau rumah itu sebenarnya rumah masa depan mereka berdua?”

“Aku tidak tahu dan aku tidak terkejut pada kenyataan itu. Mereka sudah 5 tahun bersama jadi bukan hal yang aneh.” Kim Heechul tak menatap Im Yoona saat mengatakan itu, pandangannya hanya mengarah lurus pada jalanan.

“5 tahun bukan waktu yang sebentar, bukan?”

“Setidaknya kau sudah bersama Lee Donghae sejak kecil sedangkan aku—aku hanya lelaki yang baru saja ia kenal dan kurasa aku sudah banyak bersalah padanya dan padamu juga, sialnya pada Lee Donghae juga.”

Gadis itu mengerutkan dahinya. “Maksudmu?”

Kim Heechul kali ini menghentikan laju mobilnya. Ia sudah berada di depan rumah yang mereka tuju. Dengan iris hitamnya, ia menatap Im Yoona, “Apa kau belum tahu kalau aku—bukan, kata-kataku yang menyebabkan ini semua terjadi?”

“Aku tidak mengerti.”

“Jadi, mereka menyembunyikannya darimu, huh? Aku yang mengatakan pada Jessica agar membiarkan kalian berdua tidur bersama, saat itu dia terlihat bodoh di depanku karena terlalu iri padamu. Aku hanya benar-benar tak menyangka dia akan melakukan itu sungguhan.” Kim Heechul mengendikan bahunya. “Hei. Aku tidak terlalu suka kalau mobilku dikotori, apalagi dengan air mata. Berhenti menangis.” Ia tersenyum masam pada Im Yoona. Setidaknya saat ini, ia sedikit bersyukur karena tak ada Jessica yang akan menyikutnya dan menyalahkan mulut besarnya, karena bagaimanapun—gadis malang di depannya ini harus mengetahui kenyataan, meskipun kenyataan itu lebih baik bukan keluar dari bibirnya namun dari Lee Donghae, tapi tetap saja, bukankah lebih cepat akan lebih baik?

Im Yoona sendiri menangis. Dia merasa hatinya tercabik begitu mengetahui semua ini. Tentu bukan karena merasa kecewa ataupun marah oleh Jessica, ia hanya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Lee Donghae pada saat itu. Ia hanya merasa ikut tersakiti. Demi Tuhan, kenyataan apalagi ini?

“Kenapa kau menangis? Apa karena Jessica? atau Donghae?” Kim Heechul tak lagi menatap gadis di sebelahnya, ia menatap lurus ke arah depan.

Sejenak, Im Yoona menarik napasnya. “Donghae—dia berhak bahagia melebihi apapun.”

Kim Heechul menghela napasnya singkat. Ia tahu ada banyak konsekuensi ketika ia menceritakan kenyataan ini. Tapi ia bernapas lega karena Im Yoona bukan gadis berpikiran sempit, ia bernapas lega karena hal ini tak akan membuat Jung Jessica merasa lebih bersalah jika Im Yoona menyalahkannya.

“Dan Si Bodoh itu masih melindungi Jessica sampai saat ini. Dia benar-benar tak bisa dipercaya.” Im Yoona mendengus geli.

“Bukan. Dia bukan melindungi Jessica, Bodoh. Dia hanya melindungimu.”

Im Yoona mengangkat alisnya. Ia masih merasakan dadanya begitu sesak. “Bagaimana bisa?”

“Aku sekarang menceritakan ini padamu. Dan kau menangis, benar? Dia hanya tak ingin kau menangis seperti ini. Mungkin pada awalnya, dia memang melindungi Jessica tapi sekarang, kurasa dia melindungimu.”

Senyuman tipis di wajah Im Yoona mengembang. “Kuharap itu bukan hanya basa-basi untuk menghiburku.”

“Aku tidak suka basa-basi dan aku membenci menghibur seorang wanita yang sedang menangis,” ucap Kim Heechul datar. “Oh.” Matanya yang menatap lurus ke arah jalanan, menemukan Lee Donghae dan Jessica Jung berjalan mendekat. “Kebetulan yang tidak menyenangkan,” decihnya.

Im Yoona menyeringai tipis. Ia kemudian membuka pintu mobil dan berlari memutar untuk menyeret Kim Heechul keluar dari dalam sana. “Keluarlah. Jangan bertingkah seperti perempuan. Kita berada di pion yang sama ingat?”

Kim Heechul menghela napasnya lalu membalas seringaian Im Yoona dengan seringaian miliknya. “Aku mulai benci berada di pion yang sama denganmu.”

Mereka kemudian berjalan mendekati Lee Donghae dan Jung Jessica, dengan senyuman lebar di wajah keduanya, dan secara bersamaan…

“Hai,” sapa mereka. 

To Be Continued

Halo. Gimana?

Keke. Membuat interaksi antara Heechul dan Yoona itu menyenangkan. Mereka kayak kakak-adik yang terus berdebat buatku, Im Yoona yang keras kepala dan Heechul yang sarkastis terus ditambah Siwon yang tenang.

It’s perfect!

Dan, maaf buat yang mengharapkan Yoona bakalan membenci Sica atau Yoona bakalan lemah karena Donghae! Nope, She is strong! Him Yoona, remember? Keke.

Now, she’s even had Heechul in her side as partner, she’ll getting stronger and stronger, keke.

FYI, Siwon and Yoona as their stated in here, they’re friend, not a lover, not a couple but~ we just don’t know what will happened in the future, rite?

Sebagai pengingat, Donghae belum pernah mengatakan kenyataan malam itu pada Yoona, belum ada yang tahu kecuali, dia, Jessica, dan Heechul.

Tolong, jangan bertanya kapan FF ini akan berakhir,oke? I’m sorry is still a long way to go, guys. Chii hanya nggak pengen kalau FF Chii kayak kejar ending karena ketakutan kepanjangan chap dan Chii harap reader bakalan mengerti, karena kalian juga nggak suka kan kalau baca FF yang tiba-tiba ending tanpa kejelasan yang benar-benar jelas?

Tinggalkan comment, okay? Karena comment adalah penyemangat! Thanks!

*XOXO, Kiss and Hug*

174 pemikiran pada “Marriage Without Love (15th) – When The Truth is Out

  1. Annyeong haseyo chii thor 😀 aku reader baru 96lines, salam kenal ya. Dan mianhae aku langsung komen dipart ini T.T *bow*
    Please kalau bisa jangan ada SiFany couple, eoh? Aku gak bísa bayangin deh kalau ada 😦 Mianhae..
    Apa HaeSica sudah mulai saling membuka untuk pasangan mereka (read : YoonHee) ?
    Semoga aja iya, tapi HaeSica disini egonya terlalu tinggi -_- gak mau mengakui kalau mereka sebenernya sudah mulai menerima pasangan masing2 😦
    Kapan chapter selanjutnya diupdate thor? Udah penasaran pake banget! 🙂
    Keep writing ..
    Fighting! ^^

Satu Komentar = Satu Langkah Mendekati BIAS~♥♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s