As Beautiful As Firework

As Beautiful As Firework

|5 Song-Fic Dedicated to Our Fish and Deer|

Im Yoona – Lee Donghae

Romance | Drable | PG-15

As-Beautiful...

Within the Sparks Of Firework, Their Love Finally Bloomed…

Our Yoong and Hae.

Yes, You Are Still The Number One.

One

Song : Miley Cyrus – Goodbye

(Can We Say Goodbye?)

Im Yoona masih dapat merasakan bagaimana lelaki itu bersenandung pelan di sebelah telinganya, bagaimana lelaki itu menyambut kedua tangan mungilnya dan membawa sepasang kakinya menari-nari di atas lantai kayu, bagaimana lelaki itu tersenyum dan menatapnya dengan lembut. Mengapa hal-hal kecil seperti itu masih menempel kuat di memorinya ketika ia baru saja terbangun?

Air mata miliknya mulai menetes ketika ia meraih sisi tempat tidurnya yang kosong. Tidak ada sosok yang sedang tertidur dengan wajah sepolos bayi, tidak ada sosok yang tertidur dengan rambut berantakan, tidak ada sosok yang akan menggumam menyuruhnya kembali bergelung di dalam pelukan hangat milik lelaki itu, tidak ada sosok yang akan mengucapkan selamat pagi dengan manis, tidak ada sosoknya di sana.

Benar, lelaki itu telah menghilang pergi dan meninggalkannya.

Ia teringat semua hal indah dengan lelaki itu, bagaimana mereka berdansa di tengah hujan, bagaimana mereka terbangun dari tidur dan tersenyum di saat bersamaan, bagaimana mereka menatap mata satu sama lain setelah berciuman, bagaimana mereka bahagia atas hal-hal kecil di sekitar mereka.

Dan, ia menyesal karena harus mengingat bagaimana mereka berpisah tepat kemarin.

Dia mengingat memori sederhana yang membuatnya menangis tanpa henti saat ini. Im Yoona mengingat bagaimana mereka saling berteriak dan saling meyakinkan satu sama lain bahwa pendapat mereka adalah yang terbenar. Hingga akhirnya lelaki itu pergi dengan memunggunginya begitu dingin, tanpa ada kata-kata akhir selain…

Selamat tinggal

Lelaki itu telah pergi meninggalkan dirinya dalam dingin. Kedinginan yang membuatnya terus menangis ketika mengingat tak akan ada lagi senyuman jenaka dan tatapan lembut milik lelaki itu untuk menghiasi hidupnya setelah ini.

Tak akan ada lagi lengan kekar yang akan memeluknya di malam hari dan memastikan dirinya aman di balik pelukan itu. Apa kenangan-kenangan indah itu harus terhapuskan oleh dua kata sialan yang mereka ucapkan? Apa benar hanya dengan dua kata itu semua harus berhenti di sini? Saat ini?

Suara jam beker telah berbunyi begitu nyaring ketika ia menyadari bahwa ada seribu kenangan indah keduanya dan tentu dua kata sialan itu tak layak untuk menghapus memori-memori itu.

Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apapun itu, ia harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan semuanya, apapun itu.

Im Yoona bangkit dari duduknya dan menghampiri lemari pakaian di sisi kamar. Setelah mengenakan mantel miliknya tanpa sadar matanya menangkap kotak kecil di sisi tumpukan pakaian milik lelaki itu.

Bibirnya tanpa terasa bergetar dan jantungnya bergemuruh ketika membuka tutup kotak kecil itu. Tanpa menunggu banyak waktu, ia lalu memasukannya kotak itu ke dalam saku mantelnya.  

Bahkan tangannya masih bergetar hebat ketika ia mengikat tali sepatunya dan memutuskan untuk membuka pintu dalam sekali sentakan kuat.

Kedua kakinya berlarian begitu lemah menuju suatu tempat yang ia hapal di luar kepala. Tempat di mana keduanya bertemu, keduanya selalu berkencan, tempat yang selalu menjadi pelarian terakhir untuk keduanya, tempat yang ia harapkan untuk menemukan kembali lelaki itu.

Terus berlari dengan sebelah tangan di dalam saku untuk memastikan kotak di dalam sana masih baik-baik saja.  

“Lee Donghae.” Tak menunggu banyak waktu, ia memeluk punggung yang ia kenal. Merasakan kembali kehangatan manis yang menguar dari sana.

“Yoona?”

Ia menggelengkan kepalanya sejenak. “Jangan berbalik. Kumohon. Penampilanku benar-benar buruk saat ini…”

Lee Donghae mendengus geli. “Baiklah.”

Namun keheningan menenggelamkan keduanya. Hingga hanya terdengar isak tangis kecil milik Im Yoona.

“Kau menangis?” Lelaki itu berniat untuk memalingkan kepalanya ketika mendengar isakan milik gadisnya. Namun gerakannya terhenti ketika Im Yoona kembali berbisik.

“Kita belum berakhir…”

Pria tampan itu masih dalam posisi membelakangi Im Yoona, tanpa sadar tersenyum tipis dan memilih untuk diam, menunggu gadisnya melanjutkan kalimatnya.

Im Yoona bahkan masih terisak di saat kata-kata itu meluncur keluar dari bibir keringnya, “Tak ada ‘selamat tinggal’ di antara kita.”

Lee Donghae membalikan tubuhnya sempurna. Matanya menatap lembut ke arah gadis yang masih terisak di depannya, ia kemudian melebarkan kedua tangannya dan kemudian secara perlahan ia tersenyum ketika Im Yoona kembali berada di dalam rengkuhannya.

“Lee Donghae, kita belum berpisah, bukan? Tidak ada ‘selamat tinggal’, bukan?”

Lelaki itu mengangguk pelan, membenturkan perlahan-lahan dagunya di puncak kepala Im Yoona, “Jangan pernah berpikir aku akan benar-benar membiarkan kau pergi setelah ini, mengerti? Karena itu, kalau kau merasa lelah dengan pria lemah, sensitif, kekanakan, dan tak bisa diandalkan sepertiku, kau hanya bisa melepaskanku sekarang.”

Im Yoona tersenyum tipis. Tanpa berkata-kata ia meraih saku mantelnya dan mengeluarkan kotak kecil dari dalam sana. “Kalau kau merasa lelah juga dengan gadis cengeng, pemarah, cerewet, dan tukang makan sepertiku, kau juga hanya bisa melepaskanku sekarang, tapi kalau kau tak ingin melepaskanku, bisakah kau memasangkan cincin di dalam kotak ini untukku sekarang?”

“Oh, kau menemukannya?”

Gadis manis itu mengangguk bersemangat. “Aku sangat menyukai cincin ini, bisakah kau memberikannya hanya padaku?”

Lee Donghae tertawa pelan. “Kau adalah gadis pertama dan satu-satunya yang akan memakai cincin ini di jari manismu, percayalah.”

Two

Song : Lonely – 2NE1

(Lonely and Lonely)

Gadis itu kembali menangis di depan Lee Donghae. Entah sudah untuk berapa kalinya mereka bertemu dalam bulan ini dan sudah dihabiskan untuk gadis itu, Im Yoona, menangis di depannya seperti saat ini. Selalu dihabiskan untuk menangis dan dia bahkan tak tahu penyebab mengapa gadis itu menangis, ia hanya bisa terpaku bodoh dan memberikan sapu tangannya pada gadis manis itu, seperti saat ini.

Angin sisa musim dingin masih bertiup kencang di awal bulan Januari ini dan tentu dirinya menggigil kedinginan sembari duduk di sebelah gadis yang masih kukuh menangis tanpa mengeluarkan kata-kata sedikit pun.

Baiklah, dirinya memang lelaki yang tidak peduli dan tidak ingin peduli pada masalah orang-orang di sekitarnya tapi apa ia bisa tidak peduli jika gadisnya duduk di sebelahnya dan menangis tanpa sebab nyaris setiap kali keduanya bertemu?

Baginya Im Yoona adalah gadis manis yang selalu mengikutinya, gadis ceria yang selalu tertawa dalam setiap hal, dan gadis penurut yang selalu menganggukan kepala untuk setiap hal yang ia ucapkan, dan sekarang gadis itu menangis di depannya? Tentu, ia merasa bodoh untuk hanya duduk dan menatap wajah miris milik gadisnya namun dirinya benar-benar tak tahu harus berbuat apa, ia yakin pertemuan kali ini juga akan sama dengan pertemuan-pertemuan sebelum ini yang hanya dipenuhi oleh isak tangis Im Yoona dan keheningan miliknya lalu semua diakhiri oleh ucapan ‘sampai jumpa’ dari gadis itu, kemudian mereka akan bertemu beberapa hari lagi di tempat ini, ia meratapi kembali gadis itu sedang menangis dan semua akan terus berulang.

“Kurasa…”

Ia menegakan tubuhnya tanpa sengaja di saat suara milik gadisnya mulai terdengar. Mata teduhnya menatap mata rusa itu dengan datar. “Apa?”

“Kita tidak bisa meneruskan semua ini lagi, Hae.”

Lee Donghae, dengan pribadi egois dan tak berperasaan, untuk pertama kalinya merasa begitu ketakutan oleh kata-kata seseorang. “Maksudmu?”

Im Yoona tersenyum masam dan kembali menghapus tetesan air di sudut matanya. “Ya, ini semua. Aku merasa benar-benar berat untuk meneruskannya, Hae.”

Dengan bodohnya, Lee Donghae hanya dapat mendesah pelan. “Maksudmu hubungan kita?”

Mata rusa Im Yoona yang masih terus mengeluarkan kesedihannya menatap lurus ke arah kekasihnya tersebut seakan-akan tak percaya betapa ringannya lelaki itu berbicara dalam pembahasan serius seperti ini. “Aku kesepian, Hae. Demi Tuhan, apa kau benar-benar tak berniat untuk sekedar bertanya padaku alasan mengapa aku selalu menangis?”

Lee Donghae mengangkat kepalanya dan menatap balik mata rusa milik gadis itu. “Kesepian? Apa maksudmu? Kita selalu bertemu di sini dan aku selalu menemanimu, lalu apa yang kau mau?”

“Aku tidak butuh bertemu denganmu untuk sekedar ditemani jika yang kau maksud menemani adalah duduk diam dan membalas segala ucapanku hanya dengan gumaman atau bahkan kau hanya diam seperti patung tak berperasaan.”

“Jadi, kau tidak menyukaiku? Kau ingin aku berubah? Kau tidak menyukaiku apa adanya?”

Gadis itu merenggut rambutnya dan berteriak frustasi. “Kau-lah satu-satunya yang tak mengerti perasaanku, Hae! Kau!”

Bibir lelaki itu berdecak pelan. “Lalu, apa maumu sekarang?”

Im Yoona mengigit bagian bawah bibirnya. “Aku ingin kita berpisah.” Tentu, ia hanya mengatakan kalimat itu tanpa kesungguhan, ia hanya ingin lelaki yang telah bersamanya selama 8 bulan itu mencegahnya dan meminta maaf padanya.

“Baiklah.”

Bibir gadis itu mengelu dan kakinya bergetar hebat ketika ia kembali menangis. “Kau tidak pernah mencintaiku.”

Lee Donghae masih terdiam dan menatap gadis di sampingnya itu dengan dingin. Otaknya memerintahkan untuk membalas perkataan itu dengan kata-kata tajam tapi hatinya terasa begitu pilu di saat melihat gadis di sampingnya menangis. Rasa takut yang aneh itu kembali menghinggapinya. Ia bahkan tak tahu alasan dibalik munculnya rasa takut itu di dalam dirinya.

“Aku mengerti, Hae. Baiklah, aku akan pergi dan tak akan mengganggumu lagi.” Im Yoona menyampirkan kembali tas tangannya di pundak, ia merasa putus asa, di satu sisi ia mengetahui betapa ia masih mencintai sosok Lee Donghae dan di sisi lain ia terlanjur sakit hati pada semua perlakuan dingin lelaki itu padanya. “Selamat tinggal.”

Tangan Lee Donghae begitu keras terkepal ketika gadis itu berbalik pergi. Sisi egois miliknya memaksa untuk tak memedulikan Im Yoona sama seperti di saat ia tak memedulikan semua orang lain dengan sikap anti sosialnya.

Dan kemudian, entah bagaimana caranya, ia baru tersadar bahwa tangannya sudah mencekal lengan atas gadis jenjang itu dan bibirnya yang bergetar berbisik pelan, “Jangan pergi…”

Ia membutuhkan gadis ini bahkan diluar kesadarannya pun, ia selalu menginginkan keberadaan Im Yoona di sisinya. Karena semua tak akan berarti tanpa gadis ini, dirinya yang selalu kesepian akan selalu kesepian jika tanpa gadis itu.

Untuk kedua kalinya ia kembali berbisik, “Aku akan kesepian tanpamu, Im Yoona. Kumohon, bertahanlah untuk berada di sampingku, demi diriku.”

Ah, betapa ia terlalu candu pada keberadaan gadis itu, karena selama ia hidup, ia belum pernah merasakan apa itu yang dinamakan ketakutan, hingga ia mengesampingkan segala ego dan sikap dinginnya hanya untuk satu hal; agar Im Yoona tak pergi dan meninggalkannya dalam kesepian yang mendalam.

Three

Song : Haru – Super Junior

(Enchanted)

Mata rusa itu terus memandangi mata teduh milik lelaki tampan di seberang jalan dan ketika kedua mata tadi bergerak lalu menatap balik ke arahnya, ia langsung menunduk kaku. Di dalam tundukan kepalanya, ia lantas tersenyum tipis.

Ketika mata indahnya kembali terangkat, hanya helaan napas kecewa yang dapat ia lakukan, lelaki itu telah pergi dari seberang sana, dan itu berarti; waktunya hari ini telah habis.

“Selamat siang.”

Dan semua terjadi dalam hitungan detik ketika ia nyaris terperanjat begitu mendapati wajah tampan dengan rambut coklat serta mata teduh sempurna yang dalam beberapa bulan ini menjadi cinta sebelah tangannya kini tengah tersenyum padanya, di depan matanya.

Wajah tampan itu begitu memikat dan semakin memikat dalam jarak sedekat ini dan tentu, yang bisa ia lakukan hanya terpesona oleh mata terteduh yang pernah ia temui tersebut, tatapan mata yang dirasa dapat membunuh jantungnya karena bekerja pada kecepatan di atas rata-rata.

“Ya?” gumamnya sedikit gugup.

“Aku mencintaimu…”

Seribu kupu-kupu melayang tepat di rongga perutnya, begitu menggelitik dan menyenangkan. Pria yang selalu mempesonanya kini berdiri di depannya dengan sebuah senyuman manis dan pernyataan cinta yang lantas membuatnya merasa hari-hari yang ia habiskan untuk menatap lelaki itu dari kejauhan sama sekali bukan hal sia-sia.

*

Ia tersenyum tipis ketika gadis di seberang sana menunduk, jelas rasa gugup terpancar dari sosok manis itu. Mata teduhnya terus menatap sosok yang ia rasa entah mengapa menarik perhatiaannya dalam beberapa bulan belakangan ini. Ia merasa gadis itu mengikutinya dan hal aneh yang terjadi di sini adalah bahwa ia tak keberatan oleh sikap mengikuti milik gadis itu, ia justru menemukan kehadiran gadis itu yang selalu mencuri pandangan padanya adalah sesuatu yang manis dan membuat bibirnya selalu tergelitik untuk memunculkan senyuman secara alami.

Angin perlahan berhembus ketika pandangannya semakin tak bisa dialihkan dari gadis yang tengah menahan rambut panjangnya dari angin dan itu semua membuat jantungnya bergetar.

Aih, apa yang ia lakukan? Terpesona pada seorang gadis asing yang menguntitnya?

Hidungnya mendengus geli sejenak. Ya, itulah kenyataannya, ia terpesona dan bahkan jatuh cinta pada sosok itu. Sosok dewi yang selalu mengikutinya dari hari ke hari.

Sepasang kakinya kemudian bergerak cepat, menyebrangi jalanan dan dia hanya bisa tersenyum setelah menyatakan perasaannya. “Aku mencintaimu…”

Gadis yang selalu mempesonanya kini berdiri di depannya dan tengah tersenyum padanya, angin-angin lantas membawa rambut-rambut coklat gadis itu terbawa dan mengombak indah di depan matanya dan dirinya semakin terpesona ketika gadis itu menggumam pelan, “Aku juga mencintaimu.”

Pasti setelah ini pun hari-hari yang ia lalui akan selalu dipenuhi oleh keterpesonaan dan kebahagiaan.

*

Im Yoona tersenyum tipis. “Aku selalu menatapmu melalui kejauhan dari hari ke hari dan aku menemukan bahwa hari-hariku menjadi jauh lebih indah ketika menatap mata teduh itu dan aku menyadari, bahwa aku mencintaimu, Lee Donghae.”

Lee Donghae menggumam pelan. “Di sana, di seberang jalan kau berdiri dengan kikuk dan aku tak bisa tak memedulikan keberadaanmu. Karena aku sadar, kau membuat hari-hariku menjadi lebih indah dengan mencintaimu, Im Yoona.”

Four

Song : More Than This – One Direction

(Egoistic Side In Love)

“Baiklah. Aku tak ingin kehilanganmu, kau puas?”

Im Yoona mendengus sempurna mendengarkan perkataan termanis yang pernah keluar dari bibir lelaki itu selama ia dan lelaki itu menjalin hubungan serius beberapa tahun belakangan. “Benarkah?”

Lelaki itu memutar kedua bola matanya. “Jadi, kau akan meninggalkan lelaki itu untukku?”

Senyuman manis terkulum sempurna di bibir tipis Im Yoona. Dia lalu tertawa lebar, “YA! Kau terjebak! Aku sedang mengerjaimu dan kau sama sekali tak sadar?” Dia menepuk-nepuk sebelah pundak lelaki jenjang itu masih sambil tertawa lebar.

“Maksudmu?”

“Aku dan dia sama sekali tidak ada hubungan apa-apa! Kami sedang mengerjaimu, Kim Jong In! YA, kau tertipu!”

“Kau dan Donghae sama sekali tidak…”

“Aku dan Donghae hanya berpura-pura pacaran agar kau menghilangkan sikap egoismu itu, dia sahabat yang benar-benar baik, bukan?” Im Yoona kemudian mundur sejenak dan merangkul pundak Lee Donghae yang sedari tadi berdiri terpaku menatap keduanya.

“Selamat, Kim Jong In! Kau berhasil tertipu!” Im Yoona meraih sebelah telapak tangan Lee Donghae dan mengangkat tangannya serta tangan lelaki itu ke udara seolah sedang merayakan sesuatu.

Tawa berat Kim Jong In terdengar. “Ah, dasar! Padahal aku sudah akan benar-benar mengamuk padamu, Hyung.”

Lee Donghae tersenyum tipis. Ia mengacak pelan puncak kepala Im Yoona, “Gadis bodoh ini tidak akan pernah menghianatimu, Jong In. Tak akan, apalagi denganku.”

Kembali Kim Jong In tertawa. “Ah, mengapa aku tidak sadar?”

Mata teduh Lee Donghae berubah menyendu ketika Jong In memajukan tubuhnya dan meraih tangan Im Yoona yang sebelum ini menggenggam sebelah tangannya, lelaki jenjang itu kemudian mencium sejenak punggung tangan gadis tersebut dan tersenyum singkat padanya yang masih memaku sebelum merangkul pundak Im Yoona dan menyeret tubuh mungil yang bahkan tak sempat mengucapkan salam padanya.

“Seharusnya kau sadar betapa beruntungnya kau untuk mendapatkan gadis yang kucintai, seharusnya kau tahu bagaimana irinya aku padamu karena tak bisa memeluk pundak mungil itu dengan leluasa, seharusnya kau tahu bagaimana di dalam tubuhku sudah mati di saat melihatmu mencium bibir gadisku, seharusnya kau tahu bahwa aku mencintai dia—bahkan melebihi dirimu, Kim Jong In.”

Dia memejamkan matanya frustrasi ketika dalam ingatannya ada raut wajah Im Yoona tempo hari yang tengah menangis mendatanginya dan memeluk dirinya, memohon padanya agar membantu gadis itu. Dan dengan bodohnya, ia menerima ide dari Im Yoona untuk menjadi seorang pemicu kecemburuan Kim Jong In, kekasih gadis itu.

Mereka bersahabat sejak kecil dan ia sadar, Im Yoona benar-benar memanfaatkan dirinya dengan benar-benar baik sejak dahulu, gadis itu selalu datang dan menangis di pundaknya di saat-saat menyedihkan lalu pergi meninggalkannya di saat semua masalah sudah mulai terselesaikan, seperti saat ini.

Lee Donghae mengangkat sebelah tangannya yang masih merasakan kehangatan genggaman Im Yoona barusan. Ia mencium punggung telapak tangannya tepat ketika setetes air mata jatuh menuruni sebelah wajah tampannya.

Dia begitu mencintai Im Yoona bahkan ia rela jika hanya menjadi seorang pembuang kekesalan dan kesedihan bagi gadis itu, bahkan ia mulai merasa bahagia akan tugasnya sebagai tempat sampah karena itu berarti Im Yoona hanya akan menangis di depannya, di pundaknya, bukan di depan lelaki lain, bahkan Kim Jong In.

Namun tetap saja, hatinya selalu pedih ketika melihat Im Yoona tersenyum begitu bahagia di dalam rangkulan lelaki lain, ia hanya ingin dirinya yang menguasai gadis itu dan bertahun lalu, ia pernah memaksakan keegoisannya itu, tentu itu semua berakhir dengan kekacauan berkepanjangan dan untuk menyelesaikan semua kekacauan itu membutuhkan waktu berbulan-bulan, ia harus membangun kembali balok-balok kepercayaan Im Yoona padanya dalam waktu yang panjang hingga gadis itu akhirnya kembali di sisinya, sebagai sahabat, sekedar sahabat. Tidak lebih.

Aku tidak bisa menganggapmu selain sebagai kakak laki-laki dan sahabat yang baik, Donghae.

Dan, ia hanya bisa menerima itu semua karena ia begitu membutuhkan gadis itu sebagai napasnya. Mungkin semua terkesan berlebihan namun percayalah, inilah yang dinamakan cinta, sebuah perasaan ambigu yang begitu mengontrol keegoisan serta menerima tanpa mengharapkan balasan apapun. Karena ia mencintai Im Yoona, ia rela melakukan apa saja, termasuk melepaskan gadis itu demi kebahagiaan, mungkin munafik tapi itulah kenyataannya.

Dia melipat kembali tangannya dan mulai merapatkan mantel tebalnya, mulai kembali berjalan melewati lorong-lorong yang dalam beberapa menit lalu masih ia lewati bersama dengan Im Yoona. Dan kini, ia sendiri, hanya mengandalkan bayangan-bayangan gadis itu tengah menemani kesendiriannya.

“Donghae, aku salah. Kim Jong In memang benar-benar bajingan! Dia menemui mantannya tadi malam dan dia menyembunyikannya dariku, apa yang harus kulakukan?”

Lee Donghae tersenyum tipis. Tepat 3 minggu berlalu sejak kejadian itu dan kini, Im Yoona tengah berdiri di depannya, menangis dengan belasan tisu di tangan gadis itu.

“Kau harus percaya dengan dia, Yoona. Dan jika Jong In memang berselingkuh, lepaskan dia karena mungkin itu pilihannya lalu biarkan sahabat sejak kecilmu ini melayangkan pukulan padanya.”

Im Yoona mendengus geli. “Apa maksudmu?”

“Setelah itu, biarkan aku bersamamu, Yoona.”

“Donghae?”

“Aku bisa mencintaimu melebihi semua lelaki di dunia ini.”

Five

Song : Let It Rain – Urban Zakapa

(Proposal From Fish to Deer)

Terdengar suara rinai hujan dari jendela-jendela kafe mungil itu, dan di sana dirinya mengenakan gaun putih selutut tengah duduk setengah kesal. Berkali-kali mata indahnya memperhatikan jam tangan perak kecil yang menggantung di sebelah pergelangan tangannya. “Apa yang dilakukan Ikan Bodoh itu?”

Ketika suara lonceng kecil di atas pintu kafe terdengar, Im Yoona nyaris berteriak di saat sosok tampan tersebut nampak berjalan masuk dari luar sana.

Dia sontak mengambil jaketnya dan meletakannya di pundak bidang lelaki tampan itu. Tampak jelas lelaki itu tengah menggigil dengan setengah bagian atas jasnya basah kuyup serta lecek.

“Kau masih suka bermain hujan di usia setua ini, Tuan?”

Lee Donghae mendengus geli. “Mana aku tahu kalau di bulan Januari seperti ini akan ada hujan deras.”

Im Yoona tertawa singkat. “Pekerjaanmu baru selesai?”

“Tidak juga.”

“Lalu, kenapa kau harus selama ini?”

“Ada beberapa hal yang harus kuurus, Im Yoona.”

“Oh, ya? Urusan apa? Dengan wanita?”

Lelaki itu mengerutkan dahinya. “Kau tidak memesankanku minuman?”

“Sudah kupesan. Apa urusanmu dengan wanita, Hae?”

“Aih, kau ini! Bisakah bibirmu itu berhenti untuk bicara selama beberapa menit saja? Para penggemarmu di luar sana pasti tidak percaya jika visual dari grup idola mereka adalah wanita banyak omong sepertimu.”

Im Yoona mengerutkan bibirnya. “Kau selingkuh, Hae?”

Tepat di saat itu, Lee Donghae baru mengecap sedikit minuman milik Im Yoona dan nyaris menumpahkannya karena tuduhan barusan. “Im Yoona,” tegasnya.

“Lee Donghae! Kau selingkuh, bukan?”

Lee Donghae memutar bola matanya dan meletakan kembali cangkir kecil di tangannya ke atas meja. “Rusa Bodoh, aku sama sekali tak akan pernah bisa berselingkuh karena seluruh manusia di Korea ini mengetahui bahwa aku sudah mempunyai kekasih dan itu adalah Im Yoona, salah satu anggota dari Girls’ Generation. Lagipula kalau pun aku berselingkuh, apa kau mengharapkan aku akan jujur jika kau tanya seperti itu, kau terlalu polos, Im Yoona.”

“Ikan Tolol, aku tidak bodoh. Baiklah, memang benar, setelah kita mengumumkan hubungan kita pada orang-orang, hidupku mulai terkekang dan itu semua karena kau, Ikan Tolol!”

Tawa geli Lee Donghae terdengar. “Kurasa itu semua bagus, karena semua lelaki menjadi tahu diri dan tak berani menyentuhmu lagi seakan-akan di dahimu sudah tercetak bahwa kau milikku, aku justru bahagia dengan semua itu.”

“Mereka bahkan tak berani menatapku seakan-akan jika pandangan mata kami bertemu, sosok Lee Donghae Super Junior akan segera menerkam mereka, dan itu menyedihkan, kau tahu?”

“Jadi, kau menyesal?”

Salah seorang pelayan meletakan coklat panas milik Lee Donghae di atas meja dan keduanya tersenyum bersamaan pada pelayan tadi.

Im Yoona memberenggut setengah kesal. “Kenapa aku harus menyesal?”

Lee Donghae menyeruput ringan minuman hangatnya dan menatap mata indah di depannya dengan jenaka. “Seperti yang kau ceritakan, mungkin kau menyesal karena memilihku dan menyebabkan semua lelaki tak berani mendekatimu lagi.”

Gadis itu mendengus geli, ia meraih tisu di sudut meja dan meraih sudut bibir Lee Donghae lalu menyapukan lembaran tipis itu pada noda coklat di sana. “Kau melindungiku dengan benar-benar baik lalu apalagi yang harus kusesalkan?”

Lelaki tampan tersebut tersenyum kekanakan. “Berapa umurmu sekarang, Yoong?”

“25.” Im Yoona menyeruput minumannya singkat sebelum kembali bertanya, “Ada apa?”

“Aku sudah 30 tahun saat ini, menyedihkan.”

Im Yoona tertawa singkat. “Kau sudah pantas kusebut paman, Hae.”

Lee Donghae tersenyum tipis ketika gadis di depannya tertawa dengan bibir terbuka lebar. “Kemarikan satu tanganmu,” pintanya.

Dengan patuh Im Yoona memajukan tangan kanannya.

“Tangan yang lain, Yoong.”

Im Yoona mengerutkan dahinya ketika memajukan tangan kirinya. “Untuk apa?”

“Sudahlah, sekarang lihat ke luar sana. Jangan melihatku atau tangan kirimu, mengerti?”

Setelah mendengus geli, Im Yoona menopang dagunya dengan tangan kanannya dan tanpa curiga ia memasrahkan tangannya yang lain berada bersama Lee Donghae.

Titik-titik hujan terlihat jelas di jendela bening kafe yang ia pandangi. Dan di sana, otaknya mulai bernostalgia dengan kenangan lama yang bermain-main. Ketika pertama kalinya ia bertemu dengan lelaki berambut belah tengah dengan mata teduh sempurna dan senyuman menawan, ketika lelaki itu menyatakan perasaan padanya dengan gitar dan nyanyian serak, ketika kencan pertama mereka justru berakhir dengan berlarian di taman hiburan karena kejaran beberapa pencari berita, ketika mereka harus berpisah di Paris untuk kebaikan pekerjaan keduanya, ketika lelaki itu dengan keringat bersimbah menemuinya di depan apartemen dan membawa beberapa lembar kertas lagu berisi pengakuan dengan judul berinisialkan namanya, ketika mereka kembali bersatu dan berpelukan di depan apartemen serta menyadari betapa keduanya saling membutuhkan, ketika pada akhirnya tepat di saat hubungan mereka menginjak tahun ke-5, mereka memutuskan untuk menyebarluaskan hubungan mereka pada masyarakat yang berakhir dengan beberapa dukungan serta penolakan dari beberapa pihak.

“Sudah banyak yang terjadi pada kita berdua, Hae. Aku benar-benar tak menyangka bisa melewati semuanya.” Masih menuruti perintah lelaki itu, ia berbicara bahkan tanpa mengalihkan wajahnya.

Lee Donghae terdengar berdehem.

“Apa aku masih belum bisa melihatnya?”

“Baiklah. Sekarang, kau boleh melihat—hanya tanganmu! Tangan kirimu! Jangan melihatku, mengerti?”

Im Yoona mengangkat kedua alisnya dan seketika kerutan di dahinya muncul di saat ia menyadari sebuah benang merah mengikat jari manisnya. “Apa ini?”

Dia menyentuh benang itu di saat Lee Donghae kembali berkata, “Aku adalah Lee Donghae, baiklah saat ini aku hanyalah seorang lelaki tua berumur 30 tahun yang benar-benar biasa, bukan lagi salah seorang dari anggota Super Junior atau penyanyi atau penari atau actor.” Lelaki itu terdengar seperti meneguk air liurnya gugup. “Aku tampan. Aku perhatian. Aku sabar. Aku tidak kekanakan. Aku benar-benar lelaki yang sempurna dan kau harus bangga dengan kenyataan bahwa aku mencintaimu, Im Yoona.”

Terdengar dengusan geli milik Im Yoona. “Kau mulai membanggakan dirimu sendiri.”

“Jadi, apakah kau mau dengan rela dan tanpa beban untuk menerima lelaki sempurna ini sebagai pendamping hidupmu?”

Tepat ketika pertanyaan itu selesai ditanyakan sebuah cincin melayang menelusuri benang tipis yang mengikat jari manis Im Yoona.

Cincin sederhana dengan hiasan berlian bening di tengahnya dan itu melekat di ujung jari Im Yoona.

“Jangan menatapku, Yoong. Anggukan kepalamu dan itu berarti kau akan menikah denganku.”

Im Yoona menutup bibirnya tak percaya, separuh matanya telah berkaca-kaca dan jantungnya berdebar beberapa kali lipat lebih cepat. Matanya tak kunjung teralihkan dari cincin yang bersarang di ujung jari manisnya dan lidahnya benar-benar kelu.

“Kau tidak menganggukan kepalamu?”

Kepala Im Yoona sontak terangkat, gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya dan dengan cepat mengangguk. “Demi Tuhan, aku akan menikah denganmu, Hae!”

Lee Donghae tersenyum tipis lalu memajukan sebelah tangannya dan meraih cincin di ujung jari Im Yoona lalu dalam sekali sentakan halus, ia memasang sempurna cincin itu pada jari manis gadisnya. Dia tersenyum lebar ketika menatap cincin itu telah mengait sempurna di sana karena itu adalah pembuktian bahwa gadis cantik di depannya, sepenuhnya akan menjadi miliknya, akan bersamanya menghabiskan waktu hidupnya.

Dengan senyuman jenaka, ia memajukan tangan kirinya dan menunjukan kepada Im Yoona sebuah cincin yang masih menggantung di tengah-tengah benar merah yang mengaitkan jari manis keduanya, itu adalah cincin miliknya yang seharusnya dipasangkan oleh gadis itu. “Pasangkan untukku.”

Im Yoona dengan jari-jemari bergetar meraih cincin berukuran besar itu dan menarik tangan kiri Lee Donghae lalu ia tersenyum tipis ketika cincin yang serupa dengan miliknya telah melingkar di jari manis lelaki itu.

Dalam sekali gerakan, Lee Donghae beranjak berdiri dan memeluk tubuh mungil Im Yoona. “Maafkan aku untuk lamaran yang tidak romantis seperti ini, Yoong.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Lee Donghae. “Ini sempurna. Benar-benar sempurna.”

“Aku benar-benar mencintaimu.” Lee Donghae mencium perlahan dahi gadis itu. “Selamanya, aku akan berada di sisimu, menjagamu, melindungimu, mengerti?”

Im Yoona tertawa singkat, dia mulai kembali menangis terharu di bahu lelaki itu, “Aku juga akan selalu bersamamu agar kau bisa menjagaku dan melindungiku, mengerti?”

Lee Donghae tertawa singkat kemudian merengkuh kembali tubuh mungil itu.

“Aku sangat-sangat-sangat mencintaimu.”

END

Gimana?

Haha, ini sebetulnya sekedar iseng dan dalam waktu sehari, ini semua terjadi dengan total 13 halaman office word dan 4000+ kata, aku aja bener-bener nggak nyangka, this is the power of YoonHae, Nyaha^^

Pilihan lagunya sebenarnya acak sih dari TOP 5 iTunes-ku akhir-akhir ini dan entah karena YoonHae atau karena memang lagu-lagunya yang merasuk banget, cerita ini bisa lancar-lancar aja berjalan dalam ketikan.

Last! Comment, please?^^

Iklan

54 pemikiran pada “As Beautiful As Firework

  1. Let it rain,lagu kesukaan aku…kerLet it rain,lagu kesukaan aku…kerLet it rain,lagu kesukaan aku…kerLet it rain,lagu kesukaan aku…kereenn

  2. kata demi kata mampu terangkai dgn indah,wahai penulis berbakat..

    Kamu bisa nerbitin novel yg sangat fantastis,seperti Ilana Tan mungkin?
    Sangat.sangat suka karya Ilanta Tan

  3. always mesmerized with your writings. Indah banget. Saya bisa betah berjam-jam cm utk baca update author. Daebak! 🙂

  4. Well written! Paling suka sama cerita pertama dan terakhir hehe
    Daebak deh thoor. Di tunggu ff yoonhae yg lainnya yaaa ::)

  5. sebelumnya sy tdk pernah tertarik dengan hal-hal berbau korea, tp kyknya sy berubah pikiran. . . ini adalah blog fanfic ke tiga yg sy ikuti, blog lainnya sdh hbs sy baca. kebetulan dpt blog ini n langsung jatuh cinta dgn tulisannya. . .

    blm bs comen ttg castnya krna harus kenalan dl. . . maklum telat kenalan dgn artis korea hahay^^ (#malu hihi. . .)

    bt authornya keep writing. . . i like your write. . .
    :’)

  6. ah ga bisa koment apa2..seakan aku juga sngat2 terpesona sama cerita2 diatas tadi,,
    Begitu amazing,,apa lg yg paling terakhir…
    DAEBAK buat Author…

Satu Komentar = Satu Langkah Mendekati BIAS~♥♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s