Marriage Without Love (14th) – Can’t Have You

Marriage Without Love (14th)

– Can’t Have You –

Cast :

Im Yoona, Jung Jessica, Hwang Tiffany,

Choi Siwon, Lee Donghae, Kim Heechul.

Series, Romance, Wedding Life, Sad, General

Poster By : Soomi Artposter

A/N :

Maaf untuk keterlambatan posting.

marriage-without-love1

– Can’t Have You –

(Marriage Without Love – 14th)

— Tafunazasso Storyline —

“Pagi.”

Lee Donghae mengerjapkan kelopak matanya kemudian menyapu anak rambutnya yang menjuntai menutupi separuh penglihatannya, seakan meyakinkan dirinya, sosok Im Yoona yang berdiri tersenyum di samping kasurnya saat ini memanglah kenyataan.

“Sebetulnya ini bukan pagi lagi, tapi sudahlah, cepat cuci mukamu, aku sudah menyiapkan makanan.” Im Yoona memiringkan kepalanya sejenak dan kembali mengulum senyuman.

Ia menganggukan kepalanya sejenak sebelum menyeret kakinya menuju kamar mandi, masih dengan tanda tanya besar di dalam kepalanya. Dirinya masih belum bisa memastikan bagian mana yang sebenarnya mimpi, apakah ingatannya tadi malam tentang bagaimana ia mengatakan segala hal dengan jujur pada gadis itu, ataukah ketika ia menemukan Im Yoona tersenyum padanya saat ini, manakah yang mimpi?

Lee Donghae menyapukan air di wajahnya dan menemukan bayangan dirinya di kaca wastafel kamar mandi, saat itu ia tersenyum masam, di sana tampak matanya yang memerah dan bibirnya yang pucat, kemudian ia tahu bahwa kejadian tadi malam sama sekali bukan mimpi karena benar tampak bayangan wajahnya sehabis menangis.

Ia kemudian tertawa datar. Semua memang terjadi dan tak ada lagi ucapan yang bisa ia jilat kembali, tak ada yang seharusnya ia sesali, karena kenyataan itu kini memang telah terpapar. Dia telah mengatakan segalanya dan bukankah seharusnya ia merasa lega ketika menemukan Im Yoona masih tersenyum padanya di pagi ini? Bukankah seharusnya ia merasa tenang karena saat ini dia tahu bahwa gadis itu tampak menerimanya?

“Donghae?”

Kepalanya berputar cepat menatap ke arah suara barusan dan ia menemukan Im Yoona berdiri di ambang pintu, masih dengan senyuman itu.

Namun bibirnya kaku, tak ada sepatah kata pun yang dapat keluar dari sana.

“Kau sudah berdiri di sana sejak setengah jam lalu, apa kau mau membiarkan masakanku dingin?” Gadis itu masih tersenyum, rambut coklatnya kini terkepang satu dan disampirkan di salah satu bahunya, namun dengan mata sembab miliknya pun, Lee Donghae dapat melihat kantung mata hitam milik Im Yoona.

Ia tahu gadis itu habis menangis, mungkin semalaman—sama seperti dirinya. Dan dalam satu simpulan yang cepat, ia juga tahu alasan di balik tangis milik Im Yoona. Sebuah alasan yang selama ini berusaha ia tolak kehadirannya, alasan yang berhubungan dengan perasaan gadis itu padanya. Alasan yang tak pernah masuk akal baginya karena menurutnya hanya berdasarkan awangan tak nyata yang sesekali menghampirinya namun saat ini, ia tahu, awangan tak nyata itu adalah kenyataan. Im Yoona mencintainya, itulah kenyataannya.

Tetapi, ia tahu satu hal lagi, ia tahu saat ini ia tak seharusnya berbuat apapun atas itu. Karena ia tak ingin, memunculkan harapan kosong pada Im Yoona di saat dirinya tak bisa memastikan apakah suatu saat nanti hatinya akan kembali terguncang pada sosok lain dan membuat senyuman gadis itu menghilang.

Karena satu di antara puluhan ketakutannya di dunia ini adalah ketika Im Yoona tak lagi tersenyum padanya.

Dan menemukan Im Yoona masih tersenyum padanya di pagi ini berarti ia hanya harus diam tanpa berbuat apapun yang mungkin akan membuat gadis itu tak lagi tersenyum padanya, bukan?

Bibirnya kemudian melengkung tipis. “Sejak kapan kau bisa memasak, Yoong?”

Im Yoona kembali mengulum senyumnya. “Sejujurnya ini masakan pertamaku, aku hanya butuh kelinci percobaan dan kurasa kau orang yang tepat.”

Lee Donghae memutar bola matanya. Ia melangkah pelan dan berdiri tepat di depan gadis yang kini tengah menatapnya dengan pandangan jahil. Tangannya menyentuh pelan dan menepuk puncak kepala gadis itu. “Kelinci percobaanmu ini mulai ketakutan, kau tahu?”

Dia hanya menjulurkan lidahnya kekanakan. “Hei.”

Lelaki itu memalingkan wajahnya sejenak yang sebelum ini hanya terpusat pada piring berisi makanan di depannya. Ia menatap gadis berambut coklat itu dengan pandangan lurus. Gadis itu menatapnya dengan pandangan yang berbeda dan ia tahu, rahangnya mengeras, jantungnya berpacu cepat, ia tahu, rasa sakit itu akan datang—Bukan, rasa sakit itu sudah datang, menyerangnya, mencekiknya, tepat ketika ia sadar betapa bodohnya dirinya yang tidak menyadari pandangan gadis itu padanya. Bodoh.

“Aku mencintaimu,” Im Yoona berkata dalam satu tarikan napas singkat. Ia tidak berbisik, ia berusaha agar suaranya terdengar, ia ingin Lee Donghae mendengarnya, mendengar perasaan yang ia tahu mustahil untuk ia dapatkan balasannya.

Lee Donghae sekejap terpaku sejenak, napasnya tertahan—ia belum siap, ia belum—namun kemudian, ia hanya tersenyum tipis, membiarkan sebelah tangannya terjulur, menggapai puncak kepala Yoona dan memberikan sentuhan lembut di sana. “Aku tahu.”

Im Yoona memiringkan kepalanya. “Kau tahu?”

Lelaki itu mengangguk singkat. “Kau tidak pandai menyembunyikan perasaan, Yoona.”

Dan Im Yoona tercekat. Tidak ada lagi ‘Yong’ tidak ada lagi panggilan manis itu. Kini, dirinya hanyalah Yoona, bukan lagi seorang gadis kecil yang dilindungi oleh lelaki itu. Mungkin, bagi sebagian orang, perubahan panggilan seperti itu bukanlah hal besar tapi, berbeda bagi mereka, berbeda bagi Donghae, pria sensitif yang selalu berhati-hati dalam memilih kata.

Ia tahu, ia telah melewatinya dan semalaman bukanlah waktu yang singkat untuknya ketika memikirkan segala konsekuensi yang akan ia dapatkan jika menyatakan semua ini tapi ia salah, semalaman adalah waktu yang begitu singkat untuk mempersiapkan dirinya—ia belum siap, ia tidak siap untuk perubahan ini.

Lee Donghae tersenyum masam. Bukankah ini keputusan terbaik? Untuk tidak memberikan harapan apapun pada gadis itu? Karena Im Yoona terlalu berharga untuk diberikan sebuah harapan, Im Yoona berhak menerima kebahagiaannya dan bukan untuk menunggu seorang lelaki seperti dirinya. Baginya, gadis itu berhak atas kebahagiaan di atas seluruh dunia. “Kurasa, aku harus pergi.” Ia menarik tangannya di puncak kepala Yoona dan tersenyum tipis sebelum beranjak pergi—beberapa menit kemudian, ia sudah tak lagi berada di rumah itu, ia pergi tanpa menyentuh makanannya, ia hanya ingin pergi, menjauh—sebelum melihat Im Yoona kembali menangis. Mungkin dia memang pengecut, dia hanya tak ingin merasakan sakit yang sama ketika Yoona menangis—ia takut akan rasa sakit, terlebih jika menyangkut Im Yoona, karena rasa sakitnya berlipat, berganda, menekan jantungnya, membuatnya nyaris mati rasa—ia hanya takut, sungguh takut.

Yoona menatap piring Donghae yang tergeletak di atas meja dengan nasi goreng kimchi dan telur mata sapi yang mulai mendingin. Ia tertawa hambar ketika mengingat bagaimana pagi ini ia keluar dari kamar (Tidak, dia tidak tidur, dia menangis semalaman) dan memecahkan belasan telur dengan sia-sia di atas wajan demi mendapatkan telur yang berbentuk sedikit normal untuk Donghae. Melihat bagaimana kosongnya pring itu dengan hanya telur mata sapi, saat itu juga, ketika jam belum menunjukan pukul lima pagi, ia berjalan ke luar rumah, menuju supermarket terdekat, membeli bahan-bahan untuk membuat nasi goreng (Satu-satunya masakan yang tak pernah mengecewakannya). Dan kini, piring itu bahkan tak tersentuh oleh Donghae, terbuang di sudut meja, mendingin dan mulai mengering—sama seperti dirinya. Ironis.

Ia melipat kedua tangannya di atas meja dan meletakan kepalanya di sana. Dia tidak ingin menangis, sungguh, dia benar-benar lelah untuk menangis, tapi semua terlalu menyakitkan. Semua terlalu menyesakan.

Kenapa mereka harus terlibat dalam pernikahan ini? Kenapa semua harus seperti ini? Kenapa di antara milyaran lelaki di dunia ini, ia harus jatuh cinta pada Lee Donghae? Kenapa ia bisa sebodoh ini?

Ia adalah Im Yoona—gadis kuat yang tak pernah mengharapkan siapapun. Ia adalah Im Yoona—gadis yang selalu tersenyum. Ia adalah Im Yoona—gadis yang kini lemah, lemah karena mencintai seorang lelaki yang tak mencintainya kembali. Ya, ia adalah Im Yoona—gadis yang kini harus jatuh berlutut pada cinta yang tak bisa ia lepas dari sudut hatinya, mencengkramnya, dan meskipun ia tahu, ia akan hancur dengan perlahan karena itu—ia tetap tak bisa melepasnya. Sederhana, karena ia mencintai lelaki itu tanpa mengharapkan apapun, tanpa keegoisan apapun, dan setegar mungkin untuk menerima rasa sakit seperti apapun itu.

Ia adalah Im Yoona—seorang gadis yang mencintai Lee Donghae dengan sesederhana itu.

Senyuman tipis terlukis di wajahnya. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya, menghapus sisa air mata di pipinya dan berjalan pelan menuju lorong yang menghubungkan ruang makan dan kamarnya.

Sejenak, ia menatap lorong kosong itu, dimana beberapa bulan lalu, ratusan foto tergantung di sana, milik Jessica dan Donghae. Kemudian ia memiringkan kepalanya dan seakan teringat sesuatu, ia berlari menuju kamar tamu untuk menemukan pigura yang bersandar di sudut ruangan—masih dengan kain penutupnya.

Pelan, ia membuka kain penutup itu dan kemudian senyuman tipisnya muncul kembali.

Itu satu-satunya foto miliknya dan Donghae—Foto pernikahan mereka.

***

“Senyumlah. Kau benar-benar jelek sekarang.”

Jung Jessica mengangkat kepalanya perlahan untuk menemukan sepasang iris kelabu Kim Heechul di sana. “Kenapa kau di sini?”

“Sekedar mengingatkanmu, aku juga sekolah di sini.”

Gadis itu memutar bola matanya. Ia kemudian tertawa ringkas, “Aku memang tak pernah bisa mengalahkanmu.”

Kim Heechul yang kini berjalan di sebelahnya kemudian tersenyum tipis. Ia mengacak pelan rambut pirang gadis itu, “Bukan. Aku yang tak pernah bisa mengalahkanmu.”

Senyuman Jessica kemudian memudar. “Heechul, bukankah aku sudah mengatakan padamu—untuk meninggalkanku?”

Lelaki itu dengan ringan mengangkat salah satu alisnya. “Tidak. Kau tidak mengatakan itu. Kau hanya sekedar bertanya padaku, apa kau dan Lee Donghae akan kembali bersama, sekedar mengingatkanmu lagi, Nona Pelupa.”

“Aku memang tak pernah bisa mengalahkanmu, Heechul.” Jessica tersenyum tipis mendengar penjelasan lelaki itu.

“Kalau kau memaksa, mungkin memang benar, kau memang tak bisa mengalahkanku—tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanku, sebenarnya. Karena aku Kim Heechul.”

Saat itu, sudut mata lelaki itu menatap ke arah Lee Donghae yang berjalan ke arah keduanya namun ia yakin lelaki itu tak sadar keduanya berada di depan matanya. Lelaki itu hanya berjalan mendekat tanpa memperhatikan sekelilingnya, seakan sedang berada dalam dunianya sendiri di dalam kepalanya, terlihat ketika ia menabrak beberapa orang dan terus berjalan tanpa mengucapkan permintaan maaf.

Di saat langkahnya hanya berjarak beberapa meter dari keduanya, lelaki itu berbelok di salah satu lorong, tanpa menemukan keduanya berada di sana, tanpa menemukan Jessica sedang bersama dengannya.

“Aku belum mengatakannya, eh?” Jessica mengalihkan perhatiannya dan ketika ia menatap gadis itu, kedua tangan ramping milik Jessica sudah terlipat di depan dada. Gadis itu menatapnya lurus dengan sebuah senyuman tipis yang kosong, ia mendengar kalimat akhir itu, “Tinggalkan aku, Heechul. Pergilah.”

Ia menatap sejenak gadis itu, gadis yang ia tahu membuatnya yang sudah gila sejak dahulu kini menjadi sepenuhnya gila—karena ia mencintainya. Gadis yang dengan hanya sepatah kata bisa membuatnya melambung atau terjatuh tanpa perlu merasakan malu.

Kemudian, ia memejamkan matanya sejenak dan membukanya setelah mengeluarkan hembusan napas panjang. Dengan sebelah tangannya, ia mencengkram lembut satu pundak Jessica, memajukan tubuh gadis itu hingga hanya sekian jarak tersisa di antara keduanya. “Ya.” Ia berbisik tepat sebelum menempelkan  bibirnya pada bibir hangat gadis itu, membiarkan perasaannya terserap ke dalam ciuman manis itu—menunjukan betapa seorang Kim Heechul jugalah manusia, ia juga jatuh cinta, ia tidak sepenuhnya lelaki dengan dunia dan egoitisme miliknya sendiri, kenapa? Karena kini, ia akan melepaskan gadis ini dan itu artinya, dia telah menjadi manusia, dia tidak lagi seorang lelaki yang mengecap semua hal yang ia inginkan harus ia dapatkan, ia sudah menjadi manusia—dan itu karena perasaannya, karena suatu hal yang tak pernah ia prediksi akan menyerangkan sedemikian rupa.

“Pergilah.” Ia melepaskan ciuman itu dengan sebuah senyuman di bibirnya. Setidaknya ia tersenyum dan tidak menangis seperti idiot untuk menjatuhkan harga dirinya meskipun sebenarnya ia tidak keberatan jika harga dirinya jatuh di depan seorang Jung Jessica. “Aku akan pergi—kau juga, pergilah.” Ia kembali meraih puncak kepala gadis itu dan memberikan tepukan ringan dengan seringaian lembut di bibirnya. “Pergilah,” bisiknya terakhir kali sebelum membalikan badan dan melangkah menjauh—kemana pun itu, dimana pun itu, ia butuh sendiri. Hanya dirinya dan tangis menyedihkannya.

Jung Jessica di sana terpaku. Ia menolak untuk menangis tapi ia tidak bisa. Ia merasa kosong—ia merasa tak lagi kuat untuk berdiri. Ia merasa sendiri.

Namun pundak itu benar-benar menjauh dan ia tahu, tidak ada salahnya untuk menangis, apalagi untuk menangisi seseorang yang datang secara tiba-tiba, memenuhi hidupnya dengan segala kehadirannya yang unik, dan pergi begitu saja setelah setidaknya Jessica tahu, ada sedikit sudut hatinya yang tertarik pada sosok Kim Heechul—hal yang tak ia inginkan untuk terjadi.

Ia tidak ingin jatuh cinta lagi. Ia ketakutan pada perasaan itu. Ia bersumpah jika ia jatuh cinta, maka itu hanya kepada Lee Donghae, karena melebihi apapun, ia ketakutan jika jatuh hati pada Kim Heechul dan harus merasakan sakit hati lainnya—ia tak ingin ditinggalkan lagi.

Tapi, apa yang terjadi sekarang? Dia ditinggalkan, benar? Dia ditinggalkan dan itu adalah kemauannya. Bodoh, bukan?

“Keluarlah dari sana. Temui dia, Bodoh.” Tanpa menghentikan langkahnya, Kim Heechul berbisik pelan pada sosok yang bersembunyi di balik lorong.

“Sica.” Suara lembut itu terdengar, seiring dengan sosoknya menggantikan sosok Kim Heechul yang berjalan semakin menjauh, jauh dan jauh.

Sosok itu ada di sana. Dia tidak berjalan menjauh. Dia ada di sana.

“Hai.” Jessica bergumam pelan tapi ia tahu, sudut bibirnya kaku untuk tersenyum. Pelupuk matanya pun terasa berat, begitu berat hingga ia tak lagi sanggup menatap wajah Lee Donghae dengan jelas, pandangannya terhadang selaput bening air matanya, ia kemudian jatuh berlutut dan menangis.

Lee Donghae ada di sana. Dia terpaku di sana. Tidak berjalan maju dan tidak dapat mengatakan apapun. Ia hanya berdiri di sana, menatap gadis di depannya menangis, tidak menggapai dan memeluk tubuh gadis itu, ia hanya ada di sana, berdiri di sana.

***

Im Yoona mengerutkan dahinya kemudian membentuk persegi dengan jari-jari di kedua telapak tangannya. Ia menyentuh dagunya sejenak, mengetuk-ketuknya dengan jari sebelum ia melenguh frustrasi dan melemparkan begitu saja pemukul besi di tangan kanannya. “Terserah. Kalau kau mau tetap bergantung miring seperti itu, terserah padamu. Luruskan dirimu sendiri, Bodoh!” Ia mengumpat pelan sambil menunjuk ke arah pigura yang tergantung miring di dinding.

Ia kemudian menjatuhkan dirinya di atas lantai dan mengusap keringat di dahinya. “Jam berapa sekarang?”

Tepat setelah ia berkata, jam raksasa di ruang tengah berbunyi, tiga kali dan itu berarti dia sudah menghabiskan waktu dengan palu, paku, dan figura itu selama 3 jam penuh. Alisnya berkerut tak percaya. “3 jam? Hanya untuk kau?” Ia menunjuk kembali ke arah figura yang tak bergeming, masih tergantung dengan kemiringan yang sama.

Helaan napas pasrahnya kemudian terdengar. “Sudahlah.” Ia melepas sarung tangan karet yang ia pakai dan melemparkannya ke sembarang arah sebelum ia berlari menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.

Setengah jam kemudian, ia sudah bercermin di kamarnya, memakai gaun pastel selututnya dan tersenyum bagai orang bodoh dengan bayangannya di dalam sana. Dengan seringaian, ia membuka dompetnya lalu mengeluarkan kartu kreditnya dari dalam sana. “Lama tidak berjumpa. Apa kabar, Sayang?” Ia mencium pelan salah satu sudut benda itu.

Jika dipikir, mungkin ia bisa menghitung menggunakan jari untuk berapa kali ia pergi berbelanja setelah mendarat di Korea. Dan hal itu adalah hal yang tak dapat ia percayai, karena berbelanja dan Im Yoona adalah saudara kembar yang tak bisa dipisahkan. Karena itu, satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya setelah Donghae pergi tadi pagi adalah pergi berbelanja, melupakan ayahnya yang mungkin akan memburunya habis-habisan dan mulai menasehatinya mengenai keborosannya yang pasti pada akhirnya akan berakhir dengan cerita memelas mengenai masa kecil ayahnya yang selalu kesusahan, melupakan segalanya, hanya ada dia dan kegilaannya pada belanja. Seperti dulu, seperti sedia kala, sebelum hatinya dan perasaannya merubahnya.

Ia memasang sepatu datarnya dengan ringan sembari menggumamkan nada-nada kecil di bibirnya. Setelah memastikan, tak ada yang ketinggalan dan melambaikan tangannya ringan pada figura di lorong yang baru saja ia pasang dan tentu saja masih tetap miring, ia pergi, menutup pintu di belakangnya dan berjalan dengan senyuman lebar di bibirnya.

Sebelum perlahan senyumannya mengendur dan menghilang ketika menemukan seseorang berdiri di depan gerbang. Seorang gadis berambut hitam gelap dan tersenyum dengan indahnya sehingga matanya membentuk bulan sabit.

Tiffany Hwang.

“Hai! Oh, kau mau kemana?” Tiffany berteriak dari kejauhan sebelum mencegat pergelangan tangannya ketika ia hendak berbalik dan memutuskan untuk tak lagi keluar rumah, tidak sekarang, tidak besok, tidak lusa, tidak jika Tiffany Hwang berada di sana.

Im Yoona tersenyum canggung. Ia baru saja hendak membahagiakan dirinya sendiri dan Tuhan seakan tak memperbolehkannya dengan mengirimkan seorang gadis berparas malaikat yang kini tersenyum polos padanya ini. Mungkin Tiffany memang berwajah malaikat tapi ia tidak merasa melihat surga ketika ia menatap wajahnya, karena ia serasa mengingatk kembali ingatan nerakanya pada malam itu. 

“Bisa kita keluar sebentar? Aku masih belum punya teman di sini jadi—hanya kau yang bisa kuajak.” Gadis di depannya itu memainkan alisnya naik dan turun tapi tetap tak menghilangkan kecantikannya.

“Umm. Bukankah kau bisa mengajak Siwon?”

Senyum indah gadis di depannya kemudian menghilang dengan cepat. Di dalam hatinya, ia mulai membodohi kata-katanya barusan. Demi Tuhan, gadis di depannya ini mencintai Siwon dan ia adalah gadis yang secara tidak langsung sedang memiliki hubungan dengan lelaki itu—bukankah dia terlampau lancang?

“Maksudku, bukan—”

Tiffany kemudian tersenyum kembali. “Tidak. Tidak apa-apa. Kami hanya sedang—bertengkar.”

Im Yoona memiringkan kepalanya. Ia kemudian tersenyum tipis. Entahlah, dia tidak peduli jika dia terdengar jahat, tapi ia merasa sedikit bahagia ketika ia menemukan Tiffany sedang berada di kapal yang sama dengannya, di masalah yang sama. Ia merasa tidak sendiri.

“Kalau dipikir, aku juga belum mempunyai teman di sini. Oh. Tunggu! Kau temanku, bukan?” Im Yoona menjentikan jarinya dan menujuk ke arah Tiffany dengan senyuman lebar di bibirnya.

Gadis di depannya dengan senyuman indah lainnya yang mencapai matanya tentu, menganggukan kepalanya.

“Jadi, kemana kita akan pergi?” Ia merangkul pundak mungil gadis yang lebih pendek darinya itu.

Tiffany menatapnya sejenak kemudian tersenyum tipis. “Kau suka berbelanja?”

Im Yoona melebarkan senyumannya. “Bukan hanya suka tapi aku cinta berbelanja.”

“Kalau begitu, kita akan menjadi teman berbelanja paling mengagumkan.”

“Tentu.”

***

Ahn Sohee membuka pintu depan rumahnya dengan ringan dan ia tersenyum tipis ketika menemukan Kim Heechul berdiri di depannya. “Ada masalah?”

Lelaki itu berdecih pelan. “Apa kau pikir, aku hanya kemari jika sedang bermasalah?”

“Bukankah memang begitu?”

“Ya.”

Gadis itu berdecak geli. “Masuklah.”

Setelah menutup pintu di belakangnya, Ahn Sohee menyusul lelaki itu yang kini telah duduk di salah satu kursi yang mengitari piano. “Masalah gadis yang sama?”

Kim Heechul hanya menggumam pelan. Ia menatap ke arah piano di tengah ruangan itu dengan kosong.

“Kuharap kalian tidak lagi bermasalah.” Sohee tersenyum tipis, ia memilih untuk berjalan melewati Heechul dan duduk di depan pianonya.

“Memang tidak. Kami tidak akan bermasalah lagi.”

Sohee menekan salah satu tuts piano dan suara nyaring terdengar dari sana. “Oh ya?”

“Karena kami tidak akan bersama lagi. Benar juga, sisi positifnya yaitu setidaknya aku tidak akan bermasalah lagi.”

Ahn Sohee mengerutkan dahinya. Sebelum ia berbalik, Kim Heechul sudah memotong gerakannya dan mengatakan bahwa dirinya sebaliknya tidak berbalik, ia menurut, ia memutar kembali tubuhnya, pandangannya hanya mengarah pada tuts-tuts piano seiring dia mendengar suara desisan tangisan pelan dari belakangnya.

Kim Heechul menangis seakan tidak ada lagi hari esok.

“Bisa kau mainkan sebuah lagu? Lagu ceria, misalnya.” Kim Heechul berkata pelan, namun itu terdengar bagai bisikan di telinga gadis itu.

“Kenapa?” Ia masih menurut untuk tidak membalikan badannya.

“Karena suara tangisku bisa merusak telingamu.”

“Kau mengakui kalau kau sedang menangis?”

“Kenapa tidak?”

“Tidak—hanya saja, tidak seperti kau.”

Terdengar suara dengusan geli. “Mainkan lagu ceria, Sohee. Kumohon.”

Ia mengangguk pelan. Kemudian meletakan kedua tangannya di atas piano hingga lagu pertama yang ia mainkan dengan piano itu terdengar; Twinkle-Twinkle Little Star.

“Seleramu buruk, Ahn  Sohee.” Kim Heechul berbisik pelan.

Namun, ia hanya tersenyum. “Lihatlah kakak lelakiku yang tak tahu terima kasih ini.” Ia masih tetap menekan tuts-tuts pianonya meskipun hal itu sama sekali tak membantunya untuk tak mendengar tangisan Heechul.

Sedangkan Kim Heechul masih menangis di sana, semakin kuat ia menekan suaranya maka semakin kuat pula rasa sakit di hatinya. Ia, Kim Heechul, benar-benar menangis seakan esok tak akan ada lagi.

***

Im Yoona mengunci bibirnya sekuat yang ia bisa di perjalanan pulang mereka. Ia kini sudah duduk di kursi penumpang mobil merah muda Tiffany dan tengah menatap gadis itu berbicara pada seseorang di seberang sambungan teleponnya. Dan ia tahu, orang itu adalah Choi Siwon yang sedang memaksa gadis itu untuk pulang.

“Baiklah. Baiklah. Aku pulang.” Ia mengucapkan kalimat itu dengan bibir penuh senyuman dan Im Yoona pun tak bisa menahan senyumannya. “Hmm.” Deheman itu menjadi suara terakhir yang keluar dari bibir Tiffany sebelum ia mematikan sambungan teleponnya.

“Berlebihan?” Im Yoona bertanya pelan.

“Sangat.” Tiffany menjawabnya seakan-akan dia sedang kesal namun seluruh dunia pun Im Yoona rasa tahu bahwa gadis itu sedang berbohong.

“Pasti menyusahkan untuk mempunyai teman yang tumbuh bersamamu seperti itu.” Im Yoona tertawa di akhir kalimatnya. “Karena, aku punya satu yang seperti itu.”

Tiffany Hwang mengangkat kedua alisnya. Saat itu lampu merah mencegat laju mobil mereka dan Tiffany kini bisa dengan bebas menatap Yoona dengan pandangan penuh ketertarikan. “Lee Donghae teman masa kecilmu?”

“Mau tidak mau.” Yoona mengendikan bahunya dan tertawa pelan.

“Tapi, Siwon Oppa pasti lebih menyebalkan dibandingkan dia.” Tiffany menginjak kembali pedal gasnya dan meneruskan kalimatnya tanpa menatap Yoona, memilih untuk menatap jalanan dan mendahulukan keselamatan keduanya, “Dia masih menganggapku anak berumur lima tahun yang masih perlu perlindungan, setidaknya Lee Donghae pasti tidak seperti itu, benar?”

Yoona membiarkan tawa gersang keluar dari bibirnya. “Tidak. Karena itu, aku iri padamu.”

“Maaf, seberapa pun besar rasa irimu itu. Tapi, aku tidak akan memberikan Siwon Oppa-ku.” Tiffany berkata dengan nada akhir, ia mengerucutkan bibirnya.

Im Yoona kemudian tertawa singkat sebelum Tiffany ikut bergabung dan tertawa bersamanya.

“Jatuh cinta pada teman masa kecilmu—hal yang benar-benar susah, benar?” Im Yoona mengangkat salah satu alisnya.

“Kau sendiri tahu bagaimana rasanya, Yoona.”

“Hmm. Melebihi apapun.”

“Dan, lebih menyusahkan lagi, jika dia mencintai seseorang lain,” Tiffany tersenyum masam.

Saat itu, Im Yoona tahu maksud di balik kalimat Tiffany. Ia tahu, dirinya adalah satu-satunya masalah terbesar di antara Tiffany dan Siwon. Kemudian ia tersenyum tipis, “Tapi, kau tidak akan menyerah, bukan?”

Tiffany mengulum senyumannya. “Aku tidak akan kalah padamu. Dan, aku juga ingin kau tidak kalah, kita tidak akan menyerah. Ingat kalau kita teman yang berada dalam kapal yang sama?”

Im Yoona berdecak geli. “Tak akan pernah lupa.”

 Dan—Tuhan seakan menguji janji-janji kecilnya pada Tiffany barusan ketika ia kembali ke rumah dan menemukan dua sosok sedang tertawa di dapur. Berbagi canda dan memasak makanan bersama.

Lee Donghae dan Jung Jessica.

To Be Continued

How? Is this good enough?

Mungkin chap ini terlalu mengecewakan ya? Maaf kalau memang iya.

Butuh waktu 2 bulan buat Chii bisa menghadap laptop lagi, ngetik lagi, dan tulisan ini ada setelah 3 jam Chii duduk di depan laptop, berjalan dengan sendirinya dan syukurlah tanpa hambatan.

Maaf untuk tidak ada update selama 2 bulan belakangan ini dan terima kasih buat yang terus comment, sebetulnya di part sebelumnya nggak perlu sampai 150, karena di part itu, Chii banyak membalas comment dan comment yang Chii tulis sama sekali bukan tanggung jawab reader, keterlambatan update kali ini murni karena Chii lagi nggak punya keinginan buat menulis selama 2 bulan itu. Dan Chii juga lagi liburan yang mana di liburan ini, otak Chii benar-benar blank, nggak tahu apa yang mau ditulis dan nggak tahu ide pada lari ke mana.

Karena itu, Chii benar-benar minta maaf. Dan mohon, untuk tetap meninggalkan comment, kenapa? Karena comment adalah penyemangat bagi penulis amatir seperti Chii.

Chii lagi haus penyemangat nih, keke.

 

Iklan

129 pemikiran pada “Marriage Without Love (14th) – Can’t Have You

  1. Itu yoona mencintai donghae katanya tadi yoona cuma menyukai tapi benci .. Kalo yoona mencintai donghae berani nasibnya sama kaya fany ya mencintai temen kecil tapi orang itu mencintai gadis lain

  2. Lanjut dong di lanjut!!!! Lama bgt lanjutannya capek nunggunya thor ToT ceritanya menggebu gebu bgt thor. Please ntar pas nge post lanjutannya langsung 3 chapter ya 😀

  3. Chiii,, aku ga tau part ini udah baca atau belum, tapi kayaknya belum terakhir aku baca part 13.. pada akhirnyadonghae kembali pada jessica, sedangkan Yoona dan Heechul masih mencari kebahagaiaannya.. senang dengan sifat tiffany, meskipun dia tau kalau orang yang di cintainya menyukai gadis yang bersamanya toh kedua gadis itu akrab dan saling bercanda..

Satu Komentar = Satu Langkah Mendekati BIAS~♥♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s