Marriage Without Love (13th) – That Painful Memories

Marriage Without Love (13th)

– That Painful Memories –

Cast :

Im Yoona, Jung Jessica, Hwang Tiffany,

Choi Siwon, Lee Donghae, Kim Heechul.

Series, Romance, Wedding Life, Sad, General

Poster By : Soomi Artposter

A/N :

Ini dia part ke-13 !

Makasih masih tetap setia sama FF yang makin lama makin nggak tau kemana arah jalan ceritanya ini*bow*

Cerita ini memang pasaran, cerita tentang pernikahan tanpa cinta, kalian mungkin bisa menemukan cerita seperti ini dimanapun tapi semoga kalian bisa menikmati cerita yang Chii tulis ini ^^

Warning ! FanFic ini akan memiliki part bejibun, mungkin belasan atau bisa jadi 20 lebih.

Silent Reader*Hush Hush*

Plagiator*Kick*

Happy Reading ^^

 marriage-without-love1

– That Painful Memories –

(Marriage Without Love – 13th)

— Tafunazasso Storyline —

Entah bagaimana caranya, mereka dalam sesaat saling menahan napas bersamaan. Ketika mata Lee Donghae terus bertumbuk pada Jessica Jung, Im Yoona tersenyum miris. Ketika Im Yoona mengarahkan sudut matanya  dan dengan pandangan menyendu terus menatap Choi Siwon yang sedang merangkul Tiffany, rahang Lee Donghae menggertak separuh geram karenanya. Ketika Tiffany Hwang menemukan bagaimana Choi Siwon menatap Im Yoona, gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya karena merasa ada sesuatu yang aneh terjadi di sini. Hingga semua itu mengalir ke satu kesimpulan, mereka belum siap untuk menatap satu sama lain seperti saat ini. Hati mereka belum siap.

“Ini, seperti drama-drama kacangan di televisi, benar? Ketika para peran utama yang memiliki hubungan satu sama lain bertemu tanpa disengaja.” Kim Heechul memecah keheningan sesaat di antara mereka.

Mata-mata di sana kini teralihkan padanya. Termasuk Jessica Jung yang sontak langsung menyikut rusuk lelaki itu pelan.

Im Yoona kembali tersenyum miris sesaat ketika menangkap Lee Donghae menatap gadis pirang itu masih dengan tatapan lembut yang sama, masih sama seperti beberapa bulan yang lalu sebelum semua masalah menampakan jati dirinya.

“Aku—sepertinya mulai mengerti…” Tiffany Hwang mengerutkan dahinya. Dengan perlahan ia berjalan memutar hingga kini tubuhnya persis berhadapan dengan Im Yoona. “Kau…Im Yoona, bukan Hana Lee.”

Gadis bermata rusa tersebut tersenyum lemah. Semua terbongkar dan tak tersisa jadi untuk apa ia berbohong lagi? “Saat di Jepang, mereka mengenalku sebagai Hana. Dan di sini, aku Im Yoona.”

Tiffany membulatkan mata permennya hingga sedetik kemudian muncul senyuman indah di mata beningnya. Ia lalu mencengkram lembut bahu Im Yoona. “Kau cantik sekali. Ya Tuhan! Oppa! Kau memang pintar memilih wanita.” Gadis itu berbalik sejenak dan mengangguk-anggukan kepalanya bersemangat pada Choi Siwon yang kini berdiri di belakangnya.

Dahi indah Im Yoona lantas berkerut tak mengerti ketika gadis di depannya terus tersenyum begitu lebar padanya. Apa yang terjadi di sini? Bukankah seharusnya Tiffany Hwang membencinya karena telah menipunya bahkan ia menyangka gadis bersenyum indah ini akan menamparnya atau sekadar memakinya, lalu apa yang terjadi saat ini?

Tawa berat Kim Heechul kemudian terdengar. Lelaki jenjang itu berjalan perlahan mendekati Tiffany Hwang dengan kedua tangan di saku celananya lalu ia mengangkat sebelah tangannya dan merangkul gadis mungil itu. “Potongan drama kacangan ini tidak menjadi drama kacangan lagi karena kau, Nona Manis.” Keduanya lalu tertawa pelan bersamaaan. Meninggalkan orang-orang di sekitar mereka terjerat dalam ketidakpahaman.

“Siapa namamu?” Setelah parade tawa keduanya terhenti, Kim Heechul bertanya pada gadis yang masih ia rangkul, masih dengan tatapan geli.

Dan, kembali hawa canggung menguar ketika Choi Siwon dengan perlahan menurunkan tangan lelaki itu di bahu Tiffany dan menarik gadis itu untuk kembali berdiri di sebelahnya.

Seketika Kim Heechul mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Maafkan aku,” tambahnya masih dengan seringaian yang sama. Dia lalu kembali melangkahkan kakinya dan kembali berdiri di sebelah Jessica Jung yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.

“Namanya Tiffany Hwang.” Choi Siwon berkata pelan dan selanjutnya disambut dengusan milik Lee Donghae. Dengusan yang muncul ketika Im Yoona tak sedikit pun mengalihkan tatapannya dari lelaki bermarga Choi itu.

Yoona lantas mengalihkan tatapannya pada mata teduh Donghae dan ia tersenyum kecil ketika menemukan lelaki itu tengah menatapnya. “Bukankah kau mau mengambil minuman?” bisiknya. Ia meninggalkan begitu saja percakapan kecil yang terjadi di antara Tiffany dan Heechul.

Lee Donghae mendengus geli ketika mengingat bagaimana ia membalikan arah jalannya di saat matanya menangkap Choi Siwon tengah berjalan mendekati Yoona. “Aku lupa.” Oh, setidaknya alasan ini masih bisa menutupi kekonyolannya.

Im Yoona menaikan salah satu alisnya dan tersenyum tipis. “Terima kasih telah kembali di saat yang tepat. Aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya untuk tetap berdiri di sini menghadapi mereka jika kau tak tak di sini.” Dan, untuk pertama kalinya, Im Yoona merasa begitu ringan setelah mengungkapkan kejujuran barusan. Bukankah ia memang sudah bertekad untuk membiarkan semua berjalan layaknya air dan membiarkan apa yang ada di hatinya untuk diungkapkan. Seperti saat ini, ketika kalimat barusan menyiratkan betapa ia membutuhkan Lee Donghae  di sampingnya, dan ia berharap lelaki itu dapat mengerti makna kalimat tersebut, Bukan untuk sesuatu yang muluk agar Lee Donghae membalas perasaannya dan merasakan hal yang sama untuknya, ia hanya ingin lelaki itu untuk setidaknya mangalihkan padangannnya bahwa ada seseorang gadis di sini yang menyimpan perasaan untuknya, dan bahwa ada seorang gadis di sini yang begitu tegar jika lelaki itu berada di sisinya.

Lee Donghae hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Lelaki itu lalu mengacak pelan rambut Im Yoona.

“Manis sekali.” Keduanya mengalihkan pandangan nyaris bersamaan ketika suara berat Kim Heechul yang dibuat semanis mungkin terdengar.

“Manisnya,” timpal Tiffany. Kemudian mata bulatnya bergerak perlahan untuk menatap Choi Siwon hingga sebuah pertanyaan melayang dari bibirnya, “Jadi, dia suamimu, Im Yoona-ssi?” Pertanyaan yang tentu sangat serasi dengan kepribadian terus terangnya.

Seringaian Kim Heechul kembali muncul hingga sedetik kemudian Jessica kembali menyikut rusuk lelaki itu seakan memerintahkan kepadanya agar tak lagi membuka mulut untuk menguak hal-hal yang tidak seharusnya menjadi hak lelaki itu untuk mengatakannya. Kim Heechul kemudian menghela napas pendek. “Baiklah. Aku akan menjadi lelaki manis yang pendiam, mengerti? Jadi, jangan menatapku seperti itu.”

Saat itu, tak ada yang lebih menyesakkan bagi Lee Donghae kecuali melihat punggung mungil milik gadis pirang yang dulunya selalu berada dalam pelukannya, kini dengan ringan berada di dalam rengkuhan Kim Heechul.

Saat itu pula, tak ada yang lebih menyesakkan bagi Im Yoona kecuali ketika ia kembali melihat tatapan teduh Lee Donghae berubah begitu sendu. Ya, menyendu ketika menatap Jung Jessica berada dalam rengkuhan lelaki lain.

Manik mata indah Tiffany Hwang kemudian berputar menatap ke arah Choi Siwon ketika tak menemukan jawaban apapun dari bibir-bibir yang lain. Ia melipat tangannya di depan dada seakan meminta penjelasan pada lelaki itu.

Dan, Choi Siwon tahu, apapun itu, jika gadis bermata indah tersebut telah menatapnya dengan pandangan seperti itu, ia tak akan bisa berkilah apalagi berbohong. Hingga sebuah senyuman kusam tergantung di bibir tipisnya, “Kenalkan, dia Im Yoona dan lelaki yang di sebelahnya adalah Lee Donghae, mereka—menikah 3 bulan lalu.”

Entah darimana, sebuah seringaian tipis muncul paras Lee Donghae. Ia merasa dirinya telah menang seiring dengan kalimat milik Choi Siwon barusan. Meskipun sama sekali tak tersirat sebuah pengakuan atau hal-hal yang bersangkutan dengan itu, namun setidaknya, lelaki tersebut telah mengatakan dengan jelas bahwa Im Yoona adalah istrinya, apa lagi yang ia butuhkan untuk saat ini?

Namun, senyuman itu menghilang dari paras tampannya ketika tanpa sengaja sepasang matanya menatap gadis pirang yang berdiri di depannya dan tengah menatapnya masam dengan sepasang iris coklat indah itu. Gerakan bola matanya kemudian terhenti lama dan terpaku hingga dalam detik demi detik, manik mata keduanya bertemu seakan berbagi cerita, berbagi rasa sakit, berbagi kenangan, seakan ada sebuah reuni kecil di dalam tatapan mata itu, ada seribu cerita indah di baliknya.

Hingga Jessica Jung tersadar dengan kebodohan yang telah ia lakukan. Ia tersadar tentang dosanya yang mungkin tak akan pernah dimaafkan, ia teringat tentang perbuatan bodohnya dan bagaimana ia harus menahan kakinya untuk tak berjalan kembali ke sisi lelaki itu, karena ia mengetahui, ini adalah karmanya, ini adalah balasan yang setimpal untuk dosa kebodohannya di masa lalu. Menyakiti sepasang manusia tak bersalah, inilah karmanya, untuk menolak kebahagiaan yang ia yakini akan ia dapatkan ketika bersama Lee Donghae…ia harus merasakan rasa sakit melebihi kedua orang yang ia hancurkan kebahagiaannya.

Gadis itu tersenyum tipis sekilas sebelum menunduk perlahan untuk menghindari tatapan mata milik Donghae. Sedangkan, Lee Donghae menggertakan rahangnya geram. Dengan langkah berat, ia berjalan dan berdiri tepat di depat Jessica yang masih kukuh untuk menundukkan kepala meskipun telah mengetahui lelaki masa lalunya kini tengah berdiri di depannya, menatapnya begitu tajam. “Apa aku bisa meminta waktumu untuk sedikit berbincang?” Suara lelaki itu terdengar begitu rendah di telinganya, begitu penuh luapan kemarahan.

Jung Jessica akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Ia lalu memiringkan kepalanya, “Bukankah sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi?”

Ketika Lee Donghae dengan kasar mencengkram lengan atas Jessica, telapak tangan Kim Heechul bergerak cepat untuk menepisnya, begitu pula dengan Im Yoona yang melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mencengkram bahu Lee Donghae lembut.

Dan, Im Yoona hanya bisa menahan napasnya ketika Lee Donghae menepis tangan mungilnya dan kembali bergerak cepat, meraih pinggang ramping Jung Jessica, dan mendekatkan wajahnya.

Berbeda. Semua terlihat begitu berbeda jika dibandingkan dengan ciuman singkat mereka beberapa hari lalu. Bahkan dirinya tak mengerti dimana letak perbedaan itu, dia hanya tahu, ada yang berbeda di sana. Ada.

Bahkan Im Yoona tak tahu bagaimana dengan mulusnya setetes air mata mengalir melewati tulang pipinya. Mengalir begit perlahan seiring dengan dadanya yang begitu sesak. Sesak hingga ia melupakan bagaimana caranya untuk bernapas dengan benar.

Kemudian, ia hanya bisa memejamkan mata ketika Kim Heechul dengan kasar mencengkram pundak Lee Donghae dan mendorong lelaki itu. Ia hanya bisa mendengar bagaimana Kim Heechul mengumpat, bagaimana suara isak tangis Jessica Jung, bagaimana Lee Donghae tetap terdiam, hingga bagaimana langkah Choi Siwon berderap memisahkan pertengkaran itu, dan terakhir, yang bisa ia dengar adalah Tiffany Hwang menepuk perlahan pundaknya, memeluknya, dan mengucapkan berbagai macam ucapan penuh kekuatan.

“Semua akan baik-baik saja. Kau mencintainya, dan aku yakin dia juga mencintaimu.”

Bahkan dirinya tak mengerti siapa lelaki yang dimaksud Tiffany di dalam kata-kata itu. Jika lelaki itu adalah Choi Siwon, mungkin merupakan sebuah kesalahan, karena ia menyadari, dirinya bukan mencintai Choi Siwon namun perasaan itu adalah sekedar perasaan terpesona dan jika lelaki itu adalah Lee Donghae, merupakan sebuah kesalahan juga, karena lelaki itu…tak mencintainya meskipun dirinya mencintai lelaki bermata teduh itu sepenuh jiwa. Meskipun nyatanya Lee Donghae mencintai gadis lain namun dengan bodohnya…ia tetap mencintai lelaki itu.

“Baiklah. Tuan besar keluarga Kim, aku benar-benar tak menyangka kita akan bertemu di sini dan dalam keadaan seperti ini, namun karena aku menganggapmu layaknya seorang anak kandungku maka sudah pasti aku tak bisa meninggalkanmu karena itu berarti memasukanmu ke kandang harimau—maksudku, ayahmu.” Ahn Hae Won terus menggelengkan kepalanya dan mendengus geli seiring dengan tangannya yang mengacak puncak kepala Kim Heechul.

Pria separuh baya itu mengangkat kedua alisnya. “Jadi, bisa ceritakan padaku tentang yang terjadi di sini?”

Kim Heechul memutar bola matanya. “Tidak.”

Ahn Hae Won tertawa singkat kemudian menepuk pelan sebelah pipi Kim Heechul yang mulai membiru hingga lelaki muda itu mengumpat perlahan menahan rasa sakit.

“Kalau begitu, apa salah satu dari kalian akan menjelaskannya padaku? Tuan Kim kita ini begitu memuakkan, benar?” candanya.

“Hanya kesalah pahaman kecil yang terjadi di sini, Tuan…?”

“Ahn Hae Won.”

“Tuan Ahn.” Choi Siwon menyelesaikan kalimatnya serentak dengan sebuah senyuman tipis yang menempel di wajah tampannya.

Ahn Hae Won menganggukan kepalanya beberapa kali lalu menepuk pelan pundak Kim Heechul. “Lebih baik, malam ini kau jangan pulang ke rumah, mengerti?”

Kim Heechul menggumam pelan seakan mengiyakan. “Kemana dia?” tanyanya pada Choi Siwon.

Tiffany Hwang yang sedari tadi duduk berdiam di sebelah Choi Siwon menimpali, “Dia siapa? Jessica-ssi?”

Mata gelap lelaki bermarga Kim tersebut berputar jengah. “Dimana dia?”

“Katanya dia akan mencari udara segar.”

Pria jenjang itu menghela napasnya cepat. Dia lalu bergegas hendak berdiri sebelum tangan Ahn Hae Won mencengkram lengannya. Lelaki paruh baya itu mengangkat salah satu alisnya seakan mencari penjelasan. “Aku hanya pergi sebentar, aku yang membawa dia kemari jadi aku yang harus mengembalikannya dengan keadaan sempurna.”

“Jadi, kau tidak pulang bersama kami?” sergah Ahn Hae Won untuk kedua kalinya.

Kim Heechul mendengus kesal. “Bukankah sudah kubilang kalau aku akan mengatarkannya dulu?”

Ahn Hae Won tersenyum tipis. “Oh. Oh. Jadi gadis ini yang membuatmu menolak Sohee-ku? Aku sudah curiga sebetulnya saat melihat kau bertengkar tadi. Apa aku tak bisa bertukar salam dengan gadis istimewa ini, Heechul?”

Alis Kim Heechul terangkat sempurna. Dia lalu terkekeh pelan. “Aku pasti mengenalkan dia padamu dan Sohee, tapi kurasa bukan sekarang saatnya. Karena jika aku mengenalkannya padamu sekarang, aku hanya merasa seperti pecundang yang memiliki perasaan cinta sepihak. Karena itu, suatu saat nanti, pasti, aku akan mengenalkannya padamu.”

Ahn Hae Won tersenyum tipis kemudian melepas cekalan tangannya dan membiarkan Kim Heechul berjalan menghilang dari pandangannya.

“Anak muda.” Lelaki itu tersenyum tipis pada sosok punggung Kim Heechul.

Choi Siwon mengangkat salah satu alisnya dan tertawa pelan sejenak ketika Ahn Hae Won menatapnya dengan pandangan pasrah serta mengendikan bahu, “Dia bahkan tak memberitahukanku nama gadis itu, dasar.”

Lelaki paruh baya itu kemudian tersenyum hangat. “Kalau begitu, aku harus menemui putriku sekarang. Dia pasti mencariku saat ini.”

Tiffany Hwang dan Choi Siwon tersenyum bersamaan. “Terima kasih telah membantu kami barusan, Tuan,” tambah Tiffany.

Ahn Hae Won menggeleng perlahan. “Kim Heechul, dia anak yang baik hanya saja terlalu jujur, aku menyukai anak itu tepat di saat aku mengetahui sifat aslinya yang unik, jadi aku membantu tadi sepenuhnya karena aku menganggap dia adalah anakku, tidak perlu berterima kasih.”

“Dan, oh, aku lupa…” Pria itu menggantungkan kalimatnya dan bola matanya bergantian menatap Tiffany serta Choi Siwon. “Selamat ulang tahun untuk kalian berdua. Kurasa kalian pasangan yang manis.”

“Paman itu mengatakan kita pasangan yang manis.”

Choi Siwon tersenyum tipis. “Kita memang seperti kakak-adik yang manis.”

“Bukan kakak-adik, Oppa. Tapi…”

“Dimana Im Yoona?” Choi Siwon bertanya lurus pada Tiffany Hwang.

Gadis itu terdiam kemudian tersenyum. “Di balkon.”

Lelaki bermarga Choi tersebut mengangguk perlahan. “Aku akan ke sana.”

Tepat ketika ia berbalik, jari-jemari mungil Tiffany mencengkram lengannya. “Oppa…Dia bersama Lee Donghae-ssi.”

Salah satu alis Siwon terangkat. “Lalu?”

“Dia-Bersama-Suaminya-Oppa…” ungkap gadis itu lemah. “Kau bukan seperti Choi Siwon yang kukenal jika menyangkut Im Yoona. Dimana norma, sikap santun, logika milikmu yang selalu diagungkan keluarga kita? Baiklah, kurasa aku sudah mencapai ujung batasku, aku hanya ingin mengingatkan padamu…jangan mengganggu hubungan wanita yang sudah menikah, Oppa. Demi Tuhan.” Napasnya tersenggal pasrah. Ia mengepalkan sepasang telapak tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Geram, perasaannya seakan tercampur aduk.

Choi Siwon mengerutkan dahinya. Dia lalu mendengus kesal, nyaris membuat sosok gadis di depannya mundur tercengang karena untuk pertama kalinya, dengan mata gadis itu sendiri, ia melihat bagaimana seorang Choi Siwon terlihat begitu egois ketika berkata, “Norma? Santun? Logika? Siapa yang tidak bernorma di sini, Fany? Siapa yang tidak bersantun di sini? Lalu, logika? Apa kau ingat siapa lelaki brengsek yang mengambil Im Yoona begitu saja dari sisiku dengan cara tidak logisnya?”

Dia menggelengkan kepalanya perlahan dan melenguh frustrasi. “Kumohon, jangan biarkan aku membentakmu karena masalah ini. Kau sudah seperti adik kandungku dan aku tak ingin membuatmu sakit hati, Tiffany Hwang. Mungkin aku kini sudah bukan Choi Siwon yang kau kenal, tapi inilah aku, Fanny. Aku yang mungkin tak lagi mengenal norma, santun, logika jika menyangkut hal rumit ini. Jadi, kumohon, jangan pernah kita mengungkit hal ini lagi, karena tentu, aku bukan lagi oppa baik hati milikmu jika menyangkut tentang ini…aku hanya tak ingin menyakitimu, Fanny.”

Dan langkah lelaki itu berderap panjang meninggalkan ruangan itu dengan sosok Tiffany Hwang yang mulai melemas hingga jatuh terduduk di lantai. Mata indahnya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja terdebam oleh bantingan kasar Choi Siwon. Air mata itu menuruni lembut tulang pipinya dan di sana, ia menekuk lututnya, memeluk tubuh mungilnya, kemudian menangis…terus menangis.

Im Yoona terduduk di sana, di salah satu bangku panjang pada balkon gedung. Menatap bagaimana sang rembulan bersinar lembut di langit. Dan juga, dalam diam, Lee Donghae terduduk di ujung bangku lainnya, membiarkan keduanya tetap berjarak, mata teduhnya juga menatap langit malam dan merasakan semilir angin menyapu keduanya.

Saat tak ada di antara keduanya membuka bibir, membiarkan begitu saja senyap menelan keadaan, semua terasa begitu nyaman, seakan dalam kesunyian itulah keduanya saling bertukar cerita. Walaupun tentu belasan pertanyaan tersangkut hendak dilontarkan namun mereka tetap menikmati kesenyapan itu, terasa begitu benar, terasa begitu nyaman.

Donghae kemudian memejamkan matanya ketika gemerisik aliran angin menyentuh wajahnya, membawa aroma musim gugur yang akan datang tak lama lagi.

“Yoong.” Dan kesenyapan itu lepas sudah ketika Lee Donghae membisikan panggilannya pada gadis itu.

Mata Im Yoona berpendar dalam pandangannya, memberinya kelegaan ketika menghadapi gadis di depannya saat ini tak memilih untuk pergi meninggalkannya dan justru duduk di sebelahnya untuk sekian waktu, meskipun kesalahan yang ia lakukan terhitung fatal.

“Yoong,” bisiknya untuk kedua kalinya.

Lee Donghae tetap menatap sepasang mata indah itu. Mata seorang gadis paling memesona yang pernah ia temui, bahkan ia harus mengakui, melebihi Jessica Jung. Seorang gadis yang dapat membuatnya menjadi dirinya sendiri. Seorang gadis yang….

“Aku ingin kau tetap seperti ini. Tetap selalu tersenyum, setidaknya ingatlah, bahwa ini adalah senyum yang benar-benar kujaga, senyum yang sangat berharga untukku.” Dia mengelus pelan pipi Im Yoona yang mulai kemerahan karena dinginnya suhu udara.

“Donghae?”

“Kuakui, aku begitu menikmati di saat kita bersama. Seakan-akan kita masih dua anak kecil yang belum genap sepuluh tahun dan dengan polosnya berlarian. Aku merasa…aku adalah aku di saat bersamamu.”

Im Yoona kali ini mengunci bibirnya. Ia dapat mendengar bagaimana jantungnya berdebar ketika di akhir kalimatnya barusan, Lee Donghae tersenyum lembut padanya.

“Aku tak pernah menyesali masa kecil kita, kejadian tak menyenangkan di malam itu, pernikahan kita, sungguh, aku tak pernah menyesalinya.” Lee Donghae tersenyum lembut namun pandangan matanya kini tak tertuju pada gadis di hadapannya. Ia memilih untuk berdiri dan membelakangi gadis itu, membiarkan pandangannya menghampar bebas menatap balkon, “Aku tak pernah menyesali kehadiranmu di hidupku, Yoong.”

Im Yoona tersenyum tipis. Dia berbisik ribuan kali di dalam hatinya bahwa saat ini dirinya juga begitu berterima kasih pada Tuhan atas penempatan Lee Donghae di sisinya. Sungguh.

“Tapi dia adalah satu-satunya, Yoong.”

“Jessica?” Bibirnya bergetar ketika menatap Lee Donghae mengangguk.

“Aku mencintainya.”

Dan ketika itu, serasa tak kembali berpijak pada bumi, Im Yoona merasakan bagaimana dirinya terbanting hingga hancur perlahan, begitu menyakitkan.

Lee Donghae dengan perlahan kemudian berbalik. Untuk pertama kalinya, Im Yoona menatap mata lelaki itu tengah basah, lelaki yang selalu kuat dan tegar di sampingnya…kini menangis? Ya, menangis.

Lelaki itu memiringkan kepalanya dan mendengus geli. “Jadi ini yang dinamakan patah hati?” Dia menghapus perlahan air mata di sebelah matanya menggunakan punggung tangan. “Menyakitkan. Sangat menyakitkan.”

Sedangkan Im Yoona saat itu membisu, dunia terasa begitu hampa di hadapannya, ia lupa bagaimana caranya menimpali pembicaraan seseorang, ia lupa bagaimana caranya berucap seakan tidak terjadi hal buruk apapun.

“Melebihi apapun, aku membutuhkannya, Yoong. Sungguh.” Lelaki itu tertawa pelan, berkebalikan dengan air mata yang terus mengalir di sudut matanya.

Sinar bulan yang sebelum ini terhalangi oleh awan kemudian menyusup perlahan hingga menyinari sebagian wajah Lee Donghae seakan menunjukan dengan terang pada Im Yoona, betapa Lee Donghae mencintai Jung Jessica, melalui air mata itu. Air mata yang menjelaskan melebihi ribuan kata yang terucap oleh bibir, betapa menyakitkannya jika seorang yang dicintai, tak lagi di sisinya.

“Bolehkah aku pergi, Yoong? Ke sisinya?”

Tepat seperti sebuah busur yang menyentak tubuhnya, Im Yoona memejamkan matanya ketika pertanyaan itu terlontar.

Antara ego dan hatinya.

Jika ia menuruti egonya, tentu semua akan baik-baik saja, ia hanya mengatakan agar lelaki itu tak pergi kemana pun maka Lee Donghae akan tetap di sisinya, ia bahkan bisa mengungkit masalah lalu mereka dan tentu, itu akan membuat lelaki itu tak pergi kemana pun, selalu di sampingnya, menjaganya.

Dirinya pun tak pernah memercayai adanya kalimat bahwa jika demi orang yang kita cintai, kita akan melakukan segalanya, termasuk membiarkan dirinya bahagia di sisi seseorang lain, sangat tidak realistis menurutnya.

Tentu ia hanya menginginkan Lee Donghae untuk berada di sisinya. Tidak yang lain.

Ia mengangkat kepalanya dan menatap mata teduh itu sekian lama. Dan bibirnya bergetar ketika menatap wajah itu, sejak kapan sebenarnya ia begitu mencintai Lee Donghae seperti ini? Mengapa ia tidak menyadarinya? Mengapa di saat ia menyadarinya, semua ini terjadi begitu cepat?

Bibirnya masih bergetar ketika ia mengucap perlahan…

“Ya.”

Lee Donghae menghela napasnya pendek. “Yoong?”

“Pergilah. Aku tidak mempunyai hak apapun untuk melarangmu, ingat? Kita punya privasi, Donghae. Kau menghormati privasiku dan aku akan menghormatinya kembali.” Im Yoona bahkan tak mengerti bagaimana caranya bibirnya melengkung tipis.

Terdiam. Lelaki itu seakan tercekat.

“Jadi…kita bercerai?” Dan kata-kata itu keluar dari bibir Im Yoona dengan pahit.

Donghae mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya frustrasi. “Kukira kita butuh minuman atau apapun itu untuk menyegarkan otak, benar?”

Tanpa menunggu jawaban apapun dari Im Yoona, ia berjalan pelan memasuki kembali gedung indah itu dengan gamang. Seakan tak bernyawa lagi, semua kini terasa begitu sulit dimengerti.

Hingga di lorong itu, dirinya bersandar, berkali-kali menghentakkan bagian belakang kepalanya ke arah dinding. Ia kembali menangis. Dan ia yakin, rasa sakit ini terasa bertambah puluhan kali lipat semenjak Im Yoona dengan ringannya menyetujui kata-katanya barusan.

Ia menangis tanpa suara ketika menyadari tempat ia berdiri saat ini berada tak jauh dari balkon, ia bahkan masih dapat melihat punggung Im Yoona dari jendela balkon.

Sosok itu begitu mungil untuknya, ia hanya ingin merengkuhnya, menjaganya, melindunginya. Sosok yang memesonanya dengan segala sifat serta realitas yang kadang terkesan di luar akal sehat dan ketegaran yang terkadang membuatnya serasa tak perlu untuk merengkuh tubuh itu. Sosok yang entah bagaimana selalu membuatnya melambung hingga jatuh dalam waktu yang tak lama.

Gadis yang membuatnya…meninggalkan harga diri dan menangis menyedihkan di hadapannya. Ya, Im Yoona…gadis yang tak akan pernah ia sesali kehadirannya di hidupnya.

“Patah hati?” Im Yoona menghela napas pendek dan tersenyum masam. Dia menyentuh bagian kiri dadanya dan merasakan jantungnya berdetak cepat. “Ya. Menyakitkan…sangat.”

Isakannya kemudian menyusul. Air mata itu berderai begitu lancar, membuatnya tertunduk, tak mampu untuk sekedar mengangkat kepala dan menatap langit.

Ya. Jika seseorang yang kau cintai akan bahagia bersama seorang lain maka jangan paksakan dirinya untuk menahan sakit di sisimu…mungkin tidak realitas. Namun terdengar begitu indah di pikirannya ketika Lee Donghae menatapnya dengan mata teduh yang menyimpan ruji kesakitan di dalamnya.

Sakit. Ya, menyakitkan. Melebihi apapun.

Dan, Tuhan, bisakah ia memohon sesuatu diiringi oleh tangisannya ini? Jika memang semua ini terlalu tidak mungkin untuk keduanya bersama, jika memang benang merah keduanya tidak terikat sejak Engkau menciptakan keduanya, jika memang kelak nanti keduanya tak akan berjalan bersama, apakah Engkau bisa menjajikan padanya bahwa kelak, di jika keduanya terlahir kembali, kelak di kehidupan yang baru…bisakah kau mempertemukan keduanya? Tentu dia tidak muluk untuk meminta keduanya akan berjodoh saat itu, walaupun di kehidupan baru lainnya, mungkin keduanya tak bertakdir, cukup agar mereka dipertemukan…cukup agar ia dapat menatap kembali mata teduh itu…cukup agar ia dapat memastikan lelaki itu masih berada di bawah langit yang sama dengannya. Meskipun terpisah, meskipun tak bertakdir.

“Apa yang kau pikirkan?” Kim Heechul menggosokan tangannya perlahan untuk menghilangkan rasa dingin malam itu sebelum meletakkan tubuhnya tepat di sisi lain kursi tempat gadis berambut coklat tersebut tengah duduk terdiam di atas kursi taman.

Hanya ada cahaya rembulan yang menerangi tempat terpencil di belakang gedung itu dan Kim Heechul merasa bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menemukan Jessica beberapa menit yang lalu di tempat yang paling tidak logis ini. Entahlah, mungkin faktor sifat keduanya yang sama-sama sering tidak logis dalam segala hal jadi secara bersamaan, Jessica Jung memilih berdiam diri di tempat yang tak dapat ditebak ini dan Kim Heechul dengan mudahnya berlari menuju taman terpencil ini untuk mencarinya.

Jung Jessica tersenyum tipis. “Menurutmu?”

Dalam jarak sedekat ini, Kim Heechul dapat melihat mata coklat cerah milik gadis itu berubah sembab pertanda sehabis menangis. “Entah, apa kau pikir aku ini pembaca pikiran atau apa?”

Tawa datar Jessica terdengar. Ia menyukai bagaimana cara Kim Heechul ketika menjawab setiap kata-kata yang ia lontarkan dengan tajam. “Hei, bukankah seharusnya aku membencimu?” bisiknya lemah.

Kim Heechul hanya berdehem singkat, terkesan tak mendengarkan pertanyaan milik gadis itu barusan. Perlahan, sebelah tangannya meraih sebelah tangan milik Jessica dan menggenggamnya lembut.

Ada sengatan manis yang terasa di telapak tangan Jessica hingga mengalir menuju lengannya ketika Kim Heechul menggenggam tangannya, tanpa sadar ia mendengus karena merasa seperti remaja kacangan yang baru pertama kali berpegangan tangan saat ini.

Oh, bukan hanya saat ini. Kim Heechul selalu membuatnya merasakan setiap hal layaknya pertama kali. Ya, semua. Semua perlakuan lelaki itu begitu manis untuknya. Ia bahkan tak ambil pikir, apakah itu adalah tanggung jawab lelaki itu karena kejadiaan tiga bulan lalu ataukah memang murni, layaknya yang pernah Kim Heechul gamblangkan secara jujur tempo hari mengenai perasaannya pada Jessica.

Karena pilihan kedualah yang menembus tepat di perasaannya, Kim Heechul adalah lelaki tulus yang mungkin bermulut tajam dan terlihat kasar tapi sebenarnya, lelaki itu adalah lelaki yang jujur serta apa adanya. Hingga waktu bergulir dan kepercayaannya pada lelaki itu semakin memupuk sampai detik ini, ia pun memercayai lelaki itu.

Namun…

“Kau yang mengatakan ‘kenapa tidak sekalian kau membuat mereka tidur bersama dan semua masalah akan selesai, bukan?’ . Itu kata-kata yang sontak kupercayai dari pria yang saat itu asing untukku.” Jessica menatap lurus ke manik mata Kim Heechul dan membiarkan dirinya tenggelam pada kelamnya bola mata milik lelaki itu.

 “Saat itu aku memikirkan dua kemungkinan, apakah gadis ini terlalu polos atau memang murni seorang bodoh?” Kim Heechul menimpali dengan senyuman tipisnya. “Tapi, akhirnya aku mengerti, dia hanyalah gadis yang selalu memaksakan dirinya untuk terlihat baik dan sempurna di mata seseorang, namun seketika ia lemah ketika ia tak sanggup melihat sesuatu yang melebihi dirinya, karena di saat itu, ia akan merasa rendah diri lalu bertindak di luar logika…benar-benar sifat yang merepotkan, Nona Jung.”

“Karena itu…bukankah aku seharusnya membencimu yang sudah memasukan kata-kata di luar logika di saat itu padaku?”

Kim Heechul mendengus kesal. “Kenyataannya adalah…saat ini, kau di sini, duduk bersisihan denganku, aku menggenggam tanganmu, dan sama sekali tak terlihat ada kebencian di sini.” Dengan sebelah tangannya yang bebas, Kim Heechul menyapu pelan poni milik Jessica. Dia tersenyum lembut, senyum yang mampu membuat gadis di depannya merasakan kembali sengatan tak langsung di dalam hatinya.

“Ya, kurasa aku memang terlalu idiot karena tidak bisa membencimu.” Jessica mengalihkan tatapannya kembali ke langit. Ia mengawang jauh ke sana.

“Dan kau mencintaiku, bukan?” gurau Kim Heechul.

Tepat sebelum detik berganti, Jung Jessica mengalihkan pandangannya hingga mata keduanya kembali bertemu. Gadis itu tampak tercengang namun seiring dengan detik berganti, ia tersenyum tipis kemudian menggelengkan perlahan kepalanya. “Tidak,” gumamnya.

Napas Kim Heechul tercekat seketika. Ia mencoba menilik ke dalam mata bening milik Jessica dan kemudian ketika dirinya menemukan setetes air mata mengalir dari dalam sana, ia tersadar, Jessica tidak sedang bercanda, gadis itu bersungguh-sungguh.

“Tidak, aku…” Jessica menghela napasnya perlahan sebelum ia menghapus air matanya. Hingga ia menyadari sebelah tangannya masih berada dalam genggaman erat Kim Heechul dan tanpa menatap mata lelaki itu, ia menarik tangannya dari sana.

“Jessica?” bisik Heechul perlahan. Ketika Jung Jessica menggelengkan kepalanya lagi, ia tersadar gurauannya barusan menimbulkan penolakan paling menyakitkan untuknya selama ia hidup.

“Maaf.”

Desahan napas berat Kim Heechul terdengar seiring dengan tawa datar milik lelaki itu, “Kau masih mencintainya, bukan?”

Jung Jessica memilih untuk menggigit bibir bagian bawahnya dan mengalihkan pandangannya untuk tak bertemu dengan Kim Heechul.

“Lee Donghae?”

Ketika nama itu disebutkan, Jessica tak mampu membendung air matanya. Nama yang begitu mengguncangnya. Satu-satunya lelaki yang selalu ada di hatinya. “Maaf,” bisiknya.

Kim Heechul memejamkan matanya frustasi sebelum ia memilih untuk memeluk Jessica dan menepuk perlahan punggung gadis itu. “Menangislah, aku akan di sini. Jika kau ingin bercerita, ceritalah. Jika kau ingin aku diam, maka aku akan diam. Jika kau ingin aku menghiburmu, aku akan menghiburmu. Terserah padamu, aku hanya akan ada di sini dan menemanimu, mengikuti semua keinginanmu, Jessica.”

Hati yang tercabik saat itu adalah miliknya. Namun, gadis ini terlihat begitu lemah, menangis di hadapannya, apalagi yang ia harapkan bisa ia lakukan selain memeluk tubuh mungil itu.

Dan, mungkin hanya rahasia Tuhan dan dirinya bahwa kala Jessica membisikan kata-kata itu padanya, setetes air mata mengembun di permukaan matanya dan mengalir tipis menuju pipinya.

“Aku mencintai Donghae, Kim Heechul. Apakah kami akan bersama kembali—kelak?”

Ya. Tangis diam miliknya yang tertelan begitu saja oleh semilir angin musim gugur meninggalkan rasa sakit luar biasa yang menghantam dadanya. Pertanyaan itu ia biarkan menguar, karena diam adalah pilihan terbaiknya saat ini, pilihan terbaik untuk hati dan segelintir perasaannya yang tercabik.

Roda takdir berhenti berputar. Meninggalkan malam kelam itu dengan setiap ingatan menyakitkan pada setiap hati. Satu demi satu terkoyak begitu saja dan penghujung cerita mungkin akan mereka tapaki tak lama lagi dengan membawa jawaban yang tak pernah mereka mengerti saat ini.

TBC

Sorry for the late update .___.

Akhir-akhir ini keadaan bener-bener chaos, mulai dari ujian berturut-turut di sekolah sampai Chii yang masuk rumah sakit karena alergi sialan .___. Oke, kenapa malah curhat?

Umm jadi, is this good enough? Comment please 🙂

 

Iklan

148 pemikiran pada “Marriage Without Love (13th) – That Painful Memories

  1. Complicated banget ini, kak T_T
    mereka semua kayak terjebak di roda takdir, dan sama sama ga mau jujur sama diri sendiri (sotoy amat)
    looking forward 34 the next chapter kak! Fighting~:D

Satu Komentar = Satu Langkah Mendekati BIAS~♥♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s