Reminiscence (Oneshoot)

remin.

Lee Donghae – Im Yoona

Oneshoot | Angst, Romance, Slice of Life | PG-15

Tafunazasso’s Storyline – 2013

Aku bertemu denganmu di musim panas tahun kedua puluhku.

Ketika seorang lelaki dengan garis wajah lembut, mata teduh, tersenyum hangat padaku di gerbang mungil rumahku. Rambutnya tampak halus dan kecoklatan ketika ditimpa sinar matahari.

Saat itu, aku tahu bahwa aku akan jatuh hati padamu suatu saat nanti. Aku akan mencintaimu hingga menyesakan setiap napasku.

Satu hal lagi yang kutahu saat itu, tak akan pernah ada kata kita di antara kau dan aku. Karena nyatanya, firasatku mengatakan, hanya perasaan saja yang bisa kusampaikan padamu, melalui titipan alam. Bukan sebuah pernyataan yang akan menyatukan kita berdua.

*

“Apa kau tak pernah berpikir mengapa burung merpati selalu kembali ke sangkarnya jika kentayaannya ia merindukan kebebasan?”

Kau, dengan mata teduhnya menatap kumpulan merpati di salah satu sangkar buatan yang dibangun di pelataran rumahmu. Semburat jingga dari terbenamnya matahari menyinari sebagian wajahmu, dan aku tahu, aku selalu menyukai saat itu.

Dalam sekali gerakan, kau merebahkan badannya di rerumputan dan meletakan kepalamu di kakiku, menjadikannya sebagai bantalan. Kembali bibirmu terbuka, “Jika dia kembali ke sangkar, bukannya dia akan kehilangan kebebasannya? Lalu, mengapa ia kembali?”

Aku ikut menatap ke arah tujuan matamu dan tersenyum tipis. “Karena sangkarnya adalah rumahnya. Ribuan kenangan tercetak di sana, kesedihan, kebahagiaan, dan ia merasa nyaman jika berada di rumahnya.”

Kau tersenyum tipis dan aku dapat melihat bagaimana matamu bersinar layaknya seorang bayi lugu tak berdosa. Kemudian jarimu menyentuh sebelah pipiku, “Kalau begitu, kau adalah rumahku. Tempat dimana aku selalu merasa nyaman.”

Saat itu, kubiarkan cahaya senja yang menjadi perantara perasaanku. Agar membisikan perasaan berbungaku pada dirimu yang tengah tersenyum padaku.

*

Kau berlari di depanku, menembus hujan daun maple. Kedua tanganmu terentang dan tawamu menggema. Terasa begitu menyenangkan untuk melihatmu seperti ini. Melihatmu bahagia dari dasar hatimu.

Kemudian berbalik dan berlari ke arahku. Hingga dalam satu gerakan yang membuat napasku tercekat, kau memelukku.

Merengkuhku begitu hangat di dalam tubuhmu. Membuatku merasakan aroma kayu manis dan mint dari dirimu.

“Dia mengatakan bersedia! Jung Jessica mengatakan bersedia menjadi kekasihku!”

Saat itu, dadaku terasa begitu kaku dan sesak secara bersamaan hingga nyaris membuahkan setetes air mata. Namun, aku menahannya ketika wajah cerahmu tertangkap kembali oleh mataku.

Tak ada satu pun kata yang bisa terucap oleh lidahku yang mengelu. Hanya sebuah senyuman lemah yang kuberikan.

Senyuman yang bahkan tak keluar dari secuil hatiku sekali pun.

Dan, aku menitipkan perasaan sesakku pada guguran pohon maple yang berserakan. Berharap mereka akan menceritakan padamu.

*

Kuharap kau akan kembali mengatakan padaku bahwa aku adalah rumahnya. Kuharap aku dan kau dapat kembali duduk berdua, di teras rumahmu untuk menatap senja. Kuharap aku dapat kembali berjalan bersisian dengan dirimu ditemani oleh pohon maple ketika pulang sekolah.

Ya, kuharap.

Dapat kudengar bagaimana danau kecil di sebelahku mengeluarkan bunyi-bunyinya ketika terpaan angin musim dingin menghampiri. Pertanda riak-riak lembut air akan berubah menjadi kokoh, menjadi tumpukan es yang akan menemani salju di musim dingin.

Kesepian saat ini memelukku, menenggelamkanku yang tanpa dirimu.

Sungguh. Aku merindukan candamu, senyummu, garis wajah lembutmu, mata teduhmu.

Kebodohanku adalah merindukan semua hal pada dirimu, yang kini telah menjadi milik seseorang lain di luar sana. Walaupun, nyatanya aku memang tak pernah pantas untuk merindukannya bahkan sebelum ini, karena semua itu memang tak pernah menjadi milikku. Kau tak pernah benar-benar menjadi milikku.

Kurapatkan mantel hitam tebalku untuk memelukku lebih erat dari angin. Dan, aku menangis.

Aku mengingat bagaimana seharusnya kau berada di sini, duduk di sisiku dan menemaniku seperti biasanya. Namun kini, aku sendiri terduduk di taman kecil ini tanpa dirimu yang akan merapatkan mantelku, merapikan rambutku yang berantakan karena angin, dan memelukku ketika udara semakin dingin.

Angin, bolehkan aku menitipkan seberkas perasaan agar kau sampaikan pada dirinya. Kumohon, sampaikan pada dirinya, bahwa aku begitu merindukannya. Dirinya yang kini tak lagi bersamaku dan bersama seorang lain.

*

Jung Jessica. Seorang gadis cantik dengan rambut emas itu, aku selalu mengenalnya sebagai primadona sekolah. Gadis yang ceria dengan tawa melengkingnya yang mampu memenuhi lorong sekolah.

Dia gadis dengan mata coklat indah dan menenangkan serta badan mungil yang terasa nyaman untuk direngkuh, berbeda dengan diriku yang bermata hitam gelap serta proposi tubuh yang tinggi tak berisi dan anti-sosial, tipe gadis perpustakaan yang hanya akan menjadi bahan taruhan lelaki.

Rahangku mengeras ketika kau dengan ringan merangkul pundak mungil gadis Jung itu. Dapat kulihat pandangan mata teduhmu yang begitu lembut pada gadis itu.

Bibirku bergetar dan air mataku tak lagi bisa kutahan.

Setetes air mata pun dengan mulus menuruni tulang pipiku. Air mata teruntuk dirimu yang kini berjalan menjauh tanpa bersisian bersamaku.

“Menangis?”

Suara itu nyaris tak asing untukku. Suara yang selalu mengikutiku belakangan hari ini.

Kemudian, dapat kurasakan kehangatan dari salah satu ujung jari pemilik suara tadi menghapus tetesan air mata di pipiku. “Shim Changmin,” gumamku lemah.

Shim Changmin, mungkin dia adalah salah satu dari lelaki yang bertaruh mengenaiku. Bertaruh dengan uang untuk mendapatkanku dan mencampakanku, dan semua itu sangat jelas ketika akhir-akhir ini ia tampak selalu mengejarku. Dan, aku sudah terlalu biasa merasakan menjadi bahan taruhan hingga tak lagi merasakan dendam atau marah.

Tapi saat ini, dia menggenggam tanganku lembut dan membuat darahku sedikit berdesir ketika senyuman bak malaikatnya terukir. Seakan mengetukku pelan dan mengatakan bahwa dirinya tulus berada di sisiku.

Namun, aku tak terlalu menyukai senyumannya. Karena, aku telah jatuh cinta pada senyumanmu. Aku terlalu mencintaimu hingga tak memedulikan apapun itu. Sungguh.

*

Akhirnya kau kembali, di sini, di sisiku, seperti sedia kala. Tapi, aku tahu, tak sepenuhnya kau utuh. Dari dalam matamu, aku dapat melihat rasa perih yang menghujam, dari senyumanmu yang tak lagi sempurna dapat kulihat tangis yang tersembunyi, kau tak lagi sama setelah kehilangan gadis itu. Gadis yang bahkan namanya sekarang tabu untuk disebutkan di antara aku dan kau.

Sore itu, hujan turun dengan deras dan aku kami seperti biasa, duduk di pekarangan rumahnya, menunggu senja yang mungkin tak akan terlihat setelah ditutupi hujan.

Hujan kala itu, kuharap dapat menghapus kesedihanmu, menghamparkan dirimu kembali menuju kebahagiaan.

“Maafkan aku.”

Aku menatapnya sejenak. “Untuk?”

“Kejadian tempo hari, aku tak memedulikanmu, maafkan aku.” Mata teduhmu menatapku dan membuat perasaanku teriris.

Senyuman masam terukir di wajahku, seiring dengan mataku yang menatap lebam kebiruan di pergelangan tanganku. Otakku memutar bagaimana kejadian tempo hari terjadi begitu cepat.

Di saat beberapa lelaki menghampiriku dan memakiku serta meneriakan nama Shim Changmin berpuluh kali, mereka menyalahkanku untuk sesuatu yang tak kupahami. Beberapa dari mereka mendorongku hingga terjatuh di lorong sekolah, menabrak loker besi. Belasan orang yang berada di sana sama sekali tak menolongku dan memilih untuk berpura-pura tak melihat.

Lalu, aku menemukan mata teduh itu berada di sana, menatapku dengan pandangan lurusnya. Kau ada di sana dengan gadis itu, Jessica Jung. Satu yang pasti, aku dapat mendengar suara sayatan di hatiku ketika kau berbalik dan pergi bersama gadis itu, seperti orang lain yang tak mengenalku.

“Aku dan Shim Changmin. Kami berpacaran.” Kata itu meluncur begitu lembut dari bibirku seperti sebuah sesuatu yang harus dimaklumi.

Dapat kurasakan sinar matamu melemah namun aku tak ingin terlalu menafsirkannya. Saat itu, aku mendengar kau tertawa pelan, “Selamat.”

Lirih. Kudengar suaramu begitu lirih, seperti di saat kau mengucapkan maaf. Penuh rasa bersalah.

“Dia berjanji untuk melindungiku. Kurasa aku menemukan rumah-ku.”

Kau menelan liurmu pahit ketika kalimatku berakhir. Aku pun tahu penyebabnya dan bolehkah aku sedikit berharap jika kau merasa sakit hati ketika kukatakan bukan dirimu lagi rumah-ku? Dan, apakah kau masih menganggapku sebagai rumah?

“Dan, aku kehilangan rumah-ku.”

Aku tak bisa menanyakan siapa yang kau maksud sebagai rumahmu. Apakah Jessica Jung yang sudah tak lagi menjadi kekasihmu? Ataukah—diriku yang memutuskan untuk menjadi milik orang lain?

Tetapi, kau beranjak berdiri ketika gemerisik hujan mulai berhenti dan berganti menjadi gerimis tipis hingga tak sempat aku menanyakannya.

Sempatkah aku menitipkan pada hujan tentang pertanyaan tak terjawabku ini?

*

Aku menatap wajah tenang Shim Changmin yang tertidur di atas mejaku. Sangat tenang dan berbeda.

Rambutnya hitam dan ikalnya sudah panjang, hampir menutupi tengkuknya. Berbeda dengan kau, dengan rambut lurus dan coklatmu. Kulitnya kecoklatan jika ditimpa sinar matahari sedangkan kulitmu begitu pucat. Matanya tajam dan lurus berbeda dengan milikmu yang selalu teduh dan lembut.

“Changmin-ssi.” Aku mengguncang pelan puncak kepalanya dan melihat dirinya terbangun kemudian tersenyum tipis padaku.

“Selamat pagi.”

Tawaku menggema singkat. “Kau masih mengigau rupanya.”

Dia tersenyum kembali. “Tidak juga. Aku barusan hanya mencoba sekaligus berharap dapat mengucapkan selamat pagi padamu setiap harinya di sisa hidupku.”

Itu adalah kalimat termanis keduanya setelah kata-katanya tempo hari ketika menjauhkan belasan lelaki yang mengelilingiku, tepat setelah kau pergi.

Shim Changmin yang tanpa berpikir panjang merengkuh tubuhku dan menempatkanku di belakang tubuhnya, di tempat yang benar-benar aman setelah terlindungi bahu lebarnya.

Ingat satu hal ini sebelum kalian mengganggunya. Aku akan selalu ada di depannya, untuk melindunginya, jika ada yang berani menyentuhnya, seharusnya kalian tahu apa yang akan terjadi, bukan?

Dia kemudian meminta maaf nyaris memelas kepadaku. Mengatakan bahwa ini semua kesalahannya yang selalu berada di dekatku dan membuat orang-orang yang membencinya menjadikan diriku target.

Namun, sejujurnya, aku tak terlalu mendengarkan perkataannya. Di otakku hanya terputar satu ingatan menyakitkan itu, ketika dirimu berjalan tanpa memedulikanku. Layaknya orang asing.

Hingga aku tersadar di saat yang tak tepat, di saat dirinya menanyakan kesediaanku menjadi kekasihnya yang kemudian entah bagaimana kata iya keluar dari bibirku.

Shim Changmin menggenggam tanganku dan meletakannya di sebelah pipinya. Dia tersenyum kembali. “Aku mencintaimu.”

Yang kutahu pasti adalah lidahku kelu untuk membalasnya. Karena hanya dirimu yang selalu dan selalu ada di pikiranku, memenuhi rongga otakku dan menjajah setiap sesak di dadaku.

*

Menemukanmu berdiri di ambang pintu rumahku pagi ini seakan mengepakan sayap kupu-kupu yang ada di rongga perutku. Kau dengan senyuman lembutmu dan mata teduhmu.

“Mau menemaniku ke taman hiburan?”

Aku mengangkat salah satu alisku dan tersenyum tipis. “Tentu.”

Dan di sinilah aku saat ini, bersamamu yang menggenggam tanganku erat. Melihat puluhan atraksi yang diadakan oleh parade taman hiburan. Melihatmu tersenyum begitu lebar layaknya seorang anak kecil memancingku untuk tertawa. Kau dan segala tingkah menyenangkanmu tak akan pernah gagal membuatku tersenyum, kau tahu?

“Malam ini adalah malam special, kau tahu? Mereka akan menerbangkan ribuan lentera dan kita bisa menulis harapan kita di lentera itu.”

Seiring dengan kalimat itu meluncur dari bibirmu, seorang anak kecil yang memakai kostum lebah menyerahkan sebuah lentera mungil yang bersinar keemasan padaku. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dan menemukan hampir seluruh orang memegang benda yang sama.

Kemudian aku menatapmu yang sedang mengawang entah kemana. “Kau duluan.” Kuangsurkan lentera di tanganku padamu dan tersenyum tipis.

Kau kemudian mengeluarkan spidol di saku celanamu dan mulai mencoret salah satu sisi lentera berbentuk tabung tersebut. Aku dapat melihat senyuman lembutmu dari balik lentera itu.

“Apa yang kau tulis sampai tersenyum seperti itu?”

Dengusan gelimu terdengar. “Kau boleh melihatnya sendiri.” Kau angsurkan kembali lentera itu padaku sambil tersenyum lembut. “Bacalah.”

Aku mengangkat salah satu alisku dan memutar lentera tersebut hingga menemukan coretan spidolmu.

Biarkan dia untuk selalu bahagia dan tersenyum.

“Siapa dia yang kau maksud?”

Kau menggelengkan kepalamu perlahan dan tetap tersenyum tipis. “Kau tak mengenalnya.”

Sepasang alisku terangkat kemudian kurebut spidol di tanganmu dan mulai menulis harapanku tepat di sebelah harapanmu.

“Apa yang kau tulis?”

Nyaris aku memekik ketika kau mencoba untuk membaca tulisanku dan dengan secepat yang kubisa, lentera itu kulepaskan dari tanganku, hingga terbang melayang meninggalkan kau dan aku, menyusul lentera-lentera lain yang telah terbang mendahuluinya.

“Tidak adil.”

Aku hanya tertawa singkat mendengar ucapanmu barusan. “Apa aku berkata kalau aku akan menunjukan permohonanku?”

Kau tak lagi menjawab, terlalu terpukau oleh keindahan ribuan lentera yang memenuhi langit malam, sama seperti orang-orang lain yang berada di sini, dan aku?

Tidak lentera. Tidak langit malam yang bercahaya. Mereka tidak membuatku terpukau melebihi keterpukauanku padamu yang tersenyum lebar ketika menatap mereka.

Mungkin tak ada satu pun yang mampu mengalahkan dirimu di dalam diriku. Bodohnya aku.

“Jadi, apa yang kau tulis?” Kau menatapku tiba-tiba dan mengangkat salah satu alismu.

“Rahasia.” Aku tersenyum tipis dan menghindari pandanganmu untuk sekedar tersenyum.

Jauhkan dia dari kesedihan dan biarkan dia selalu tersenyum.

Tak kurang dan tak lebih dari harapanmu, benar?

*

Aku menatap mata tajam Shim Changmin dengan lembut. “Kenapa menatapku seperti itu, Changmin-ssi?”

Dia memutar bola matanya jengah. “Bisa berhenti memanggilku dengan embel-embel itu? Aku kekasihmu, bukan orang asing.”

Tawa renyahku terdengar. “Lalu, kau mau kupanggil apa?”

“Buatkan aku panggilan yang manis,” pintanya dengan mata berbinar.

Choding.” Aku mengangkat salah satu alisku, meminta pendapat padanya. “Bagaimana?”

Wajahnya berkerut tampak tak suka. “Apa yang akan orang pikirkan jika kau memanggilku dengan choding?”

“Bukankah manis? Seorang choding dengan tubuh raksasanya.”

Saat itu, ponselku berbunyi pelan dan di layar tertulis namamu. Tanpa berpikir, aku mengangkatnya dan menemukan suaramu yang parau. “Donghae?”

“Apa kau bisa menemuiku?”

Kutatap Changmin yang berjalan di sebelahku dan kemudian berganti menatap ponselku. Seiring dengan dengusan khawatirku, “Ya.”

“Datanglah.”

Tanpa berkata lebih, kau mematikan sambungan.

“Changmin-ssi!” Aku menatap wajah tampannya gelisah.

Shim Changmin mengerutkan dahinya. “Bukankah kita sudah sepakat dengan nama panggilanku, Yoona?”

Aku menggigit lapisan bawah bibirku. “Maaf, aku harus pergi.” Dengan cepat aku membungkukan kepala sedalam mungkin di depannya.

Dia mencengkram pergelangan tanganku sesaat setelah aku berbalik dan hendak melangkah pergi. “Pergi? Kemana?” Shim Changmin mengangkat salah satu alisnya. “Lee—Donghae?” ucapnya lambat-lambat.

Kupejamkan mataku pasrah karena aku tahu, hal ini akan menimbulkan masalah.

“Bukankah sudah kukatakan untuk menjauhi dia?”

“Tapi—dia sahabatku, Changmin-ssi!”

“Dan, aku kekasihmu, Im Yoona!”

Pipiku terasa memanas ketika tamparannya bersarang di sana. Air mataku sudah mengalir saat itu.

Shim Changmin memegang telapak tangannya penuh rasa bersalah. Ia menatapku lembut. “Maaf.”

“Baiklah, kau memang kekasihku—dan aku tak pernah mencintaimu,” geramku.

“Yoona?”

“Aku tak pernah mencintaimu.” Dan, kenyataan itu menguak begitu saja meninggalkan pias sakit hati di wajahnya. “Mengerti?”

Separuh otakku sudah berhenti bekerja saat ini—tepatnya setelah mendengar suara parau milikmu barusan di telepon. Saat ini, aku hanya ingin berlari menemuimu secepat mungkin untuk memastikan kau baik-baik saja.

Mungkin otakku dan bibirku tak lagi bekerja sama dengan baik saat itu sehingga aku berteriak kasar nyaris seperti kesetanan ketika Shim Changmin mencengkram kembali pergelangan tanganku dan membalas setiap teriakanku.

Aku bahkan lupa jika kami masih berada di jalanan, di tempat umum, dimana semua orang yang berjalan di sekitar kami menatap pertengkaran kami dengan wajah sarkastik dan tak senang. Namun, aku tak lagi peduli, aku hanya ingin melepaskan diri dari Shim Changmin saat ini dan menemuimu.

“Im Yoona!”

“Lepaskan aku, Shim Changmin!”

“Dan, membiarkanmu pergi menemui dia? Jangan bercanda.”

Kembali tamparan itu bersarang di sebelah pipiku namun kali ini terasa lebih menyakitkan dan panas hingga nyaris membuatku jatuh.

Dia—dengan mata elangnya, menatapku keruh. “Masih bermaksud untuk pergi, Yoona?” Sebuah senyuman sarkastik yang tak menyenangkan terkulum di bibirnya.

Saat itu, aku ketakutan. Sungguh. Dia kembali mencengkram lenganku dan menyeret tubuhku mengikutinya. Tubuhku sudah lelah, terlalu lelah untuk berusaha melepaskan diri darinya.

Aku kemudian menangis tak berdaya. Ketakutan, kecemasan, semua bergemuruh menjadi satu ketika tangan dingin Shim Changmin terus mengeratkan cengkramannya ketika aku berusaha memberontak lemah.

Saat itu, sebuah telapak tangan besar, mencengkram lenganku yang lain, yang terbebas dari cengkraman Shim Changmin. Tangan lembut yang mencengkramku tanpa rasa sakit.

Air mataku justru mengalir kian deras ketika pandanganku bertumbuk pada mata teduhmu. Mata yang menyiratkan kekhawatiran. Sepasang mata yang membuatku merasa kian aman.

“Apa yang terjadi?”

“Bukan urusanmu.” Diiringi oleh decakan khas, Shim Changmin menjawabnya. Lelaki itu kemudian melepaskan cengkramanmu di lenganku dan berusaha menyeretku kembali.

Namun, entah dengan kekuatan darimana, atau mungkin darimu? Aku melepaskan diriku dan berjalan tertatih untuk memelukmu, mencari perlindungan darimu.

Apa kau tahu bagaimana bahagianya diriku ketika kau melingkarkan lenganmu di sekeliling tubuhku dan memberikanku kehangatan serta perlindungan—hal yang paling kubutuhkan saat itu?

Bukan hanya itu, aku juga begitu bahagia ketika dengan suara rendah kau menyentak Shim Changmin untuk mundur dan tak menyentuhku.

Hingga pada akhirnya, aku hanya bisa menangis di dalam pelukanmu—di dada bidangmu ketika Changmin dengan puluhan sumpah serapahnya berjalan menjauh. Menangis bukan karena kesedihan—melainkan perlambang kebahagiaan, aku menangis seakan tak pernah menangis di seumur hidupku.

Saat itu, kutitipkan ribuan perasaan yang berkecamuk di dalam hatiku pada air mata yang mengalir di kedua mataku, untuk disampaikan pada dirimu yang kini memelukku—memberikanku perlindungan ternyaman yang pernah kurasakan.

*

“Aku yakin dia pasti psikopat.”

Senyuman masam terukir di wajahku. Sepasang telapak tanganku kembali mengeratkan jaket milikmu yang membungkus tubuhku, aku mencoba menghirup dirimu dari sana, membiarkan wewangian kayu manis dan mint memeluku dari sana, seakan merasakan dekapanmu.

“Kenapa kau bisa ada di sana, Donghae?” Aku memiringkan wajahku dan menatapmu.

Kau tersenyum tipis padaku. “Bagaimana jika kukatakan padamu kalau aku menguntit kalian?”

Aku mengerutkan dahiku. “Menguntit?”

“Aku menelponmu tadi karena aku tahu kau sedang bersamanya—Shim Changmin.”

Tenggorokanku tercekat. “Kau tahu?” Baiklah, tak ada lagi hal selain tercekat yang kualami saat ini, bukan, bukan hanya tercekat sebenarnya, aku juga merasa bagaimana harapanku melambung karenamu saat ini.

Kau menatapku dengan mata teduhmu yang kini menyorotku dengan kelembutan yang bahkan tak bisa kutahan. Saat itu, seakan ada suatu magis yang menyalurkan setiap apapun yang ada di pikiranmu untuk kuketahui tanpa perlu ada kata terucap.

Dan, detik itu juga, air mataku membuncah dan ketika kurasakan sepasang tangan besarmu merengkuhku ke dalam kehangatanmu yang dipenuhi oleh wangi segar mint serta kayu manis—Demi Tuhan, aku merindukanmu dan setiap wewangian yang membuatku gila ini.

“Terima kasih.” Kata itu nyaris terdengar sebagai sebuah bisikan dan sedikit tertelan oleh bagaimana erat kau mendekapku hingga tak dapat kupastikan apakah kau mendengarnya atau tidak.

Tapi, aku tak lagi mengulangnya. Tak perlu mengulangnya karena selanjutnya, hanya udara tipis yang kau dan aku hirup yang dapat kutitipi betapa pesan tentang melambungnya perasaanku saat ini—ketika bibir hangatmu menyentuh miliku, mengundangku pada kebahagiaan yang kuharap tak akan berujung. Selamanya.

*

Pandanganku akhirnya bertemu dengan iris hitam gelapmu. Dapat kurasakan seiring detik berganti bagaimana kau menatap ke arah beberapa pria yang mengelilingiku dengan geram seakan dapat membunuh mereka semua meski hanya dengan tatapan.

Di saat sebuah tangan menyentuh pundakku dari arah belakang, dapat kurasakan bagaimana tubuhku bergetar oleh aura kuat itu—aura milik Changmin yang terasa mengintimidasi.

“Lepaskan aku, Changmin,” bisikku sekecil mungkin namun tetap berusaha terdengar tetap tegar tanpa ada ketakutan meski aku sendiri tak dapat menjaminnya.

“Hah?” Shim Changmin kemudian tertawa, terlihat berlebihan di mataku ketika ia memegangi perutnya seakan sedang menertawakan sebuah lelucon paling lucu di dunia. Ia bahkan mengusap air mata di sudut matanya yang dihasilkan oleh tawa keras dan gilanya. Baiklah, termasuk dengan bibir pucat serta mata merah pertanda bahwa ia belum tidur selama beberapa hari, ia benar-benar tampak tak waras.

Aku memejamkan mata frustrasi dan kembali menggerakan tanganku yang terikat menjadi satu di belakang kursi yang kududuki. Dan, aku sudah mencobanya selama beberapa jam setelah orang-orang milik Changmin membekapku lalu membawaku ke sini, namun kali ini meski sudah keseratus kali aku mencoba, tetap tali di tanganku tak bergeming, tetap mencengkram pergelangan tanganku dengan sempurna.

“Kau tetap seorang anak kucing yang manis—oh, tapi kurasa bukan, kau memang tetap anak kucing yang lemah, tapi tidak lagi manis, Yoona. Dan, selamat datang, Lee Donghae!” Shim Changmin kini telah kembali berdiri di sebelahku dan tengah melebarkan tangannya, seakan menyambut dengan riang kedatanganmu. Dapat kurasakan bagaimana tubuhku kembali bergetar ketakutan ketika mata kau dan aku bertemu—untukku, aku selalu berharap agar kau bisa membaca pikiranku, pikiranku yang saat itu sangat ingin menyuruhmu berlari menjauh dan meninggalkanku.

“Hai.” Bibirmu bergerak tanpa suara, menyapaku dengan sebuah bisikan yang kurasa hanya kau dan aku saja yang tahu—karena Changmin dan orang-nya yang berjumlah 3 orang itu kini telah mengobrol yang kuyakini bukan obrolan yang bagus, baik untukmu maupun untukku.

“Pergilah.”

Kau tersenyum kemudian menggelengkan kepala pelan. “Aku kemari untukmu jadi jangan mengusirku.” Dapat kubaca bisikan tanpa suaramu seiring dengan senyumanmu yang tetap sama—menenangkan dan itu cukup berefek untukku.

“Baiklah. Berhenti saling menatap dan memasang ekspresi menggelikan seperti itu.” Shim Changmin nyaris membuatku melonjak mundur ketika secara tanpa diaba-aba wajahnya muncul dari arah samping dan menutupi pandanganku padamu. Ia tersenyum lebar namun berbeda dengan milikmu—aku ketakutan ketika melihat senyuman penuh rahasia miliknya, aku ketakutan, Donghae.

Aku mengepalkan tanganku yang masih terikat. Dapat kurasakan bagian bawah bibirku mulai perih setelah gigi-gigiku menancap di sana, menandakan betapa keras diriku untuk menahan tangis.

Ketika wajah Shim Changmin masih menutupi pandanganku dapat kudengarkan suara bedebam di seberang ruangan dan kurasakan jantungku terlalu keras bekerja untuk berdetak ribuan kali lebih cepat hingga napasku tersenggal, melemas karena membayangkan suara itu berasal darimu. Sedetik kemudian, Shim Changmin kembali meluruskan tubuhnya dan dapat kulihat kini kau berlutut di seberang sana, dengan darah di pelipismu mengalir menetes di atas tanah.

Aku memekik, berteriak, meronta, melakukan apapun yang kuharap bisa kulakukan untuk menghentikan langkah Changmin yang kini berjalan padamu. Sosok tingginya mengintimidasiku, membuatku ratusan kali lipat ketika ia mencengkram tengkukmu dan mengarahkan kepalan tangannya pada salah satu sisi wajahmu.

Di saat air mata mulai membuncah memenuhi kelopak mataku, kau menatapku dan kembali tersenyum lemah. Namun tak ada yang berubah di senyuman itu, mereka tetap menenangkan meskipun kini sudut bibirmu sudah terkoyak dan mengeluarkan darah namun, tetap berefek sama padaku—menenangkan.

“Kau berjanji untuk melepaskannya jika kau membunuhku, ingat?”

Pertanyaanmu barusan terdengar begitu santai meskipun kini 4 orang lelaki tengah mengelilingimu dengan berbagai senjata seperti kayu ataupun pisau, dan melebihi apapun, saat mendengarkan itu, aku menangis.

Kembali aku memekik ketika salah seorang menendang rusukmu dan mengarahkanmu pada sebuah raungan kesakitan yang dapat kubayangkan merobek jantungku. Aku menangis, benar-benar menangis seakan tak ada lagi hal lain di dunia ini yang dapat kutangisi kelak. Aku ketakutan, seakan semua yang ada di dunia tak ada yang lebih menakutkan dibandingkan saat ini. Dan, memang tak ada, tak ada yang melebihi ketakutanku untuk kehilanganmu.

Tuhan, Bisakah kutitipi kau pesan betapa ketakutannya aku saat ini? Apa kau bisa menolongku?

Saat itu, kurasakan tali di pergelangan tanganku mengendur. Dan, Tuhan menjawab doaku. Dia menerima pesanku. Dia membantuku—oh, bukan, dia membantu kita, Donghae.

Tali itu jatuh begitu saja di lantai ketika aku menggerakan sedikit tanganku dan aku bahkan lupa bagaimana sebelum ini aku berusaha keras untuk melepaskannya. Entahlah, cara kerja Tuhan memang tak pernah bisa kubayangkan dan aku mulai merasa bersalah karena tak pernah mempercayai kehadiran-Nya.

Mungkin aku bodoh karena sesaat aku ragu untuk bergerak mendekat ke arahmu yang terus berteriak kesakitan dan tanpa perlawanan ketika tendangan atau pukulan mengarah padamu. Saat itu kakiku bergetar dan mati rasa, aku ketakutan, baiklah, aku ketakutan.

Namun selanjutnya, aku merasa bersalah melebihi apapun. Aku teringat bagaimana Changmin menelponmu untuk memintamu datang setelah membawaku kemari. Dan, meskipun tanpa jam atau satu alat apapun yang bisa menunjukan waktu, aku dapat merasakan betapa cepatnya kau datang. Tanpa keraguan.

Dan kini, aku di sini, penuh rasa ragu serta ketakutan seperti anak kucing?

Baiklah, aku merasa bodoh.

Aku kemudian mengepalkan tanganku. Mempersiapkan kakiku untuk bergerak dan otakku untuk memikirkan rencana—baiklah, aku tak bisa memikirkan rencana, aku hanya dapat memutuskan sebuah hal nekat, menerjang keempat pria itu dan membawamu lari. Sederhana.

Selanjutnya, rencana—baiklah, hal nekat yang kupikirkan buyar begitu saja ketika kulihat Shim Changmin mulai mengarahkan pisau di tangannya padamu yang kini terbaring penuh lebam di atas tanah.

Setidaknya, aku memang mengikuti hal nekat itu, aku memang berlari seperti orang gila dan menerjang ke arah mereka namun hal itu tak sempurna karena aku tak bisa membawamu lari. Hal yang kulakukan adalah memeluk tubuhmu dan melindungimu dari apapun yang akan terjadi selanjutnya.

Tangamu bergetar ketika memeluk tubuhku balik namun selanjutnya kau menggeser tubuhku kasar. “Jangan lukai dia!” Kau menggeram ketika mencengkram pisau yang mengarah ke arahku.

Tanpa ragu, kemudian kau menempatkan diriku di belakang tubuhmu, melindungiku dari segala pukulan atau tendangan. Tapi, otakku seakan kosong ketika Shim Changmin mengarahkan pemukul besi yang ia pungut dari tanah barusan. Dan selanjutnya, aku hanya bisa berlari, melindungimu, hingga sebuah suara keras terdengar di telingaku—dan selanjutnya, kepalaku terasa meledak, berdenging, lalu hanya hitam, hitam, dan hitam yang kulihat. Bukan, aku masih sempat melihatmu menatapku penuh rasa ketakutan—oh, itu kekhawatiran. Dan bagaimana kemudian kau berbalik, mengamuk, tapi setidaknya itu membuatku sedikit lega karena Changmin dan orang-orang-nya tak akan lagi menyakitimu.

Aku benar-benar melepaskan seluruh tenagaku dalam kelegaan bahwa aku tak kehilanganmu.

Meskipun keesokan harinya, aku menemukan dirimu menangis di makamku. Meskipun hari-hari selanjutnya, aku menemukan kau terus mencariku. Meskipun aku tak lagi bisa berjalan di sebelahmu.

Tapi aku tak kehilanganmu. Dan itu cukup, Lee Donghae.

Ini mungkin sebuah kisah yang tak memiliki akhir bahagia seperti dongeng-dongeng tidur. Namun, aku ingin agar kisah kecil ini selalu selalu melekat di sudut hatiku, untuk membawanya menuju surga hingga aku bisa menceritakannya pada malaikat-malaikat di sana.

Satu pinta kecil yang ingin kusampaikan pada mereka, agar malaikat-malaikat Tuhan itu bersedia untuk menitipkan kepada tetes-tetes hujan yang turun di bumi, kepada udara tipis yang berhembus, dan kepada titik-titik embun, beberapa kata yang tak pernah tersampaikan oleh bibirku pada dirinya…

“Kau tidak sendiri. Aku menitipkan diriku pada angin, pada udara, pada hujan, pada mentari, aku menitipkan seluruh perasaan yang akan selalu menemanimu sampai kapanpun. Aku ingin kau tahu, bahwa aku ada dan aku mencintaimu…”

END

Hi!

Oke, jadi pelajar itu…argggh!! Matematika, Fisika, Kimia!!

Kayaknya Chii udah mati deh gara-gara pusing mikirin sekolah…oke, mungkin Chii memang udah mati dan ini yang nulis hantu Chii yang gentayangan, raawr .___.

Maaf, untuk lama ilang dan nggak ada update, moga update-an ini bisa ngobatin yaa kerinduan (?) reader sama Chii :3 kekeke.

And, untuk MWL…Baby don’t keeeeraaaay…tunaiiikkkk, maaf beribu maaf, Chii  belum bisa posting dalam waktu dekat ini…selain karena Chii mau liburan (Keluar dari kehidupan sekolah dan pelajaran, uyeeeah) ke tempat Mama di Yogya, Chii rasa Chii masih dalam masa, okeh, masa labil karena masalah ortu (Divorce and other blablabla). Bisa Chii minta doa buat semua yang terbaik yaa? Okeeh? keke :3

Oh ya, siapa yang udah dengerin album XOXO, keke, Chii jatuh cinta sama Jong In, Luhan, Kris, Rectangle love itu mah ceritanya :3

Nah, gimana cerita di atas? Mengecewakan kah? Comment yaaa :3

Salam Pyro :3 Love you guys :3 I will be back as soon as posible :3

Iklan

46 pemikiran pada “Reminiscence (Oneshoot)

Satu Komentar = Satu Langkah Mendekati BIAS~♥♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s